Friday, December 30, 2011

English Please... Please English ...

Pizza Hut di pojokan Tugu Yogya tahun 1990…

(P = pelayan, F1 = friend 1 dan seterusnya …)

P (menanti pesanan)

F1 (ke teman2 yang lain) … pesan apa? Ike bilang jangan yang super supreme, dia nggak suka soalnya ada ‘pineapple’-nya

F2 Bukannya kalau ada apel-nya malah enak?

F1 Heh !!!… 'Pineapple' iku dudu apel dab … tapi nanas … (terj. iku = itu, dudu = bukan, dab=cah=bocah=teman).

F3 Wee dudu… nanas ki ‘bananas’ yo… (terj. dudu = bukan)

P (nyaris pingsan nahan pipis … mungkin sambil mbatin … mbak2-nya ini tongkrongannya model mahasiswa, tapi kok ngomongnya dodol …)

*Miss you …Nur Arini Nazief… *

Tuesday, December 20, 2011

What I hate on holiday ...

What I hate about going home for holiday is that I just tend to bump into people I know. Of course it’s not their faults; they are on their holiday too. But meeting them especially those I never keep in touch with is mostly painful. I usually don’t know what to say but smile and say ‘hi’. I don’t know how far I can go into the past, how deep I can probe into my memories. There are things to say, there are more things to hide. You just don’t know where to start and when to stop. It’s so confusing. An awkward meeting with even an awkward ending…

Saturday, December 17, 2011

I am upset ...

Yes, I am upset.

I don't check my facebook every day. Not often, honestly...
But for those who check their facebook in daily basis (read: my friends), I want to ask you something? What is the facebook for? How can you miss a very important information??????

At this point I just want to scream: "Why me? Why it's always me who have the burden of taking all responsibilities????"

I am way away from all of you... that information is important for YOU!!! Not for me ... personally. Why is it ignored? If you don't want to do the work, you can always tell me about it (you know how to reach me). But don't let the information unread ...

Thursday, December 15, 2011

Malaikat memeluk mereka

Melihat anak-anakku tidur membuatku percaya kalau malaikat itu ada
Wajah-wajah damai dengan mata kecil yang terpejam.
Senyum tipis di mulut-mulut yang mungil
Dada dan perut yang naik turun teratur perlahan
Tidak ada kerutan di wajah
Tidak ada gambaran kesedihan
Tak ada jejak kenakalan sedikitpun di kaki mereka
Tak ada jejak keisengan di tangan-tangan mereka
Tampaknya malaikat memeluk mereka dengan sayapnya
Dan membisikkan perlahan kidung damai dan tenang

Good night kids, sleep tight…
See you tomorrow morning…
I love you…

Tuesday, December 13, 2011

Stupid Question

Kadang aku dan Igor pulang pada saat yang sama dan lewat jalan yang sama. Hanya di satu pertigaan Igor akan berbelok sedang aku akan jalan terus (ctt. kami naik sepeda motor). Sebelumnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkan Igor setiap kali dia belok dan aku selalu menjawab, ‘Yoooookkkk….’
Sampai suatu hari aku menangkap bahwa yang diucapkan Igor adalah, ‘Aku belok sini ya?’
Yang kujawab dengan anggukan dan kata yang sama, ‘Yooookkkk…’
Setelah beberapa kali mendapat pertanyaan yang sama setiap kali Igor akan belok, suatu hari ketika kami pulang pada saat yang sama, pertanyaan Igor, ‘Aku belok sini ya?’ kujawab dengan keras, ‘NGGAK BOLEH!!!.’
Jawabanku yang keras dan beda ini mungkin membuat Igor kaget karena dia akhirnya tidak jadi belok dan dia melihatku yang nyengir lebar dengan pandangan jengkel…. Hehehehehe…
Ya… maaf …

Monday, December 12, 2011

Hi... I am in Semarang ...

Now I am in Semarang, only for a couple of weeks. I am doing my fieldwork and having my Christmas break at the same time.

It's always nice to be at "home" with the people you know for yeaaarrrssss... but just like usual, I feel a bit estranged, a bit alienated...

Once I wrote...

"For people who go... things they left behind stay the same..."

And it's not always nice to experience changes when you are not part of it.

People talk about Shaun the Sheep (?) ... I don't have any idea about while I talk about Terra Nova, something they don't have any idea about.

People sing some 'Ayu Ting Ting' ... I don't know about ... when I talk about some summer concert they don't understand...

But above all... the worst thing is I have to meet people and to talk to them a lot. I don't really have time to write posts anymore, I am much too exhausted in the end of the day ...

Wednesday, December 7, 2011

Dollar dan Jiwa

Aku, perempuan dengan dollar digenggamanku
Aku bisa membeli apa yang aku mau
Sepatu Manolo Blahnik
Jaket Marc Jacobs
Scarf Hermes
Jeans Calvin Klein
Dompet Christian Dior
Parfum Channel No. 5

Tapi aku tak bisa membeli kembali jiwaku
Yang kugadaikan ke setan-setan kenikmatan
Aku tak bisa membeli lagi hidupku
Yang terlempar ke hiruk pikuk kesenangan
Aku tak bisa membeli ketulusan
Yang sudah kuhanyutkan dalam banjir pujian
Aku tak bisa membeli kerja keras
Yang terlanjur jatuh dalam hangat pelukan malas
Aku tak bisa membeli pengetahuan
Yang terbuang ke sampah ketidakpedulian

Aku hilang dalam kekosongan…

Sunday, December 4, 2011

Penyedia Jasa Bunuh Diri

Posting ini rate-nya “R” (restricted) karena berunsur “strong violence”, recommended for mature readers only. #serius

Jaman sekarang emang jaman yang berat untuk anak muda ya? Tuntutan sekolah, kerja, hidup yang luar biasa sejak kecil membuat banyak anak muda jadi “capai dengan hidup.” Akibatnya putus cinta bisa menjadi alasan yang tepat untuk mengakhiri hidup dengan cepat.
Mendengar dan membaca soal teman-teman yang sedikit-sedikit putus asa dan ingin mengakhiri hidup membuatku “capai.” Hasilnya adalah ketika mendengar ada yang berputus asa dan ingin mengakhiri hidup, bukannya simpati dan mencegahnya, aku bersama seorang temanku tersayang yang sama gilanya malah berencana untuk mendirikan perusahaan penyedia jasa bunuh diri.

Step 1
Membuat brosur tentang cara-cara bunuh diri dan resikonya. Contoh:

1. Bunuh diri dengan minum obat pembasmi serangga. Resiko: kalau perut menolak menerima racun itu, ada kemungkinan muntah-muntah. Jadi bukannya mati tapi malah jadi “dirty” and “disgusting” kena muntah.
2. Bunuh diri dengan meloncat dari tempat tinggi. Resiko: matinya jelek. Belum lagi kalau gagal mati malah sakit semua karena patah tulang.
3. Bunuh diri dengan memotong nadi. Resiko: kalau pisau/silet-nya tumpul. Kalau nggak jadi mati malah jadi infeksi.

Yah begitulah kira-kira isinya. Brosur tersebut akan diilustrasi dengan menarik dan artistic. Pokoknya sekalipun banyak dead bodies di sana, tidak terkesan gore.

Step 2
Mengiklankan jasa pelayanan tersebut lewat media massa dengan slogan: “We serve you tilll you die.” Dengan jaminan “Anda tak puas uang kembali.” Tapi tentu saja kami akan “memastikan” bahwa klien kami “puas.”

Step 3
Menyediakan jasa supporter. Iyalah perusahaan penyedia jasa yang baik kan harus bisa menjamin kalau kliennya sukses dan puas dengan layanan yang ada. Jadi para supporter ini perlu adanya untuk menyemangati klien. Ada beberapa bentuk layanan supporter. Contoh:

1. Supporter yang garang bak supporter bola yang akan meneriakkan yel-yel semangat pada klien
2. Supporter yang berupa sekelompok pemusik yang akan menyanyikan lagu-lagu sedih nan merdu untuk klien

Step 4
Additonal service. Kami akan menyediakan juga bunga-bunga atau salju buatan atau dry ice untuk memperkuat efek yang ada.

Karena pekerjaan ini beresiko tinggi (terutama soal biaya) maka pembayaran penuh selalu akan kami minta dimuka. Harus sudah lunas dulu sebelum pelayanan diberikan. Kami juga membuat kontrak yang isinya adalah klien tidak boleh menuntut kami jika ternyata after life tidak sesuai atau tidak seindah yang dibayangkan sebelumnya.

Sekian.
*what a good laugh we had terutama pada bagian supporter. Kami bahkan sempat mengarang lagu yang untuk mengiringi.
*Aku tidak mengingkari bahwa memang ada faktor-faktor pemicu bunuh diri (dan mungkin memang hal itu pilihan terakhir.

Friday, December 2, 2011

Happy Return of the Day, Kid

Message received:

****1
22/11/2011
13:21

Madam, aku mau ulang taun.. Aku pengin gitarnya pak d**** d********.. Doakan aku bisa purchase gitar dia..
Siaaap…


Mungkin kamu tidak bermaksud mengingatkan aku bahwa kamu sebentar lagi ulang tahun tapi waktu aku menerima pesan itu, aku sempat panik. “Hoaaaa… tanggal berapa ya sekarang. Tanggal berapa ya??? Duh …duh…duh… ultahnya kapan y?.. .” Setelah nafas tertunda sepersekian detik sambil menunggu otak me-recall tanggal hari itu, aku mulai bernafas lega dan bisa me-reply:

Message sent

To:
****1

Ya utk 2 hal: 1. ya thanks diingatkan kl km bentar lagi ultah… :p … , 2. Ya. Ak doakan km bisa beli gitarnya p d****… …


Aku bukan teman yang baik. Aku tidak tahu kamu suka makan apa (mie instant ding… :p), aku tidak tahu kamu suka minum apa (bir?), aku tidak tahu kamu suka warna apa (?), aku tidak tahu buku, musik, film favoritmu apa (?), aku tidak tahu kamu suka jalan-jalan kemana (mall?, pantai?, kebun binatang?), dan banyak hal lain lagi yang aku merasa aku tidak perlu tahu (jadi aku tidak tahu…). Aku juga nggak sering “keep in touch” karena pikiran ini (mungkin) penuh dengan hal-hal lain. Those facts make me a verrryyy loousssyy friend ya??

All in all, aku cuma bisa bilang, “Aku mungkin lupa tanggal berapa kamu lahir, but trust me, aku tidak akan mungkin pernah lupa bahwa kamu temanku.”

Happy Return of the Day, Kid
May God Bless You

2 Desember 2011

Wednesday, November 30, 2011

Pilek

Ini cerita sangat pendek soal igor dan pilek. Karena gaya hidupnya yang habis-habisan, dia rentan sama sakit flu. Pilek terutama dan batuk, tenggorokan kering, panas… ya gitu deh… Persis seperti anak balita. Kalau lagi sehat, munyer wae (bergerak terus); kalau sakit, bruk… gitu, terkapar berat… . Sehat sedikit, udah mulai deh… main lagi sampe habis.

Suatu hari setelah dia sakit dan ‘main’ ke kantorku, dia bilang dengan bangga, “Madam, aku sudah nggak pilek lagi… … … SRROOOTTTTT… hehehe.”

*aku jadi ingat episode ini krn tampaknya aku dan teman di sebelahku persis terserang flu mendadak gara-gara cuaca yg gak jelas gini... dan kami berlomba menghabiskan tissue... srooottt ...

Wednesday, November 23, 2011

Mereka membuatku tetap "waras"

Kadang aku meragukan keputusanku sendiri untuk "keep my children with me." Sebagai mahasiswa sekaligus sebagai ibu dua anak yang tinggal di negara yang jauh dari tempat suami dan sanak saudara, juga di negara yang tidak memungkinkan aku punya pembantu, aku harus berjuang untuk membagi waktu, tubuh, pikiran, dan hati.

Secara fisik, cukup melelahkan sekalipun aku sudah berusaha untuk keep everything to minimum standard. Bangun pagi kadang dengan mata masih setengah tertutup, do the dishes, cook breakfast, prepare lunch boxes for my kids, help my youngest to ready himself to school, walk my youngest to school, go to the uni, pick up the kids from school, cook for their after school meal, back to work, cook dinner. Itu kegiatan rutinku sehari-hari. Cleaning the house and doing laundry, aku lakukan hanya satu minggu sekali.

Secara emosional juga kadang "draining". Ketika butuh konsentrasi untuk menulis thesis, anak-anak "argue" dan berakhir dengan pecahnya tangis yang kecil atau jeritan yang kecil rasanya langsung tumbuh 2 tanduk di kepala. Atau ketika melihat rumah yang tadinya sudah "lumayan" rapi, jadi seperti kapal pecah lagi dalam hitungan jam, rasanya jadi putus asa. Atau ketika harus argue dengan anakku yang besar yang memang hobi untuk berdebat dengan aku. Duhhhh ... :( ...

Secara finansial, hidup dengan anak-anak adalah tantangan tersendiri. Terbiasa dengan dua beasiswa ketika Goen masih di sini (di Perth), ketika Goen selesai, aku harus bertahan dengan satu beasiswa dan tabungan yang aku punya. Tidak mudah, cukup mendebarkan, apalagi aku tidak bekerja part-time seperti yang dilakukan beberapa teman. Sepanjang aku masih bisa hidup dengan beasiswa, aku berusaha untuk hidup dengan uang yang ada karena secara kasarnya kan aku datang di UWA untuk belajar jadi itu harus jadi prioritas utama. Itu pendapatku.

TAPI ...

Sekalipun aku harus menghadapi semua tantangan di atas, satu hal yang aku tahu: Anak-anakku lah yang membuat aku sampai saat ini tetap "WARAS".... hehehehe...

Betul kata orang-orang: Doing Ph.D is a long and lonely journey. Iya lah, kami bekerja dengan materi yang berbeda satu sama yang lain, dengan tahapan dan proses yang berbeda-beda. Hanya satu yang sama: pressure yang sama untuk bisa menyelesaikan studi kami dengan baik.

Berdasarkan pengamatan (ngawur) terhadap para Ph.D yang satu ruangan denganku,tidak seorang pun yang datang di pagi hari dengan wajah cerah ceria; semua datang dengan muka serius. Percakapan rutin pagi hari adalah, "Hi", "Good morning" atau bahkan tanpa kata hanya mengangguk atau bahkan kadang tanpa sapaan dan anggukan, disusul dengan mengeluarkan laptop, mencolokkan laptop ke switch, memakai headphone ... dan tenggelam ke pekerjaan masing-masing. (begitu kira-kira). Hari akan diakhiri dengan "Good bye" dan "see you" atau tanpa kata.

Kalau pada akhirnya kebutuhan untuk berkomunikasi satu sama lain muncul, ngopi bersama atau makan siang bersama menjadi kegiatan yang dipilih. Ini juga jadi tantangan tersendiri (selain tentu aja menyesuaikan waktu satu-sama lain). Tantangannya adalah 1. ketika ngopi atau makan siang bersama teman yang sama-sama depresi karena lagi "hit the wall" dalam penulisan thesis, aku tidak bisa curhat karena tidak tega membebani orang yang sudah berbeban atau kadang aku jadi tambah depresi juga. 2. ketika ngopi atau makan siang sama teman yang pekerjaan (sedang) lancaaaaarrr, jadi deg2an dan panik karena penulisan masih nggak jelas. either... or ... pilihannya pahit ... ;p

Nahhhh... inilah kenapa anak jadi penting (karena Goen tidak ada). Merekalah yang membuatku merasa bisa "pulang ke rumah" ketika hidupku sudah terbeban dengan thesis. Merekalah yang menyelamatkanku dari hidup yang hanya dipenuhi buku-buku-buku-teks-teks-teks. Mereka yang membuatku bisa menapakkan diri menjadi "manusia yang wajar."

Manusia yang butuh makan ketika mereka bilang, "Mom, I am hungry. What will you cook for dinner?" (aku cenderung tidak doyan makan kalau under pressure).

Manusia yang butuh refreshing ketika mereka bilang, "Can we go to the playground this weekend? The weather is nice."

Manusia yang butuh bersosialisasi ketika mereka bilang, "Can my friend come over to our house?"

Manusia yang tidak sempurna ketika mereka bilang, "Oyyy mom... just sit and do your work. Don't worry about it now. It will be ok." (aku py kecenderungan panik kalau punya masalah).

Manusia yang merasa berguna ketika mereka bilang, "Thank you for doing that for me mom."

Manusia yang merasa dicintai ketika mereka bilang, "I love you mom." atau "Have a lovely day mom."

HAAAHHH!!! I feel I am lucky to have them with me here (at least that's what I think at this moment... hehehehehehe...).

Monday, November 21, 2011

IP (Indeks Prestasi) = 2

‘MATI AKU!!… IP-ku 2 koma,’ teriak kakak kelasku.

Aku yang ada disebelahnya jadi bingung…

‘Kenapa mas? Lumayan to… 2 koma luwih,’ komentarku. (terj. luwih = lebih)

‘Lha iya… biasane aku PERSAKOM (Persatuan satu koma), makane aku ngaku ning bapakku nek IP paling dhuwur ki 2. Saiki IP-ku 2 koma… piye iki???’ jawabnya. (terj. 'Lha iya... biasanya aku PERSAKOM, makanya aku mengaku ke bapakku kalau IP paling tinggi itu 2).

*Kejadian ini mungkin cuma bisa terjadi di waktu aku masih kuliah S1 di akhir tahun 80an dan awal 1990an… waktu pendidikan di Universitas masih menjadi barang yang langka dan orang tua tidak terlalu paham dengan sistem penilaian di Universitas.*

Sunday, November 20, 2011

Link to the news about Bapak Frank Palmos and Battle of Surabaya

Pernah baca tulisanku di blog ini tentang Bapak Frank Palmos?

http://dream-ike.blogspot.com/2011/04/bapak-frank-palmos-dan-indonesia.html

Ini ada artikel tentang beliau di Jakarta Post, 11 November 2011:

http://www.thejakartapost.com/news/2011/11/10/frank-palmos-from-ragamuffins-revolutionaries.html

Bapak Frank Palmos membuat aku sadar bahwa aku harus lebih menghargai bangsaku sendiri.

Friday, November 18, 2011

Untukmu, Untukku, Untuk kita yang sedang berjuang

Seorang teman mengirimku text,"Am I pushing myself too hard?"
Aku menjawabnya,"U never know the limit if you never try to push it."

Kata "gagal" hampir tidak pernah mampir dalam kamus hidupku. Bukan berarti aku nggak pernah gagal cuma aku berusaha untuk tidak mengartikannya sebagai "the end of the world." Aku sering merasa panik, putus asa, menangis, mengasihani diri sendiri, menuduh diri sendiri "goblok" dan "bego", merasa dunia sudah gelap gulita dan "no way out" terpampang di di depan mataku kalau ada masalah atau kegagalan menimpaku. Aku sering merasa bahwa orang-orang akan menertawakan kegagalanku karena aku merasa tidak semua orang suka kalau aku "sukses". Tapi biasanya setelah aku bisa menenangkan diri sendiri, ketika aku sudah bisa berpikir jernih, yang ada di pikiranku cuma satu, "I have to stand tall and fight back. click ... click ... click ... Escape plan A, escape plan B, escape plan C ... ." Aku harus membuktikan pada diri sendiri, bukan pada orang lain, bahwa aku bisa bangkit dan menjadi lebih baik.

Apakah itu menjadikan aku seorang yang ambisius? Aku pikir tidak. Aku adalah orang yang biasa-biasa saja. Tidak terlalu pinter, tidak terlalu ambisius, tidak terlalu ngoyo (push my luck too hard). Tapi aku adalah orang yang kalau aku boleh memuji diri sendiri: tidak takut pada tantangan dan orang yang punya "mimpi".

Aku percaya bahwa dalam hidup ini orang harus punya "mimpi", tanpa "mimpi" itu orang tidak akan pernah bisa maju ke depan, tidak pernah akan berkembang. "Mimpi" itu bisa menjadi target hidup. Mimpi yang aku maksud di sini bukan mimpi yang ngawur seperti mimpi dapat lotere bermilyar-milyar atau mimpi jadi dinosaurus ya. Mimpi di sini maksudnya sesuatu yang masuk akal. Ketika aku punya "mimpi", aku akan berusaha untuk meraihnya sampai berdarah-darah sekali pun.

Waktu mencari beasiswa S2 dan S3 dulu, semua jalur aku jalani. Aku cari informasi sebanyak-banyaknya. Dan itu tidak mudah karena ketika aku mencari beasiswa S2 dulu, internet tidak seperti sekarang. Semua masih manual: surat menyurat, kirim mengirim dokumen dan booklet via pos ke luar negeri yang bisa bikin kantong jebol, dan mengasah patience karena nunggu kabarnya lama amiiittt. Dan beberapa kali hanya mendapat balasan selembar kertas dengan inti tulisan "Anda belum beruntung." Begitu juga waktu mencari beasiswa S3. Dari kegagalan-kegagalan itu, aku belajar untuk memperbaiki "track record" (curriculum vitae) yang aku punya. Aku berusaha untuk fokus dan mempunyai "interest" yang aku suka tapi sekaligus berbeda dengan orang lain.

Untuk memperbaiki "track record" ini juga tidak gampang. Dalam pekerjaanku, aku harus banyak melakukan penelitian supaya bisa lebih "memahami" dan "mengakrabi" bidangku. Penelitian membutuhkan biaya. Jadi aku harus mencari dana untuk penelitian. Salah satunya adalah membuat proposal penelitian dan mengirimkannya ke pemberi dana yang menawarkan "grant penelitian". Aku pernah mengirimkan proposal ke salah satu pemberi dana sampai 4 kali (dengan perbaikan-perbaikan terus setiap tahunnya)yang sampai sekarang juga tidak tembus. Tapi ada yang setelah diperbaiki berdasarkan masukan reviewer di tahun sebelumnya, pada akhirnya dapat dana. I will never know how to be better if I never fail.

Jadi teman, berusahalah semaksimal mungkin, jangan takut untuk gagal. Karena kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kita bisa mengembangkan diri kita. Kalau kita tidak pernah gagal, kita tidak akan bisa menjadi lebih baik.

Friday, November 11, 2011

Bibir bisu

Aku bertemu denganmu malam itu
Dalam suatu pesta yang … entah siapa yang mengundang kita
Aku berdiri di depan meja persegi dengan taplak putih
Di atasnya ada piring-piring perak untuk hidangan
Di salah satu piring itu ada escargot dengan taburan brokoli hijau di atasnya
Kau berdiri dihadapanku
Hanya ada kita berdua di depan meja itu
Pelayan berseragam putih dengan topi koki di kepalanya yang tadinya ada di belakang meja menghilang begitu saja
Kita tak bercakap-cakap
Tangan kita terulur ke piring berisi escargot dan brokoli hijau itu
Kita mengambil escargot yang sama , tak mempedulikan dua yang lain
Aku memegang satu ujung escargot, kau memegang ujung yang lain
Memasukkan ujung yang aku pegang itu ke mulutku, aku melihatmu memasukkan ujung yang lain ke mulutmu
Mata dinginku menangkap ekspressi datar di wajahmu
Kepala kita mendekat dan bibir kita bertemu
Lembut dan hangat … aneh dan lucu rasanya bercampur escargot dan brokoli hijau
Tak ada kata yang terucap dari bibir kita
Bibir yang bertemu dalam mimpi malam itu …

Saturday, November 5, 2011

Sekotak sushi, sekaleng Heineken, seloyang pizza, dan sebuah janji

“Mbak … eh … mbak. Mau ini nggak? Enak lho…. Ayo ambil satu… dua boleh juga … semua juga boleh… buat mbaknya.”

Sekotak sushi disodorkan di depan mukaku. Aku menengok melihat sosok mahluk asing yang memegang kotak sushi itu. Aku mendengar riuh tawa di belakangku. Mahluk asing itu menengok ke arah riuh tawa itu dan mengacungkan jari tengahnya. Tawa itu semakin riuh. What’s wrong with these people? Apa mereka tidak pernah diajari bahwa mereka harus menghormati orang lain? Aku tidak mengganggu mereka, kenapa aku harus mereka libatkan dalam candaan mereka? Why don’t they leave me alone?

“Eh… mbak, ini sushi. Bukan nama saya lho ya mbak. Namanya makanan ini sushi. Dari Jepang. Enak lho mbak… Ditanggung nggak beracun.”

Mahluk asing itu bicara dengan nada dibuat-buat dan merayu paksa. Aku melihat ke sekelilingku. Tak ada batu yang bisa untuk melempar mahluk aneh ini. Yang ada conblock besar-besar seperti yang kududuki saat ini yang mengangkatnya pun mungkin aku tak kuat. Aku diam tak berkata apa-apa dan tak beranjak pergi. Dari pengalaman aku tahu kalau aku beranjak pergi, mahluk seperti ini akan mengejarku dan akan tetap memaksa. Aku tidak mau menjadi aktris tontonan gratis ala sinetron seperti itu. Dari belakangku aku mulai mendengar teriakan-teriakan tidak jelas.

Mahluk aneh itu duduk di sebelahku. Aku menahan diri untuk tidak mendorongnya masuk ke air. Aku menahan diri untuk tidak memukulnya dengan tasku.

“Ya sudah kalau nggak mau. Aku makan sendiri saja sushi-nya. Tapi jangan nyesel lho ya mbak, tadi kan sudah saya tawari.”

Dia mulai makan sushinya. Aku diam saja. Aku tidak bicara dengan orang asing. Aku tidak berurusan dengan orang yang tidak aku kenal. Aku melarikan diri ke dalam pikiranku sendiri. Tawa dan teriakan di belakangku mulai lenyap. Aku sekali lagi menikmati kesunyianku.

“Ini. Coba sushinya. Nggak habis kalau aku sendiri yang makan.”

Mahluk asing itu mengatakan dengan nada yang sungguh-sungguh dan serius. Dia menyodorkan kotak sushi itu sekali lagi ke mukaku.

“Ini.”

Aku melihat ke dalam kotak sushi itu, masih ada lima potong sushi. Bukan sushi yang mahal. Sushi tuna yang potongan mentimunnya lebih besar dari daging tunanya. Gulungannya pun tak terlalu rapi. Aku lihat hanya ada sepasang sumpit yang sudah dia pakai. Aku mengulurkan tanganku mengambil satu sushi dan memakannya.

“Dua lagi untuk kamu, dua untuk aku. Sudah.”

Dalam diam aku dan mahluk asing itu makan bagian kami masing-masing seperti yang sudah dia tentukan.

“Terima kasih.”

Aku menatapnya tak mengerti. Kenapa dia berterima kasih padaku? Karena aku membantunya menghabiskan shushinya? Harusnya aku yang berterima kasih karena aku diberi sushi. Tapi aku sedang tidak ingin bicara.

“Maaf.”

Aku kembali menatapnya. Kenapa juga minta maaf? Mungkin dia merasa tidak enak karena memaksaku? Aku sudah makan sushinya jadi aku sudah tidak merasa terganggu dan tersinggung. Kenapa orang-orang sering mengatakan hal-hal yang tidak jelas? Aku tersenyum tipis dan mengangkat bahuku. Aku mengambil kotak kosong sushi dan sumpit bekas pakai itu dari tangannya. Aku melangkah menuju tempat sampah, membuang kotak sushi dan sumpit itu kedalam tempat sampah, mengangguk ke arah mahluk asing itu dan melangkah pulang.

-----

“Aku tahu kamu pasti di sini.”

Kata-kata itu membuyarkan lamunanku. Uh, mahluk minggu lalu itu datang lagi.

“Aku lagi bosen. Nggak tahu mau main kemana,” ucapnya.

Aku diam saja. Bukan urusanku dia bosan atau tidak. Aku juga bukan information centre yang punya tugas memberitahukan tempat-tempat yang layak dikunjungi. Dan tempat ini tempat umum jadi aku juga tidak bisa melarang dia datang.

Dia duduk di sebelahku.

“Heineken.”

Dia membaca tulisan di kaleng yang aku pegang. Aku meliriknya. Setidaknya dia membuktikan kalau dia tidak buta huruf.

“Bisa minta sedikit?”

Astaga. Mahluk ini sedikit tak tahu diri rupanya. Atau bodoh. Aku tidak membagi apa yang aku minum dengan orang asing. Aku meraih bagpack yang kuletakkan di sampingku, mengambil kaleng lain dan memberikan kaleng itu kepadanya. Dia menerima kaleng itu dengan diam. Aku tidak bertanya apakah menurut agamanya dia boleh minum alcohol tidak. Aku tidak berurusan dengan Tuhan dalam hal ini. Dan kukira Tuhan pun (kalau ada) tidak berurusan dengan alcohol. Aku melihatnya membuka pengunci kaleng dengan hati-hati dan meminum seteguk.

“Kamu aneh,” katanya.

Mahluk yang tak tahu terima kasih. Minta sedikit, diberi sekaleng malah mengatakan aku orang aneh. Ah. Whatever, batinku.

“Kamu tidak tanya kenapa aku pikir kamu aneh?”

Ugh! Aku nyaris tersedak minumanku. Apa lagi ini? Dia yang punya opini, kenapa aku yang harus menjawab. Apa dia pikir aku bisa telepati?

“Cewek …,” katanya perlahan, “minum bir … …”

Dia membiarkan kalimat terakhirnya menggantung. Aku menengok ke arahnya. Kali ini aku benar-benar MEMANDANG-nya. Aku marah. SANGAT MARAH! Satu lagi manusia berpikiran sempit.

CRACK!!!

Aku menghempaskan kaleng yang aku pegang ke conblock yang aku duduki. Aku meraih bagpack-ku dan mengambil kaleng lain. Aku membuka penguncinya dengan kasar dan meneguk habis isi kaleng itu tanpa berhenti. Aku mengambil satu kaleng lagi dari dalam backpack-ku. Kali ini aku sudah tidak semarah tadi. Aku membuka kaleng itu, meminum seteguk dan memegangi kaleng itu. Dia diam saja. He’s got my point. Kami menghabiskan isi kaleng kami masing-masing dalam diam sambil menyaksikan gelap merampas sisa cahaya mentari.

---

“Hai. Aku ingin tahu apa yang kamu lihat dari tempat kamu duduk ini. Mungkin beda dengan apa yang aku lihat dari tempat aku biasa duduk.”

Dia mengucapkan kalimat panjang-panjang itu sambil menengadah ke arahku dan menepuk-nepuk conblock yang berjarak sekitar 40 atau 50 cm dari tempatnya duduk. Dia duduk di tempatku biasa duduk. Aku tersenyum bingung. Aku setengah berharap dia tidak akan ada di tempat ini waktu aku datang. Tapi setengahnya lagi aku berharap dia ada ketika aku datang. Waktu aku lihat dari jauh kalau dia sudah duduk di tempat aku biasa duduk, aku sempat berpikir untuk mencari tempat duduk lain dan membiarkan dia duduk sendiri. Tapi entah kenapa, aku berpikir bahwa dia memang sengaja menungguku di situ. Aku duduk di sebelahnya.

“Maaf. Minggu kemarin.”

Dia melihat ke arahku. Aku mengangkat bahuku. Aku mengangguk. Aku sudah tidak marah lagi. Lagipula aku pikir reaksiku juga sedikit berlebihan minggu lalu. Aku langsung menyimpulkan kata-katanya padahal dia sebetulnya belum mengatakan apa-apa.

“Eh, aku membawa ini.”

Dia mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak pan pizza.

“Uangku cuma cukup buat beli yang kecil.”

Dia membuka kotak itu dan menyodorkannya ke arahku. Aku mengambil satu potong. Aku menggumankan kata “terima kasih.”

“Aku lebih suka pizza daripada sushi.”

Aku mengangguk. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menanggapinya. Aku sendiri tidak punya preference lebih ke salah satu makanan itu. Pizza, ok. Sushi, fine. Pizza atau Sushi? Whatever. Yang mana saja.

“Kamu tahu topping apa yang paling aku suka?”

Aku menggeleng. Mungkin memang sudah saatnya aku mulai belajar telepati, pikirku.

“Aku suka topping yang banyak kejunya, banyak dagingnya, banyak sosisnya.”

Aku tersenyum. Orang juga tahu kalau pizza dengan banyak keju, banyak daging dan banyak sosis pasti enak. Aku tak tahu dia naif atau berusaha melucu. Aku menatap wajahnya. Ekspressi wajahnya datar saja, tanpa bermaksud melucu. Atau pura-pura? Aku tak tahu. Aku menerima kata-katanya tadi sebagai caranya mengajakku berteman.

“Kamu sering ke sini?”
“Lumayan sering,”
“Pemandangannya nggak bagus-bagus amat.”
“Ya.”

Aku tidak merasa perlu bercerita panjang lebar bahwa setiap tahun aku datang ke sini untuk meletakkan kuntum-kuntum mawar di air. Kado ulang tahun untuk seseorang yang kehilangannya kusesali tapi tak boleh aku tangisi. Seseorang yang kepergiannya membuatku mencintai kesendirian. Seseorang yang sekarang tinggal di tempat yang kata orang jauh di langit. Seseorang yang membuatku mencintai laut. Di laut, langit menyatu dengan bumi, tak terpisahkan.

“Minggu besok kamu kesini?”

Aku memandangnya. Aku melihat gagap dimatanya. Aku merasa tidak nyaman. Aku membersihkan tenggorokanku. Aku melihatnya membuang pandang ke depan.

“Eh… ada burung camar.”

Dia menunjuk ke laut di depannya.

“Tidak,” kataku, “Minggu depan aku tidak akan ke sini.”

Dia diam. Aku pun diam. Aku berharap aku bisa bicara lebih banyak. Tapi aku harus bicara apa? Aku tidak kenal dia. Namanya pun aku tak tahu. Kami baru bertemu tiga kali ini. Kebanyakan dia yang bicara.

“Kapan ke sini lagi?”
“Belum tahu.”
“Mau pergi?”
“Pindah.”
“Luar kota?”
“Mmmm…”
“Kemana?”
“Uppsala.”
“Dimana???”
“Swedia.”
“Sekolah?”
“Kuliah. Beasiswa.”
“Ambil apa?”
“Fisika.”
“Berapa lama?”
“3 tahun.”
“Kalau liburan pulang?”
“Belum tahu. Mahal.”
“Kapan berangkat?”
“Dua hari lagi.”

Dia diam. Aku tak tahu harus bicara apa.

“Kamu punya hp?”
“Ada.”
“Pinjam.”

Aku mengambil hp dari kantong jeansku dan kuberikan ke dia. Kalau pun ternyata dia tukang copet hp dan lari setelah mendapat hp-ku, aku tidak terlalu menyesalinya. Hp-ku model lama. Aku hanya butuh hp untuk berkomunikasi. Tepatnya supaya orang bisa menghubungi aku. Sebentar lagi aku pindah negara. Aku tidak membutuhkan nomor lamaku. Nothing to lose. Dia mengetik sesuatu di hp-ku dan menunjukkan apa yang dia ketik kepadaku.

“Ini namaku. Ini nomorku. Kalau suatu saat kamu pulang, kamu bisa hubungi aku. Kita ketemu lagi di sini.”

Aku tiba-tiba merasa sedih dan aku ingin pulang.

“Sudah, tidak usah sedih. Sebentar lagi kamu jalan-jalan ke luar negeri. Sana pulang dulu. Kamu harus packing, jangan sampai ada yang ketinggalan. Istirahat juga yang banyak. Jangan banyak keluyuran malam. Nanti sakit. Kalau sakit nanti nggak jadi pergi.”

Aku meringis. Mungkin dia belajar telepati. Mahluk aneh. Tak bisa kutebak.

“Dan jangan lupa membawa diri baik-baik di negeri orang. Jangan sampai mencemarkan nama bangsa dan negara.”

Dia lalu tertawa. Aku ikut tertawa. Aku berdiri dan mulai melangkah pergi. Aku berhenti ketika dia berteriak:

“Dan jangan lupa menelponku kalau kamu pulang!”

Aku mengangguk, tersenyum dan mengacungkan jempolku. Dia tersenyum.

---

Aku baru saja meletakkan kuntum-kuntum mawar di air. Aku melihat ke laut di depanku, laut Baltic. Laut yang membeku di musim dingin namun biru indah di musim panas. Laut tak lagi hanya membuatku merasa dekat dengan dia yang tinggal jauh di langit sana… Laut juga membuatku ingat pada sebuah janji.

Ini musim panas ketigaku di negara yang jauh dari rumah ini. Dan aku belum sekali pun pulang. Tahun ini pun aku tak akan pulang. Tapi aku masih ingat janji itu, janji yang tak pernah kuucapkan tapi kuingat. Dia mungkin sudah lupa kalau dia pernah membuatku punya janji seperti itu. Dia mungkin bahkan sudah tak ingat lagi bahwa aku ada. Aku tak peduli. Yang aku tahu, aku punya janji untuk seorang yang kutemui tiga kali: janji untuk seorang yang menawariku sekotak sushi, janji untuk seorang yang kuberi sekaleng Heineken, dan janji untuk seorang yang membelikanku seloyang pizza …

Tack för att du är min vän – Thank you for being my friend



*Ditemani “Sekali Lagi”-nya Ipang dan “Maaf Kuharus Pergi”-nya Nine Ball.

#judul cerita ini berdasarkan obrolan ike dan danty di Twitter ... dan cerita ini dibuat atas usulan Marcelly ...

Note: Pemakaian kata ‘Heineken’ bukan untuk maksud promosi. Kata itu dipakai krn memberikan efek yang berbeda dengan pemakaian kata sekaleng bir yang terkesan seperti sekaleng minyak tanah atau sekaleng minyak goreng.

Wednesday, November 2, 2011

Ike- Danty - Tweets HORROR kami hari ini

Habis mengalami kejadian yang mbuat aku jadi takut sendiri ...

Percayakah kamu pada 'coincidence'?

Percayakah kamu bahwa jiwa dan pikiran manusia dihubungkan oleh benang-benang halus yang tak kelihatan satu sama lain?

Aku selalu tidak percaya hal-hal seperti itu.

Tapi hari ini punya cerita lain.

Aku membuka twitter-ku sore ini ...

Tiba-tiba saja... entah kenapa ... out of the blue ... aku merasa ada dorongan kuat untuk mengirim tweet ke @dantedanty ... hanya untuk sekedar menyapa ...

aku ketik

Bun... #cumapenginmanggilaja @dantedanty

Aku tweet-kan ke danty

Waktu aku melihat tweet-ku muncul di Timeline, mataku tertumbuk pada tweet yang muncul hampir bersamaan. Tiba-tiba aku merasa HORROR sendiri ...

Tweet itu bertuliskan

@48ikecool: bunny

Tweet dari Danty


Friday, October 28, 2011

Queen Elizabeth II, SBY, Temanku, dan Pak Nyoman

Tanggal 27 Oktober 2011

Jam 11.00 waktu western australia

Waktu aku melangkahkan kaki lepas tangga melingkar di samping gedung perpustakaan Reid UWA, aku melihat banyak orang berkerumun di depan gedung Fisika.

"Ugh... ada apa ya? OOOooo paling-paling "fire drill" (latihan evakuasi kalau ada kebakaran)," batinku.

Setelah sejenak berhenti dan melihat ke arah kerumunan itu, aku memutuskan untuk meneruskan langkahku ke dalam gedung perpus.

Jam 1.00 siang

Aku bertemu temanku di Cafe perpustakaan Reid.

"Aku tadi lihat ada banyak orang kumpul di depan perpus. Ternyata mereka itu menonton Duke of Edinburgh (Pangeran Philip) yang datang ke UWA. Pantasen banyak orang yang motret-motret," kata temanku.

"Wow! Aku malah nggak tahu kalau pangeran Philip datang," kataku sambil sedikit menyesal kenapa kok tadi sok tidak mau tahu dan malah pikiranku tersesat ke fire drill.

"Buat aku sih Queen itu nggak penting. Siapa juga yang mau jadi negara commonwealth. Queen kan nggak punya peran apa-apa di sini," kata temanku (yang asli orang Australia) ini lagi.

Setelah selesai ketemu temanku itu, aku duduk lagi di meja kerjaku. Tapi kata-katanya tadi terngiang-ngiang di telingaku. Aku membuat kesimpulan sendiri terhadap kata-katanya itu. Intinya temanku mau bilang kalau ada Queen Elizabeth II atau nggak ada Queen, nggak ada efeknya buat orang Australia (secara ekonomi, budaya, dan politik). Jadi temanku itu tidak merasa perlu harus menyambut atau menganggap berlebihan Queen Elizabeth II yang saat ini sedang datang di Perth untuk menghadiri CHOGM (Commonwealth Heads of Government Meeting).

Dan ...

Ingatanku melayang pada pak Nyoman, tukang kebun sebuah hotel di Nusa Dua yang menurut berita yang kubaca "nyelonong" di depan bapak SBY yang sedang menonton lomba layang-layang (?). Mungkin pak Nyoman ini mewakili kata hati orang banyak di Indonesia... dia simply tidak "melihat" bapak SBY... karena tampaknya ada bapak SBY atau tidak ada bapak SBY, tidak berpengaruh terhadap nasib pak Nyoman (dan banyak "pak/bu Nyoman" yang lain di Indonesia).

#hening

Thursday, October 27, 2011

‘Kamu Gitu Sih’ : sebuah drama pendek

*Terinspirasi REAL STATUS dan COMMENTS Danty, Inggrit, Ike, Yoedha pada FACEBOOK Danty … Jam yang tertera di situ ‘real time’ kecuali yang awal di narasi sama yang Yoedha, yang sebenarnya hari berikutnya*


[Di sebuah bar kecil di tengah kota metropolitan ‘Dark Shadow’ jam 8.30 malam, di sebelah kiri ada pintu masuk ke bar, di hampir tengah agak ke kiri ada meja bar ukuran medium dengan bangku-bangku untuk duduk, di sebelah kanan meja bar ada meja dan kursi. 4 set 1 meja 2 kursi di pinggir jendela besar dengan pemandangan jalan, 3 set 1 meja 4 kursi dan 1 set 1 meja 8 kursi. Suasana cukup ramai dengan suara dentingan gelas, obrolan, tawa, makian dari masing-masing meja. Di belakang meja bar, seorang bartender pria, YOEDHA, melayani permintaan pelanggan dibantu 1 pelayan wanita dan 1 pelayan pria. Di depan meja bar, duduk 3 perempuan membelakangi penonton. INGGRIT duduk di bangku paling kiri, agak serong ke kanan. DANTY duduk di sebelah kanan Inggrit, agak serong ke kiri. IKE duduk di sebelah kanan Danty, menghadap ke bartender. INGGRIT memegang gelas berisi Scotch Whiskey dengan tangan kiri, tangan kanan diletakkan di pangkuan sambil memegang dompet Christian Dior keluaran terbaru, memakai baju terusan hitam pendek bermerek Gucci, dan bersepatu tumit tinggi Manolo Blahnik dengan warna senada, matanya ke arah gelas. DANTY memegang gelas Brandy dengan tangan kanan, memainkan mobile phone berwarna emas keluaran Prada dengan tangan kiri, memakai jeans Calvin Klein model hipster, memakai kaos warna pink dengan brand DKNY, memakai boots Marc Jacobs, matanya ke arah gelas. IKE memegang gelas berisi Tequila dengan kedua tangan, memakai celana panjang hitam casual Chanel dengan atasan putih dengan merek sama, memakai sepatu sandal hitam Giorgio Armani dan membawa tas ransel kecil keluaran YSL, matanya ke arah gelas. Ketiga perempuan itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, tidak bercakap-cakap, tidak bersuara, tidak minum, hanya memegang dan menekuri gelas masing-masing.]



[Jam 9.34, Danty mengangkat gelasnya, meminumnya sedikit, meletakkan kembali gelas itu ke meja]

DANTY. Kamu gitu sih [lalu diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri]

[Jam 9.36, Inggrit memandang Danty, mengangkat gelas, meminum sedikit dan meletakkan kembali gelas itu. Memindahkan tangan kanan ke atas meja.]

INGGRIT. apa sich... [lalu diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri]

[Jam 10.01, Danty meminum separuh sisa brandy-nya, meletakkan gelas kembali ke meja, menghela nafas.]

DANTY. ya gitu sihhhh [lalu diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri]

[Jam 10.02, Inggrit memandang Danty dengan ekspressi datar, meminum scotch whiskey-nya.]

INGGRIT. apa sich... [lalu diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri]

[Jam 10.11, Danty meminum brandy-nya sedikit lagi, memegangi gelas dengan kedua tangan.]

DANTY. ga tau sihh [lalu diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri]

[Jam 12.27, Ike mengangkat gelasnya, meminum seluruh isinya, meletakkan kembali gelas ke meja, memegang gelas dengan kedua tangan.]

IKE. iya juga sihhh bingung ... [lalu diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri]

[Jam 2.43, Yoedha berdiri di depan Danty, kaki disilangkan, tangan yang satu di atas perut, tangan yang lain memegangi dagu.]

YOEDHA. [dengan gaya lebay…] yOEdha ga gitu dehhhhhhh ...


LAYAR DITUTUP


Ps. Aku tertarik dengan ‘flow’ status dan comment-nya, persis seperti drama absurd… dengan percakapan minimal dan jeda waktu yang panjang … bicara tanpa ada komunikasi…

Monday, October 24, 2011

Kau tuduh aku selingkuh?

Aku mengagumi Brad Pitt (dan membenci Angelina Jolie) sebelum kau menawarkan cinta padaku
Dan kau bilang dialah yang ada di pikiranku waktu aku tidur denganmu?
Yang benar saja…
Waktu aku tidur, aku tidak pernah bisa memilih siapa yang melintas di kepalaku
Entah itu Brad Pitt, dirimu, atau hantu sekalipun…

Ok?
Jadi tolong pikirkan hal-hal itu sebelum kau tuduh aku.

Friday, October 21, 2011

KAWASAKI NINJA 250R

Born naturally (kira2 begitu deh) sebagai orang yang temperamental, aggressive, boyish, rude dan mungkin sedikit anti-sosial, membuatku merasa bahwa motor ini pasti bisa memuaskan nafsuku untuk …apa ya? … naik motor….

Setiap kali aku berkhayal aku bisa naik motor ini, aku membayangkan diriku #cercalahdirikusehabishabisnyatapithisistrue … pake leather jacket, pake leather pants, pake helm yang mahal dan bagus, pake sepatu boots (??), pake sarung tangan…, pokoknya kostum yang kaya pembalap professional gitu. Bukan karena aku kegenitan …, bukan…, tapi aku sayang nyawa …

Dan VRRRRRRRROOOMMMMMMGGGRRRRMMMMM … (begitu kira2 bunyi motorku) siap melaju. Aku selalu menikmati saat-saat aku menarik gas dan mulai memacu motorku … dengan kecepatan semakin tinggi. Aku menikmati saat aku mulai mengganti gigi dari yang rendah ke yang tinggi. Click…. VRRROOMMMMMMMM … Click …. VRRRROOMMMMM … Click ……. VVRRRROOOOMMMMMMMMMMMMMM …. Aku sangat menikmati saat aku bisa melihat jalan dan motor/mobil/sepeda/becak di depanku tanpa berkedip. Jalan itu seperti jalan di video game untukku… dan semua kendaraan yang ada di jalan seperti rintangan2 yang harus aku taklukkan di video game. Aku menikmati saat aku mengedipkan mataku sebentar untuk kemudian mengganti ke gigi yang lebih rendah, menambah power, dan men-take over motor/mobil/truk/bis yang ada didepanku. Aku menikmati pemandangan yang berkelebat di sekelilingku. Saat itulah aku merasa bahwa aku bisa jadi diriku sendiri, di duniaku sendiri dan aku punya kuasa untuk mengendalikan hidup dan duniaku. Tidak boleh melakukan sedikit pun kesalahan… karena nyawa taruhannya (bukan hanya nyawaku sendiri, tapi juga nyawa orang lain).

See??? Aku serius kalau berkhayal kan???

Aku cuma bisa berkhayal karena sampai saat ini aku tidak punya Kawasaki Ninja 250R ini. Harganya mahal ya? Lagian selalu saja ada (banyak ding) orang yang akan mengatakan kalau aku nggak pantas naik motor itu, karena aku … perempuan … sedih ya? Ihikss … #jadinangissendiri … Padahal kemampuanku bawa motor (cukup) bagus… naturally (lagi) aku bisa dengan gampang beradaptasi dengan semua jenis motor. Setiap naik motor apa saja, rasanya udah langsung ‘comfortable’ gitu. Tanpa rasa takut atau apa. Dari motor bagus sampai motor bobrok aku bisa pake (eh … yg ini g ada hubungannya sm Kawasaki Ninja 250R y?). Pokoknya begitulah.

Tapi seperti kata orang, ‘Keep on dreaming… (terusannya lupa … ehe) …”, jadi aku ya keep on dreaming punya Kawasaki Ninja 250R VVRRROOOMMMMMM …


#ngiler ...

PS. Aku nggak pernah ngebut di jalan tapi kalau aku naik motor (kata orang) aku ‘agak terlalu cepat.’ Entah benar entah enggak, tapi yang jelas aku orangnya telatan (habis susah bangun pagi sih) … so upaya memperpendek jarak dan menyingkat waktu ya dengan memutar gas handle agak dalam… (hehe) …

Kenapa Kawasaki Ninja 250R? G tahu ya … Aku lebih suka membayangkan diriku berkawasaki ninja daripada berharley Davidson … buat aku motor ini seksi sekali. Ramping tapi powerful … Kalau Harley Davidson terlalu gemuk buatku… dan njebablah … g seru…

Saturday, October 15, 2011

High and Dry

Aku pernah bilang ke Igor kalau dia itu mirip anak umur 10 or 12 tahun yang terjebak di tubuh usia 23 tahun (waktu itu tahun 2008)… Dia selalu labil, kekanak-kanakan (immature) … dan sampai sekarang masih terus ber’akrobat’ dengan hidupnya… Kalau sedang suka satu hal semangatnya meletup-letup bak jagung pop-corn yang sedang dipanaskan… dan gosong (fotonya dimana ya?). Tapi tidak lama kemudian dia bosan dan sudah… semangatnya hilang.
Lagu yang menurutku cocok buat dia adalah High and Dry –nya Radiohead. Ini lagu pokoknya dia banget:

Two jumps in a week, I bet u think that’s pretty clever don’t u boy
Flying on ur motorcycle, watching all the ground beneath u drop
You’d kill urself for recognition; kill urself to never ever stop
U broke another mirror; you’re turning into something u r not

Aku pernah iseng bertanya ke dia, ‘Apa kamu tuh nggak cape’ toh… kamu tuh kok pinter bener ngehabisin waktu…’
Jawabannya santai, ‘Nggak …’
What can I do then??
Pernah dia bertanya ini ke aku, “What if you are my mother?”.
Jawabku singkat, ‘Ngendhat…mati gasik…’ (Bunuh diri… mati muda)
… yup… yup …
Melihatnya ke sana kemari itu membuatku lelah.

Ini contoh kegiatan hariannya waktu itu dengan asumsi dia bangun jam 09.00 (hasil rekaan berdasarkan observasi isengku dan cerita Igor):

09.00 melek
09.00 – 11.00 Sms or telpon ke cwe2 yang lagi dia suka, ribut mainan komputer, cari makan pagi, ke tukang pijet, siap2 ke WC, siap-siap keramas n sikat gigi (nggak mandi), ngeributin Ibu Ika (ibunya), nyuci mobil kalau habis pake hari sebelumnya, ngerjakan tugas yang harus dikumpul hari itu, nunggu (sambil bengong) motor-nya yang dipakai pak tukang
11.00 – 12.00 Keliling cari teman (kalau bisa cewek) yang bisa diajak makan siang
12.00 makan siang
13.00 ke Sedes untuk nongkrongin gadis2 muda atau ke kampus
13.00 – 16.30 Di kampus, kuliah, nyanyi ngawur, nggitar ngawur, surfing internet, ngobrol, ngopi, makan mie instant buatan pak Kasno
16.30 – 18.00 Ke Sedes untuk mengasisteni tim basket putri, or parkour di kampus, or basket di kampus
18.00 – 21.00 Jalan-jalan ke mall dengan teman sambil cari makan malam, atau nonton bioskop, atau kencan sama Karel atau Anita (yg sekarang jd pacarnya)
21.00 – 02.00 Ke tempat Flx buat main gitar or ke tempat Oq buat ngobrol, nyanyi-nyanyi dan minum or minum sama Karel…
02.00 sneaking masuk rumah via lantai dua
02.00 – 03.30 Ngirim sms iseng ke semua nomor yang dia kenal or main gitar kalau lagi kumat idenya buat mbuat lagu
03.30 tepar

Wednesday, October 12, 2011

Gini ini deh susahnya nggak tahu bahasa Jawa

Java Mall di Jumat sore.
Parkiran semi-illegal di depan Java Mall sudah sangat penuh.

Aku yang membonceng Yamaha Mio Oki lewat di depan parkiran itu. Para tukang parkir (semi-illegal) melambaikan tangan menawarkan tempat. Oki menggeleng-geleng dan terus berkendara pelan-pelan menuju parkir legal Java Mall.

“Mas, tulung mas, mandeg,” teriak seorang tukang parkir sambil berusaha mencegat motor Oki. (terj. Mas, tolong mas, berhenti).

Oki menggelengkan kepala sambil terus pelan-pelan menembus macet.

“MAS!!! Mbak-e iki kunci Mio-ne ilang. Nyilih kuncine. Yak’e padha. MAS!” teriak tukang parkir itu lebih keras sambil agak mengejar motor kami yang agak menjauh. (terj. Mas!!! Kunci Mio mbak-nya ini hilang. Pinjam kuncinya. Siapa tahu sama. Mas!).

Aku melihat dua perempuan dan satu tukang parkir lagi kebingungan di depan sebuah Mio merah. Aku mencolek Oki dari belakang. Namun Oki tetap menggeleng kepala dan melaju terus.

“WO… DIJALUKI TULUNG WAE KOK RAK GELEM!!!,” teriak tukang parkir sambil setengah mengumpat dan berekspressi marah. (terj. Wo… dimintai tolong aja kok nggak mau).

Aku yang duduk di belakang hanya bisa memasang ekspressi sepolos mungkin dan berusaha memaksakan sekilas senyum minta maaf ke tukang parkir itu.

Setelah selesai memarkir motor dan berjalan menuju pintu masuk Java Mall, aku bertanya ke Oki, “Mas-nya tadi minta tolong, kok kamu nggak berhenti?”

Oki menjawab dengan tegas, “Dia minta aku parkir di depan Mall. Aku nggak mau. Nggak aman.”

Aku seketika terdiam. Oki adalah anak kelahiran Jakarta, besar di Jakarta, berbahasa ibu Bahasa Indonesia, tinggal di lingkungan berbahasa Indonesia, selama di kuliah di Sastra tidak pernah aku dengar dia pakai bahasa Jawa (bahkan waktu mengumpatpun bahasanya Jakarta sekali).

‘Ngggggggggg ….,’ batinku, ‘Gini ini deh susahnya kalau nggak tahu bahasa Jawa.’

Saturday, October 8, 2011

You and I

Nay!
We’re not lovers
We’re not sweethearts
Yet
We like the same song
‘When I first kissed you, that’s when I knew, I was in love.’

Nope!
We never kissed
We never fell in love
Still
We believe that love should be done not said
‘More than words is all you have to do to make it real.’

Yup!
I’m gonna miss you
Yeah!
I hope to see you again

Wednesday, October 5, 2011

Teroris perempuan ...

Senin pagi …

‘Terorise ana sing wedhok,’ Goen berkomentar dengan suara cukup keras untuk kudengar. Dia sedang membaca berita tentang teroris di Kompas.com. (terj. 'terorisnya ada yang perempuan').

‘Sure…pancen ana sing wedhok…,’ jawabku tanpa berpikir panjang sambil berlari membawa buku ke toilet untuk menunaikan ‘nature’s call’. (terj. 'pasti, memang ada yang perempuan').

Sambil duduk di toilet, aku meletakkan buku di pangkuanku dan mengingat jawabanku ke Goen tentang teroris perempuan. I wonder, kenapa aku menjawab dengan nada ‘sok tahu’ seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang semua orang sudah tahu dan Goen is the only one who is blind to that fact.

Aku jadi ingat dalam suatu diskusi PSW/PSG tentang 12 area kritis perempuan, salah satunya adalah tentang perempuan (dan anak) dalam perang. Dalam salah satu sharing, ada yang bercerita kalau meskipun perempuan dianggap ‘vulnerable’ dan dilindungi dalam perang, ada perempuan yang menjadi kurir pengirim berita ke daerah lawan atau ‘observer’ di daerah lawan ketika perang karena mereka adalah ‘the least suspected ones.’ Aku juga ingat cerita bu dhe-ku yang ketika perang kemerdekaan dijadikan kurir dari satu pos pejuang ke pos yang lain karena dia adalah anak perempuan kecil, anak desa lokal yang tidak akan menimbulkan kecurigaan ketika mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain di desa itu.

Komentar Goen tentang teroris perempuan membuatku berpikir tentang beberapa hal,
1. perempuan ternyata masih juga stereotypically dianggap tidak ‘capable of doing things in war’ (terorisme dan ‘perjuangan’-nya adalah ‘perang’ juga dalam arti lain).

2. Bahwa ‘perang’ adalah hal ‘masculine’ sehingga perempuan seharusnya tidak ada di dalamnya.

3. Apa perempuan-perempuan yang terlibat dalam ‘perang’ itu ‘dipaksa’, ‘terpaksa’, atau ‘dengan kesadaran penuh’ terlibat dalam ‘perjuangan’ itu. Kalau ‘dipaksa’ berarti perempuan sekali lagi menjadi korban dan dikorbankan (‘is a victim and victimized’); kalau ‘terpaksa’ berarti dia diposisikan untuk tidak punya pilihan lain (‘no other choice’) sehingga meskipun dia setuju untuk terlibat/melibatkan diri dalam ‘perjuangan’ itu, dia lebih melihatnya sebagai ‘kewajiban’ sama seperti ketika dia melakukan tugas-tugas domestiknya atau ketika dia harus ‘bertanggung jawab’ to take care of her children; kalau dengan kesadaran penuh? Berarti itu memang pilihan dan anggapan bahwa perang adalah ‘masculine’ dan medan perang adalah daerah laki-laki harus dipikirkan ulang.

4. No wonder kalau laki-laki selalu menjadi the first ones who claim for the prize ketika ‘menang perang’, lha perempuan sudah sejak awal dianggap ‘not part of the game’ ketika berhubungan dengan ‘perebutan kekuasaan’. Perang disini menjadi lebar artinya ketika aku hubungkan dengan ekonomi, politik dan pemerintahan.

Pikiran-pikiran itu terhenti ketika Yogis mengetuk pintu dan bertanya, ‘Mom, are you okaaayyyy???’

Wow… aku sudah terlalu lama ‘menguasai’ toilet ternyata…

Monday, October 3, 2011

Untukmu, hari ini

Lama aku tidak menulis untukmu ...
Kau mungkin berpikir bahwa aku lupa ...

bukan, bukan itu alasannya ...
I surgically cut you off my line ...

Marah?

Kau tidak pernah berpikir bahwa aku marah padamu kan? ...
Karena aku memang tidak marah padamu...

Ngambeg?

Kau tahu aku tidak pernah ngambeg karena urusan hati ...
Lagi pula aku juga sedang tidak ngambeg ...

Kecewa?

Kau pasti bingung mencari alasan kenapa aku kecewa ...
Percuma mencari alasan itu, aku tidak sedang kecewa ...

Entahlah ...
aku sedang nyaman di duniaku sendiri ...
aku sedang menikmati kesendirianku ...
aku sekedar tak ingin menyapamu ...
Aku sekedar tak ingin menegurmu ...

Kejam?

Dari dulu pun kau berpikir bahwa aku tak bisa dimengerti ...
Dan kini pun aku tak ingin untuk kau pahami ...

Aku cuma mau mengutip lirik lagu Brian May: "TOO MUCH LOVE WILL KILL YOU"
Maksudku adalah kau hidup dikelilingi banyak orang yang mencintaimu (no matter how f***ingmotherf***er you are), jadi kehilangan satu cinta dariku mungkin akan menyelamatkan hidupmu ...

mungkin ...
semoga ...

Friday, September 30, 2011

Nama 'keren'ku di Facebook: 'Angelika Riyandari'

Hampir semua orang sekarang punya account Facebook, dari anak yang tangannya masih belum gaduk kuping sampe ke nenek/kakek tuwek. Ditengah-tengah dua golongan di atas, kebanyakan pemilik account Facebook adalah anak-anak muda. Nah… anak2 muda plus para tua yang berjiwa muda sering memakai nama Facebook yang aneh bin ajaib… dan hobi pulak untuk menganti-ganti namanya di Facebook.

Mungkin nama yang dipakai di Facebook adalah nama idaman, hasrat terpendam dalam diri yang memang sudah meloncat-loncat ingin disalurkan atau mungkin sekedar upaya protes (balas dendam?) terhadap otoritas orang tuanya. Maklumlah ketika nama asli mereka (juga kita) dicoret-coretkan terus diketik manual maupun dengan computer di akta kelahiran, pilihan nama itu merupakan prerogative orang tua… mereka/kita (sebenarnya sudah punya hak) tapi belum bisa menyuarakan protes itu karena mereka/kita belum bisa berbicara. Ya mungkin memang ada baiknya seperti itu setidaknya para pencatat kelahiran tidak akan pernah didatangi oleh demonstran di bawah umur a.ka bayi dan dituntut karena melanggar hak berpendapat.

Aku tidak pernah keberatan dengan nama yang diganti-ganti, tapi kadang menjadi jengah sendiri kalau pas membuka account facebook tiba-tiba muncul nama “kelincilucuberjambulmerahmuda” or “pendekarbercelanadalamtigawarna” … aduuhhhh… nama-nama tak dikenal yang muncul ini pernah membuatku berpikir “Seberapa sering sebenarnya aku mabuk berat sampai aku tidak mengenali lagi nama-nama yang aku confirm?”

Baik apa pun yang terjadi, apa pun nama yang tertulis di situ, aku tidak akan pernah menelan ludah yang sudah aku “cuuuiiiihhhh”-kan. Aku tak pernah men-delete orang yang sudah aku confirm. Aku menyayangi mereka apa adanya dengan nama ajaibnya sekalipun (menurutku).

Namun ternyata efek dari nama-nama ajaib Facebook ini menimpakan kegalauan pada diriku. Begini cerita kegalauanku:

Ketika aku bertemu dengan beberapa teman baru di Australia. Salah satu teman mencatat namaku di mobilephone-nya (muup, di Ostrali tidak ada HP, adanya mobilephone… #cekikik). Dia bertanya nomorku dan namaku. Aku jawab kalau namaku “Ike” dan nomor telponku adalah 0430xxxxxx.

Dia lalu bertanya, “Punya account FB?”

Yang aku jawab dengan, “Ada.”

Lalu aku tambahkan, “Cari saja Angelika Riyandari. Nanti kan ketemu. Soalnya foto profilenya foto “brambang” (onion) jadi nggak jelas.”

Teman itu lalu tertawa tertahan dan berkata, “Wah… kalau di Facebook, namanya diganti. Jadi lebih keren…

Dia memandangku dengan penuh pengertian disertai senyum penuh arti.

“Enggak ganti kok bu, itu nama asli saya,” jawabku merendah sambil dalam hati sebenarnya tertekan (untuk misuh).

Salahkah aku karena orang tuaku memberiku nama yang “keren”? #galauer

(ctt. Kata “galau” adalah kata yang sedang naik daun di paruh akhir tahun 2011 ini, jadi aku berusaha untuk menempatkan kata itu kapan pun aku membuat tulisan. Tak peduli pas atau tidak dengan konteks. :p supaya kelihatan gahul. Begitu).

Friday, September 23, 2011

It's funny 2 see u grow old...

Hey you over there
It’s funny to see you grow old
While I don’t feel like I am growing old
I stay young, you know

I see you there
Inside your posh car
The mark of success career
But friend, you’re truly growing old

People say that you will only see what you want to see
In a way that’s true, very true …
I see only what I want to see
The younger version of me

I don’t care whether I am wrong or right
It’s just so funny to see you growing old
While I stay the same.

Tuesday, September 20, 2011

Anton dan tidurku

Nggak tahu kenapa, manusia yang namanya Antonius Aditia Maharjuni tuh emang suka sirik sama aku. (Padahal aku sayang sama dia lho… ;p).

Salah satunya waktu aku yang sudah sangat sangat lelah (tapi masih harus mengajar sorenya) memutuskan untuk berbaring dan memejamkan mata sebentar di lantai kantorku beralaskan jaket dan berbantal tas ranselku. Aku sebelumnya sempat bilang ke Anton kalau aku ngantuk dan mau tidur sebentar dan dia tampaknya bisa mengerti keinginanku karena kemudian aku lihat dia keluar dari ruangku dan sepertinya menghargai keinginanku untuk tidak diganggu.

Aku baru saja memejamkan mata dan sudah nyaris terlelap ketika tiba-tiba ada orang yang mengguncang-guncangkan badanku, berusaha membangunkanku dan bilang,

‘Mbok…mbok … jarene arep turu? Mbokkkk… mbokkk… jare arep turu!’


Aku membuka mataku dengan berat dan melihat Anton jongkok di sebelahku.

Dengan susah payah aku membuat diriku sadar, menyingkirkan jaket dan tas ranselku sambil berdiri dan berkata,

‘A**!’

dan pergi meninggalkan Anton yang wajahnya bersinar bahagia.

Ps. A** = binatang berkaki empat yang biasa dijadikan kata untuk memaki dalam bahasa Jawa. Aku jarang sekali memaki apalagi menggunakan kata ini kecuali kalau aku sudah sangat marah.

Saturday, September 17, 2011

Dan akhirnya ...

"Ayo pulang."
"Sebentar, pekerjaanku belum selesai."

"Kamu dimana? Aku masih menunggumu di sini."
"Sebentar, tinggal sedikit. Kalau sudah selesai, aku akan ke sana."

"Jadi nonton kan?"
"Ehhmmm... kalau lain kali aja gimana? Pekerjaanku masih banyak."

"Ngopi yuk."
"Nggggg... aku capai, besok harus bangun pagi. Pekerjaanku belum selesai. Jangan sekarang ya?"

Aku bertemu denganmu setelah aku terlanjur mengawini pekerjaanku. My top priority is my work. Seperti kencan dengan kekasih gelap, seribu satu alasan kuberikan kepadamu karena aku tak ingin meninggalkan cinta pertamaku itu.

Dan ...
Kau akhirnya pergi ...

Aku tahu saat itu aku melukai hatimu, melukai egomu. Aku terlalu tinggi hati untuk mengatakan maaf padamu. Aku membiarkanmu pergi. Aku juga tak mengijinkanmu mengungkapkan rasamu padaku.

Aku tidak tahu aku harus menangis, patah hati, atau harus apa.
Yang aku tahu, aku tak akan bisa menahanmu dan memintamu untuk selalu mencintaiku tanpa mau mencintaimu dengan sepenuh hati.

Aku tahu kamu membutuhkan seseorang yang selalu mendampingimu, mengerti kamu, menyayangimu dan selalu ada untukmu. Dan aku bukan orang yang tepat untukmu.

Aku memasang mata dan telinga untuk selalu tahu kamu ada dimana dan sedang apa. Namun aku berusaha untuk tak memakai rasaku. Kau temanku, aku ingin tahu bahwa kamu selalu baik-baik saja.

Dan...
Kau menemukan kekasih baru...

Aku tahu kamu bahagia karena menemukan cintamu. Aku tahu bahwa kau menemukan kekasih yang kau cari.

Aku tidak tahu aku harus menangis, patah hati, atau harus apa.
Yang aku tahu, aku tak akan bisa menahanmu dan memintamu untuk selalu mencintaiku tanpa mau mencintaimu dengan sepenuh hati.

Kekasihmu memberikan hal yang tidak bisa kuberikan kepadamu. Dia memberikan hatinya padamu. Dia memberikan perhatiannya padamu. Dia memberikan waktunya untukmu.

Otakku mengatakan kalau sudah sewajarnya kamu menemukan seseorang yang baru. Bibirku tersenyum, mataku kering. Namun hatiku patah dan berdarah. Kau temanku, aku ingin kau melihat bahwa aku baik-baik saja.

"Hai. Lama nggak kedengar kabarnya. I miss you."
"Hehehehe ... sorry ... aku lagi sibuk. Banyak pekerjaan nih."
"Kapan-kapan kita makan bertiga yuk."
"Yuk. Kalau pekerjaanku sudah tak terlalu banyak, aku kabarin."

Aku menutup telepon, menekan rasa sakit di dadaku, menahan airmataku supaya tak jatuh, mengganti lagu "Someone like you" milik Adele dengan "Check Yes Juliet" milik We The Kings, dan melanjutkan pekerjaanku.


*kutulis untuk seorang kawanku, "It's hard to let go but sooner or later... memories will fade ... "

Wednesday, September 14, 2011

Kau dan Pohon

Kau berdiri di depanku dan tiba-tiba bilang: “Aku ingin jadi pohon.”

Waktu kutanya kenapa, kau bilang: “Karena pohon memberikan hidupnya pada orang lain tanpa pernah menangisi pengorbanannya.”

Tuesday, September 13, 2011

Kenapa menulis??

Aku sedang menulis ‘ekspressi hatiku’ ketika seseorang lewat dekat meja kerjaku dan berhenti untuk bertanya tentang hal yang sedang aku kerjakan. Sambil nyengir karena ketahuan tidak sedang mengerjakan thesis-ku, aku bilang ke dia kalau aku sedang ‘menulis’. Ketika aku ditanya sedang menulis apa, aku tunjukkan tulisanku di laptop. Ketika dia tahu bahwa tulisanku adalah prosa dalam bentuk puisi, tahu apa yang ditanyakan ke aku? Pertanyaannya adalah: ‘Untuk siapa tulisan itu?’. Aku terhenyak sejenak sebelum aku bilang kalau tulisan itu bukan untuk siapa-siapa. Aku menulis karena aku ingin menulis dan ada yang ditulis.

Kenapa orang sering punya pikiran seperti itu ya? Kalau menulis puisi berarti sedang jatuh cinta atau sedang putus cinta. Cinta memang ‘source’ yang tidak pernah kering buat aku. Tapi bukan berarti aku ada pada kondisi konstan ‘jatuh cinta’ atau ‘patah hati’ pribadi. Kalau ‘iya seperti itu’, bisa kacau pekerjaanku.

Yang ada sering kali adalah ‘sedang sensitif’ saja terhadap hal-hal di sekitarku, yang setelah aku semakin tua, semakin bisa dan gampang dihubungkan dengan hari-hari dan pengalamanku di masa lalu. Dan muncullah ‘ekspressi2 hati’ yang secara factual dan actual tidak selalu 100% bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, tapi intinya bernuansa ‘seperti itulah…’. Atau ada pengalaman teman atau orang lain di koran yang membuatku ‘tersentuh’ dan ‘mengekspressi’kannya. Atau sedang ndengerin lagu dan tiba-tiba punya ide. Atau kadang juga waktu ngelamun or bangun tidur or sebelum tidur tiba-tiba ada selintas phrase yang lewat di depan mata yang akhirnya jadi ‘ekspressi’ hati. Kadang juga lagi 'annoyed' sama hal2 tertentu, ya daripada jengkel nggak jelas juntrungnya mending ditulis aja. Atau cuma sekedar pengin berbagi...

Begitu…

Saturday, September 10, 2011

Coffee @Perth... tak ada beda kelas sosial

Minum kopi bukan karena pecandu kopi tapi pencandu "break" dari kegiatan menulis thesis yang "membunuhku"... membuatku "terpaku" dan "terpesona" ketika pertama kali minum kopi di cafe Reid Library. Mata ini menatap daftar harga kopi sambil otak sibuk mengkonversi dollar ke rupiah.

Cappuccino 3.80
Latte 3.80
Black Coffee 2.70
Espresso 3.40
Flat White 3.60

Begitulah kira-kira deretan angka yang ada di papan itu.

Aku celingukan ke kanan kiri sambil berpikir, "Apa aku salah masuk apa ya??? Ini kantin perpus kok harga kopinya setara Starbucks gini????" Tapi tak mungkinlah salah. Ini satu-satunya cafe di Reid Library dan melihat pengunjung yang lain ... ya mereka adalah mahasiswa lengkap dengan atribut laptop, textbooks, dan tampang kucel karena beban assignments (atau karena kebanyakan mabok, aku nggak tahu ding). Singkatnya karena sudah kepalang basah berdiri di depan cashier, aku memesan Latte dengan pertimbangan aku tidak doyan black coffee dan espresso, aku masih punya cappuccino instant di rumah, dan aku tidak tahu Flat white itu apa. Perpisahanku dengan uang 3.80 dollar itu serasa menyakitkan... :(.

Tapi benar kata orang, "there is always the first time for everything", so setelah kejadian itu dimana pun aku beli kopi di seputar kampus: di cafe Guild, di University Club, di cafe dekat Winthrop building, aku sudah tidak "sakit hati" dengan harga yang tertera di situ.

Tentu saja hobi menikmati cafe yang menjual kopi ini pada akhirnya menjerit-jerit menuntutku untuk mencoba menikmati cafe di luar kampus. Setiap melewati Tianmo, The Coffee Club, Cino, Dome ... hati ini berteriak untuk singgah. Tapi otak menolak dengan rasionalisasi begini: "Harga kopi di kantin Universitas di Semarang adalah 5000 rupiah, harga kopi di Starbucks adalah sekitar 40000 ribu rupiah. So harga kopi di Starbucks adalah 8 kali lipat harga kopi di kantin Universitas. Nahhh kalau hal yang sama terjadi di Perth, maka untuk secangkir kopi di The Coffee Club (maaf, tidak ada Starbucks di Perth, terlalu Amerika kata orang-orang local) maka aku harus membayar 8 x 3.80 untuk secangkir Latte. Yang sama dengan 30.4 dollar. Yang artinya adalah "ngajak kere" kata orang Jawa (trans. menjadikan orang seperti gelandangan)."

Jadi dan jadi... demi keselamatan kantong... hasrat hati akan kopi bisa ditangguhkan. Kebetulan orang-orang Indonesia yang aku kenal waktu itu bukan penggemar kopi di cafe karena mereka adalah mahasiswa2 yang serius, studious dan tidak hobi nongkrong, jadi aku tidak bisa menanyakan harga kopi di Miss Maud... misalnya begitu.

Namun... hati sungguh bukan hal yang mudah untuk ditaklukkan... karena akhirnya aku mengalah pada hasrat terpendamku itu ... yaaahhhh... kalah terhadap one of the seven deadly sins ... gluttony ... rakus ... hehe

Dan ... dengan mengeraskan hati sekeras baja, aku melangkah ke The Coffee Club...


(sebenarnya waktu itu aku bersama Goen, tapi dia harus ran an errand untuk membeli sebuah barang yang aku lupa apa, jadi dia dengan cueknya menyuruh aku masuk ke The Coffee Club itu dulu).

Untung antrean pesannya cukup panjang, jadi aku bisa punya kesempatan untuk membaca harga kopi di papan (yang aku baca bukan jenis2 kopi lho ya... tapi harga kopi itu... hehehehe).

Aku lihat papan menu dan harganya.

Aku berusaha lagi melihat dengan jelas...

Melihat dengan lebih cermat lagi...

Dan ...
Seketika ...
Aku,
Lega.

PLOOONNNGGGG...

HARGA YANG TERTERA DI PAPAN ITU SAMA DENGAN HARGA KOPI DI KANTIN REID LIBRARY...!!!


Sejak itu aku mencoba ke tempat-tempat lain juga... tidak semua harga kopi sama, tapi setidaknya tidak terpaut jauh berkisar AUD 4. Not bad. Sepertinya ada standarisasi harga kopi.

Sooo entah kamu itu minum kopi di kantin perpustakaan atau kamu minum kopi di The Coffee Club, uang yang keluar tetap sama. Beda dengan di Indonesia, setidaknya di Semarang, dimana kamu bisa membuat dirimu "naik ke kelas sosial yang lebih tinggi" hanya karena segelas stereofoam Starbucks, di Perth ini... kamu tidak akan naik kelas hanya karena kamu minum kopi di sebuah Cafe.

Thursday, September 8, 2011

All you need is SLOTH ...

Cerita singkat tentang Yogis dan Dito, my sons:


Ditengah-tengah berusaha menyelesaikan salah satu chapter thesis-ku, aku yang kelelahan secara fisik dan emosional ini masih diributi lagi dengan dua anak yang riuh rendah guyon nggak jelas juntrungnya di dalam ruang kerjaku. Aku sudah meminta mereka untuk tidak mengganggu tapi:

Dito bilang, "But I need the internet to do my presentation project!!!" (laptop yang ada koneksi internetnya hanya satu, ya laptop yang aku pake).

dan

Yogis bilang, "No one is with me."

Di unit yang cuma seupil besarnya ini, mereka selalu saja punya alasan untuk meributiku di ruang kerja yang sempit.

Illfeel... jadi kubiarkan mereka sejenak menguasai ruangku untuk kemudian akan kuminta secara baik-baik untuk keluar.

RIOTTSSS!!! ... mereka saling mengejek... yogis lari ke pangkuanku karena dikejar kakaknya... dan kakinya tanpa sengaja terjerat kabel headsetku dan berkumandanglah suara The Beatles menyanyikan:

"All you need is love ... tet tero rerot ... All you need is love ... tet tero rerot ... All you need is loveooo ... Love is all you need..."

Dan tahu-tahu mereka berdua berhenti dan menyimak lagu itu ...

Setelah diam selama 5 detik (kira-kira begitu),

Dito berkata, "All you need is SLOTH???"

Aku jawab, "All you need is love."

Tapi Yogis sudah terlanjur mendengar komentar kakaknya, dan dia mulai tertawa terpingkal-pingkal. Dan mereka berdua lalu bernyanyi (mengikuti lagu The Beatles):

"All you need is SLOTH... All you need is SLOTH ... All you need is SLOTHooo ... Sloth is all you need..."

Aku yang tadinya kesal, jadi ikut tertawa.


Ps. Sloth adalah sejenis binatang yang hidup di jaman es. Sekarang sloth raksasa sudah punah. Binatang ini menjadi tenar karena menjadi salah satu karakter utama di film animasi "Ice Age" dengan nama SID. Dia adalah tokoh yang sangat tengil... "nggapleki" kata orang Semarang.

Wednesday, September 7, 2011

Dany dan Sepeda

Hal yang pertama kuingat tentang Dany dan impiannya punya sepeda adalah ketika dia bercerita padaku kalau dia mengumpulkan kupon (?) yang didapat dari pembelian cat merek tertentu. Kupon-kupon itu dalam jumlah tertentu (1500??) akan bisa ditukarkan dengan sebuah sepeda (harap dicatat bahwa dia tidak membabi buta membeli untuk kemudian mengkoleksi cat ribuan kaleng tersebut tapi berhubung orang tuanya mempunyai toko material maka dia berhasil mengumpulkan kupon dalam jumlah buuuanyak).
Namun tampaknya usaha dia itu tidak membuahkan hasil karena sebelum jumlah kupon memenuhi persyaratan untuk ditukar dengan sepeda, periode penukaran kupon cat tersebut sudah berakhir. Ugh ... kisah yang berakhir sedih... #menangis

Tapi nampaknya memiliki sepeda sudah menjadi obsesi tersendiri buat Dany karena setelah kisah tragis kupon berhadiah itu, dia masih dengan semangat bercita-cita untuk membeli sepeda.

Sampai dia lulus (dan langsung kerja) dan sampai aku terbang (tanpa sayap) ke pojok belahan bumi bagian selatan ini, Dany belum juga membeli sepeda.

Berita bahagia baru muncul kemudian ketika pertengahan tahun lalu dia akhirnya bisa membeli sepeda yang harganya juta-juta (entah berapa tepatnya tapi yang pasti nol-nya banyak). Lalu setelah itu lagi, dia membeli sepeda dengan nama genit "SELI" ... yang kukira semula adalah nama perempuan centil atau paling tidak nama anjing pudel berpita merah jambu lucu (hubungannya apa coba?)yang aku tidak tahu dia beli dengan berapa nol. Lalu aku dengar lagi dia mau membeli sepeda lain lagi... entah sudah jadi beli entah belum. (ctt. untung setelah itu aku tidak mendengar lagi dia beli sepeda apa lagi dan aku berharap memang dia tidak membeli sepeda lain lagi. Karena kalau dia membeli sepeda lagi, blogku ini pasti akan jadi membosankan karena akan berisi kronologi pembelian sepeda milik Dany... ok??).

Setelah punya sepeda, Dany bergabung dengan komunitas sepeda di Semarang dan dia jadi sering bersepeda kemana-mana mana mana mana mana ... wis pokoknya ke banyak tempat (betisnya jadi gedhe nggak ya??? hehehe... #membayangkanbetisDany ... wkwkwkwkkwk ... tapi aku tak berpikiran kotor lho ya). Sayangnya Dany dan sepedanya hanya ada dalam cerita karena sesungguhnya sampai saat ini aku belum pernah melihat Dany naik sepedanya. Di liburku yang pendek kemarin pun aku tidak sempat melihat dia bersepeda. Mungkin dia tidak mau meminjamkan sepedanya padaku, takut kalau sepedanya ketularan gila-ku.

Anyway... kisah Dany dan sepedanya berakhir dengan bahagia. Terakhir yang membuat aku mengangkat jempol untuk dia adalah ketika dia mengendarai sepedanya dari SOLO-SEMARANG... Solo ke Semarang saudara-saudara, 101 km lebih ... dengan waktu tempuh 10 jam. SIP ... SIP ... SIP ... Aku angkat jempol buat dia karena aku tak akan mau (dan mampu) naik sepeda sejauh itu. Naik sepeda motor pun aku tak mau. Maklum sudah tua, jadi tahu diri. Bisa masuk angin nggak keluar-keluar nantinya.

JADI, moral of the story adalah Jangan pernah berhenti bermimpi dan berjuang untuk meraih mimpi itu karena kalau kamu benar-benar menginginkan sesuatu dan kamu berjuang untuk mendapatkannya, kamu pasti akan berhasil. Seperti Dany yang akhirnya mendapat sepeda yang dia impikan.

SELAMAT ULANG TAHUN DANY-BOY ...
Semoga kamu bisa meraih semua hal yang kamu inginkan. Semoga kamu bisa bersepeda keliling Eropa seperti guru Gis (Mrs Only) yang pada usianya yang ke 60+ menempuh 4300 lebih km...
7 September 2011

Sunday, September 4, 2011

It's about Choice ...

Dapat text dari Danty bahwa dia sekarang mengajar di suatu tempat dengan bayaran 5000 rupiah per jam (padahal kalau les private biasanya dapat 60000 rupiah satu session), rasanya jadi nggak tega sama dia. Bukannya aku mata duitan atau itungan, aku juga tidak tahu harga pasaran orang yang ngasih kursus berapa, tapi 5000 rupiah? Yang bener aja... apa nggak rugi di ongkos transport ya?

Aku konfirm tentang pilihan kerjanya itu via Twitter dan dia tweet balik:

"ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ tp aku senang kok. Jd ngerasa susah cari duit. Biasanya mudah :D RT @48ikecool: rumah piyik? baguslah, tak tega aku baca text-mu kemrn..."

Ahahahaha ... iya deh ... baguslah kalau dia belajar bahwa cari duit itu susah ... jadi dia tidak akan "taken for granted" kemudahan dan fasilitas yang selama ini dia rasakan. #akubersyukur

EEEEiiiiTTTssss ...bentar... ada sedikit hal yang mengganggu di sini...

Danty bisa dengan gampang, INDAH, dan mengharukan bilang bahwa dia jadi bisa "belajar" kalau cari duit itu susah karena DIA PUNYA PILIHAN. Dia punya pilihan untuk TIDAK bekerja di tempat yang hanya membayarnya 5000 per jam itu.

Pertanyaannya adalah:

"Apakah orang yang tidak punya pilihan dan terpaksa mengambil pekerjaan dengan bayaran 5000 per jam itu juga akan bisa dengan ringan mengatakan bahwa dia jadi bisa "belajar" bahwa cari uang itu susah?"

Aku khawatir kalau orang yang tidak punya pilihan tapi harus menerima bahwa dia dibayar rendah untuk kerjanya itu tidak bisa lagi menikmati kata "belajar bahwa hidup itu susah" karena buat dia hidup itu memang bener-bener susah. Dia tidak akan punya waktu lagi untuk merefleksikan makna "belajar" itu.

Sama waktu Igor pasang status di Facebook, mengeluh kalau selama dia kuliah di Bandung, dia hanya mengkonsumsi mie instant. Masalahnya adalah dia punya PILIHAN (kalau dia mau mengurangi rokok, konsumsi alkohol, nonton bioskop, dan jalan2 yg tidak perlu) untuk meningkatkan gizinya.

Aku membayangkan bahwa orang yang tidak punya pilihan untuk makan yang lain kecuali mie instant pasti tidak akan sempat mengeluh. Mereka tidak punya waktu untuk itu... untuk sekedar mengeluh... karena hidup mereka sudah sulit.

Jadi, berbahagialah orang yang masih bisa "belajar", masih bisa "mengeluh", dan masih bisa "merefleksikan kata2 orang dan menuliskannya" (seperti aku sekarang ini), karena itu berarti hidup orang itu belum benar-benar MENDERITA ... Masih punya WAKTU untuk "MERASAKAN PENDERITAAN" itu merupakan anugerah tersendiri ...

Saturday, September 3, 2011

Welcome back jadi orang Jawa ...

Nge-blog aja deh, biar agak tenang jadi habis itu bisa kerja lagi or tidur nyenyak. Begini ceritanya. Tadi sudah siap kerja tiba-tiba dapat sms dari Goen. Masalah keluarga. Bukan keluarga inti tapi keluarga extended. Masih inner circle. Goen bercerita dan minta pendapat karena dia bingung tentang how to deal with that family matters.

Aku cuma menjawab dengan, "Welcome back jadi orang Jawa ..."

Bukan nggak mau ngaku jadi orang Jawa, bukan. Bukan pula nggak bangga jadi orang Jawa, bukan. Tapi emang jadi orang Jawa itu ribet. Serba nggak jelas. Ketika ada disagreement, wajah tetap tersenyum mulut tetap berbicara manis. Baruuu setelah tidak di depan mata alias di belakang, muncul masalah.

Heyyyyy... what's up man???

Buat aku yang berhati tumpul ini... aku tidak bisa mengerti. Lahir di Jawa, besar di Jawa, dengan orang tua Jawa, tidak juga bisa membuatku memahami cara komunikasi orang Jawa.

Secara singkat aku cuma bilang, aku bodoh when it comes to main tebak-tebakan maksud hati seseorang. I call a spade a spade. A ya A buat aku. Kalau tidak setuju bilang, ayo berantem, aku bisa menangis, aku bisa mengamuk, aku bisa tersinggung, tapi urusannya jelas. Sudah ya sudah semua jelas. Kalau aku salah ya aku terima malu. Kalau aku benar ya jelas posisiku.

Salah satu usulku tadi adalah mengumpulkan semua orang yang berkepentingan terus di klarifikasi dengan jelas siapa yang ngomong apa dan apa maksudnya, dengan tunjuk hidung, nama dan identitas (kalau perlu pake tes darah or tes DNA sekalian). Lalu jelaskan posisi dan keputusan kami. Sudah. Urusan selesai. It might hurt, tapi no hard feeling.

Tapi berhubung kami orang Jawa pasti tidak bisa begitu.

Dan gara-gara hal tadi, Goen berpikir mau apply permanent resident di Australia aja sekalian... yaaaahhhh ...

Tuesday, August 30, 2011

Malam Lebaran 2011

Tawaran untuk dikirimin ketupat/lontong opor sambel goreng dan untuk makan bersama muncul bertubi-tubi. Bahkan foto-foto semua makanan itu bermunculan dimana-mana.
Aku dengan rendah hati cuma bisa menulis bahwa Lebaran bukan sekedar makan-makan, yang penting adalah kemauan untuk memperbaiki diri di waktu yang akan datang dengan awal hati yang bersih...

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin ...

Monday, August 29, 2011

Felix dan Ike tentang sms ke & dari Igor...

Suatu malam yang sudah cukup larut Felix mengirim sms ke aku.

Flx’ received message
Madam, tahu Igor ada dimana? Aku sms dia berkali-kali tapi tdk dijawab.

Ike’s sent message
Aku nggak tahu. Terakhir aku lihat di kampus tadi sore. Ada apa?

Flx’s received message
Penting madam. Masalah hidup dan mati.

Ike’s sent message
Kl kamu 1. tdk berdada montok, 2. tdk berkulit putih, 3. bukan nonik-nonik, 4. tdk berumur di bawah 17, jgn berharap banyak Igor mau membalas sms-mu … :D



Ps. Felix sudah sangat putus asa mencari Igor sampai dia sms aku yang jelas-jelas tidak tahu kemana Igor. Baik aku maupun Felix tidak masuk ke semua kategori yang ada diatas, jadi percuma juga sms Igor dan berharap dia membalas sms kami, ‘Mungkin sebaiknya di badan Igor dipasang GPS tracker, jadi ketahuan dia dimana ya Flx?’

Sunday, August 28, 2011

#beingcheeky

Kita ...
Ya ...
Kita pernah mencintai orang yang sama.
Kamu mencintaiku.
Aku mencintai diriku sendiri.

:D

#meracauditengahkegalauanbelajar

Thursday, August 25, 2011

Titip rindu pada daun maple ....

Aku memandangi daun-daun maple merah coklat keemasan yang berguguran … melayang satu-satu tertiup angin yang membekukan di tengah musim gugur ini.
Ingatanku tentangmu satu persatu muncul dan melayang bersama guguran helai-helai daun maple itu.
Tak banyak waktu yang kita habiskan bersama, namun waktu sependek itu seperti selamanya bagiku.
Tak banyak waktu yang kita habiskan berdua, namun saat aku hanya bersamamu sepertinya waktu berhenti untukku.
Namun seperti daun-daun maple yang berguguran ini aku harus membiarkan waktu untuk bergulir.
Sama seperti daun-daun maple yang diterbangkan angin ini aku harus merelakan kau pergi.
Aku tidak ingin mengenangmu dengan kesedihan
Aku tidak ingin mengingatmu sebagai kehilangan
Aku tidak akan membiarkan airmata ini jatuh
Aku menitipkan tangis dan kesedihanku pada daun-daun maple yang berguguran …
Aku menitipkan salam dan kerinduanku di setiap helai yang melayang tertiup angin…

*Aku tak tahu sejauh mana daun-daun maple ini bisa terbang. Aku tak yakin daun-daun itu mampu menyeberangi samudra dan benua. Tapi jika kau menemukan sehelai daun maple, aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu.*

Tuesday, August 23, 2011

Untukmu, hari ini

Aku selalu ingin kamu mengingatku...
Namun setiap kali kamu ingat aku...
Aku tak mau kamu ingat aku.

Rain, My name is Rain.

TKP (tempat kejadian perkara (?))-nya ada di Stadion Jati Diri, Karangrejo, Semarang Jawa Tengah Indonesia, tepatnya di lapangan Futsal (coba deh pake Google Earth untuk bertamasya ke sana). Waktu itu aku datang tergesa-gesa untuk menonton latihan futsal. Aku asal duduk saja di bangku stadion itu dikelilingi entah siapa saja aku tidak terlalu ingat. Setelah selesai pertandingan futsal, aku dan beberapa mahasiswa mengobrol. Aku lupa persisnya apa yang terjadi, namun mahasiswa Sastra di sebelahku tiba-tiba saja menyibakkan rambutnya dan bilang, “Rain… my name is Rain.” Saking kagetnya aku jatuh telentang ke belakang dan kepalaku terbentur bangku stadion. Jadi kalau ceritaku nggak detail, mungkin itu karena aku menderita gegar otak ringan karena benturan itu. Sejak itu aku agak trauma dengan ‘Rain’ or ‘Hujan’…

Yang di kiri 'Rain' ... yang di kanan yang mengaku 'Rain'

Monday, August 15, 2011

Aku dan Leonardo DiCaprio

Aku tidak suka Leonardo DiCaprio. Bukan karena cintaku pernah ditolak oleh dia… (nggak lah, cintaku kan untuk Brad Pitt seorang … wkwkwkwk …) tapi karena di awal kemunculannya, dia “lousy” banget … bahasa semarangnya dia tuh “malesi pollll”.
Aku tahu nama Leonardo DiCaprio pertama kali dari film “Romeo and Juliet”-nya Buzz Lurhmann. Film yang aku acungi jempol karena ide postmodernisme-nya. Of course, DiCaprio jadi “Romeo”, bangsawan lemah lembut gemulai dengan wajah ganteng cenderung cantik. Kelemahlembutannya itulah yang membuat Romeo di akhir cerita jadi mati tragis.
Film kedua yang mengangkat nama DiCaprio adalah “Titanic” . Kali ini dia berperan sebagai Jack seorang laki-laki kelas pekerja dari Inggris yang jatuh cinta pada perempuan bangsawan di kapal “Titanic”. Dengan adegan yang terkenal bersoundtrack lagunya Celine Dion “My heart will go on”. Tenggelamnya Titanic membawa Jack ke kematian.
Nhhhaaa … ini dia. Basically aku nggak begitu tertarik sama tampilan Leonardo DiCaprio yang lemah lembut, dengan matanya yang misty dan blurry. Buat aku, dia kurang “maskulin” hehe (ya gimana yah… aku merasa tampilanku lebih maskulin dari dia sih…).
Sudah kurang maskulin, eeeehhhhhh… dua kali maen PILEM kok ya mati teruuusssss…. Nih orang kok nggak pernah belajar dari pengalaman ya??? Stupid!!!
Dari dua film diatas, aku hanya menonton “Romeo and Juliet” (karena ingin menikmati ke postmo-an film ini bukan krn tertarik sama pemainnya. Nontonnya pun tidak selesai) dan tidak menonton “Titanic” sama sekali.
Film-film DiCaprio yang selanjutnya seperti “The Beach”, “Gangs of New York”, “Catch Me if You Can” … semuanya leeewwwaatttt dengan selllaaammmaattt … No way deh …
Beberapa bulan lalu aku tidak sengaja pinjam “Shutter Island” di persewaan video dekat rumah. Tak terlalu memperhatikan pemainnya siapa, aku menonton film yang ternyata dibintangi Leonardo DiCaprio ini. Film yang super intriguing. Tapi di film ini pun aku tidak terlalu memperhatikan DiCaprio.
Tapi aku berubah pikiran setelah setelah dua minggu lalu nonton “Blood Diamond” di TV. “O … ternyata Leonardo DiCaprio… actor yang bagus ya.” Aku suka pada perannya sebagai Danny Archer, kulit putih yang lahir di Afrika, penyelundup berlian di daerah konflik di Africa. Di Blood Diamond ini dia berperan sebagai petualang oportunis yang memanfaatkan situasi dan kondisi perang sipil di Siera Leonne untuk mendapatkan uang sekaligus berperan sebagai pahlawan. Peran yang sangat membuatku benci sekaligus sadar bahwa tidak ada orang di dunia ini yang perfect. Peran yang membuatku berpikir “What it means to be different”; tentang identitas. Sekalipun Danny itu kulit putih, dia lahir di Afrika. Kulit putih bukan, Afrika bukan. (Terus apa y?) jadi loyalitasnya sebagai bangsa tidak jelas. Yang jelas, dia setia pada uang tanpa peduli uang itu diperoleh dengan mencelakakan orang lain atau tidak.
Dan sekalipun di akhir film ini Leonardo DiCaprio MATI lagi … :D :D, kata-katanya yang mengungkapkan tentang situasi perang di Afrika tetap aku ingat, “Sometimes I wonder... will God ever forgive us for what we've done to each other? Then I look around and I realize... God left this place a long time ago.” Dan tentu saja kata “TIA” – This is Africa.

Saturday, August 13, 2011

Akan rindu

Sama seperti kota-kota lain yang pernah aku tinggali
Kota ini pernah jadi kota yang asing untukku
Namun aku tahu saat aku pergi dari sini
Aku akan sangat merindukan kota ini
Kota terpencil yang ada di pojok bawah bumi bagian selatan
Yang sepi orang lalu lalang
Yang seperti kota2 kecil di Jawa, semua aktifitasnya lenyap pada jam 8 malam…

Aku akan rindu pada playground di tepian Swan River, halte bis di pinggir Universitas, dermaga di Matilda Bay;
Aku akan rindu pada suara daun-daun jatuh di musim gugur, suara burung Raven dan Magpie di pagi dan sore hari, suara truk sampah dan mobil penyapu jalan di Rabu dan Kamis pagi;
Aku akan rindu pada teriknya matahari di musim panas, gelap dan sepinya Fairway street waktu malam, angin kencang dan dingin yang menderaku setiap aku pulang;
Aku akan rindu pada bau masakan di Broadway fair, bau bunga mawar di musim semi, bau segar rumput di pagi hari;
Aku akan rindu pada spinach pie, Fish and Chips, ginger beer, scotch whiskey, wedges…

Yah… aku pasti akan merindukannya…

Monday, August 8, 2011

Sopo aku?

“Aslinipun saking pundi mbak?”
Pitakonan iki sing paling ora isa tak wangsuli.
“Waaahhhh… asli pundi nggih? Ngaten, bapak kula saking Bantul, Ibu saking Imogiri (nanging simbah saking Solo). Kula kelairan Malang, Jawa Timur, alit kula wonten mrika. Lajeng pindah-pindah: Jakarta, Kendal, Sukorejo, Pekalongan. Kuliah wonten Semarang lan nyambut damel wonten Semarang. Mekaten.”
“Kok mboten kados tiyang Jawi nggih mbak?”
“Heh? Lha kados napa? Tiyang listrik? Menapanipun ingkang mboten kados tiyang Jawi?”
“Nggih kados benten ngaten.”
“Oooo inggih pak. Basa Jawi kula mila grothal grathul. Namung basa Indonesia kula taksih medhok pak. Kula nggih saged sekedhik-sekedhik ngangge basa Inggris. Niku nggih medhok.”
“Sanes, … anu mbak …, niku lho mbake niku kados “berani” ngaten.”
“Eeenggg. Berani karena benar pak….” wangsulanku ngawur.
Bapak sing lungguh ing sebelahku ora ngomong apa-apa maneh. Aku ya trima melu meneng karo mikir, “Apa ya bener aku iku ora kaya lumrahe wong Jawa?” Njur aku kaya wong apa? Wong alas alias orangutan? Aaarrrggghhhhh!!!! Apa merga aku wani ngomongke apa sing ora tak senengi lan apa sing ora tak setujoni kanthi blak-blakan ndadekake aku ora bisa dikategorike dadi wong Jawa?

Thursday, August 4, 2011

Aku dan sandal jepit

Kata ramalan bintang yang di tweet-kan sama Rina dikatakan bahwa Aries selalu berani tampil beda.
Yak ... memang benar... karena aku Aries, aku berani tampil beda ...
Hari ini aku pake sandal jepit ke kampus. Dan setiap orang yang melihat kakiku memandangku aneh.
Bukan... bukan karena kampusku melarang orang bersandal jepit masuk... bukan ... orang cuma pake rok dan baju secuil-pun tidak dilarang, apalagi orang berpakaian lengkap dan bersandal jepit kaya aku, pastilah tidak dilarang.
Cuma ya itu ... hari ini adalah salah satu hari di tengah-tengah musim dingin dan diramalkan hari ini akan hujan badai.
Hampir semua orang memakai alas kaki yang appropriate, yang akan bisa menghangatkan kakinya (kalau kaki kedinginan, dijamin sebentar lagi pasti sakit). Nhaaa ... ini dia aku yang bersandal jepit jadi menarik perhatian.
Alasanku bersandal jepit hari ini sederhana kok: Aku pengin pake sandal jepit... titik... tidak ada alasan lain...
eh ada alasan lain ding ... :
"Kalau hari hujan pake sepatu dan saat itu kehujanan, sepatu jadi basah dan kotor. Jadi terpaksa harus bersihkan sepatu kl sampe rumah nanti. Naaaaa ... kalau sandal jepit, tinggal digosok2kan ke karpet kantor, beres deh... "

Tuesday, August 2, 2011

Skripshit o skripshit

Bukan aku!!! Pasti bukan. Ini Antonius Aditia Maharjuni’s skripsi. Panggilan sayangku ke dia adalah: NDAS SEMPAL. Satu dari 6 (enam) mahasiswa angkatan 2006 yang kukutuk dengan kata “KALIAN! Kalian adalah mahasiswa yang akan lulus lama!”

Setelah melewati banyak suka dan DUKA, intinya bulan ini Anton harus mengumpulkan proposal skripsi untuk sidang (demi lulus Desember besok, Amin). Seperti layaknya mahasiswa yang “normal”, ide baru muncul pada saat-saat kepepet. Dan seperti sudah bisa ditebak sebelumnya, ide yang muncul pada saat-saat terakhir adalah ide yang pasti asli chaotic a.ka acak adul. Mungkin karena dia sudah mentok … tok … hitting the wall… dia mengirimkan proposal skripsinya ke aku untuk minta masukan dan kritik.

Waktu aku membuka file yang dia kirim dan membaca judul awalnya, aku sudah siap muntah. Proposal itu berjudul “THE CRITICISM ON INSTITUTIONALIZATION OF FAITH in Fynn’s Mister God This is Anna” Adoooowwwww … cari skripsi aja kok ya susah2 to yo …

Waktu mbaca lebih lanjut lagi, rasanya pengin njedotin kepala ini ke bantal (kalo ke tembok sakit soalnya). Teori yang dipakai adalah teorinya NIETZCHE, sodara-sodara. Astajim!!! Skripsi soal agama pun pasti sudah membuat aku muntah buat memahaminya, lha ini skripsi soal kritik terhadap agama sebagai institusi. Dan sudah bisa ditebak, teori bapak Nietzche yang filsuf ini serumit namanya. Aku terpaksa harus skim reading kritik2 Nietzche ttg agama di bukunya yang berjudul Ecce Homo dan Anti-Christ (opo kuwi…). Dan terbuktilah filosofiku tentang pintar selama ini: COGITO ERGO DUMB … saya berpikir, karena itu saya jadi bodoh … kira2 begitulah aku mengartikannya …

Singkat kata, setelah mendengar my moans (NGOOOOKKK… NGGGOOOK… nggoookkkk…) tentang sulitnya memahami teori2nya Nietzche, Anton muncul dengan ide yang lebih “mudah” dipahami, tentang pemahaman Anna (karakter dalam novel yang dia bahas), gadis kecil berumur 5 tahun-8 tahun, tentang Tuhan dan Agama. Jadilah kami (sudah jadi kami nih, bukan lagi Anton sendiri) berkonsentrasi ke psychology dan religion.

Thanks God atas seluruh social networking yang diciptakan untuk mempermudah komunikasi, lewat YM, e-mail, dan mobilephone terciptalah diskusi dua arah yang cukup intense. Satu file proposal skripsi dikirim bolak-balik antara Anton dan aku. Nah, mungkin karena saking semangatnya aku membantu Anton (mungkin karena merasa bersalah karena pernah mengutuk dia…), aku sampe ikut-ikutan mengedit tulisan dia (padahal rambu2nya, aku kan cuma boleh kasih masukan dan komentar). Dan terjadilah percakapan ini di YM:


Anton DeFuehrer: tak mindah skala (terj. Aku mau memindah skala)

ike48cool: iyo ... wis ngono wae (terj. ya … udah gitu aja)
ike48cool: definition of terms-e isih kurang fowler karo Kohlberg (terj. Definition of term-nya masih kurang fowler sama Kohlberg)
ike48cool: Btw...
ike48cool: boso inggrisku yo isih salah2 lho (terj. Bahasa inggrisku juga masih salah2 lho)
ike48cool: tapi paling sithik2 (terj. Tapi paling sedikit2)

Anton DeFuehrer: gpp mbok (terj. Gpp bu)

ike48cool: nggawene karo mlayu (terj. Mbuatnya sambil lari)

Anton DeFuehrer: nek kapiken malah curiga mengko (terj. Kalau terlalu bagus malah curiga nanti)

ike48cool: nek kapikan ngko dicurigai ding malahan (terj. Kalau terlalu bagus nanti malah dicurigai)

ctt: yg dua kalimat diatas itu kami ketik pada saat bersamaan. Jadi sebelum aku baca pesannya anton, aku sudah ketik kalimat di atas. Kl pake YM kan emang suka ada jeda antara waktu kirim dan waktu terima. Begitu sama2 baca pesan kami masing-masing, ini kelanjutannya:

ike48cool: iyo bener

Anton DeFuehrer: lhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Anton DeFuehrer: (icon ketawa ngakak guling2)

ike48cool: kita sepikiran
ike48cool: (icon ketawa lebar)

Anton DeFuehrer: wkwkkwkwkw
Anton DeFuehrer: aku ngekek neng ta (terj. Aku ketawa ngakak di ta)
Anton DeFuehrer: wkwkwkkw
Anton DeFuehrer: ngguling2

ike48cool: aku yo ngekek (terj. Aku juga ketawa)
ike48cool: hahahahha


PS. Sebenarnya aku bukan dosen tipe tukang sihir or nenek nyinyir tukang kutuk tapi pengalamanku selama 10 tahun mengajar (aku “mengutuknya” di tahun 2006) membuktikan bahwa mahasiswa yang angin2an dan nggak serius seperti dia adalah mahasiswa yang akan lama lulus (Gloria dan Dyah tahu sekali Anton itu seperti apa… ya Glo/Dyah).

Saturday, July 30, 2011

Untukmu, hari ini

Bleeding heart is much much much better than draining brain ...

When I am thinking about you, my heart bleeds ...
But sure ...
It feels much better than when I am forcing myself to arrange better arguments for my thesis and my brain bleeds ...

Friday, July 29, 2011

Igor n astrologi

‘Kata ramalan bintangku, minggu ini ada Aries yang jatuh hati sama aku,’ kata Igor tiba-tiba waktu aku, Nana (adik iparku), dan dia sedang makan di pujasera sebuah Mall sambil menunggu pesanan Laptop Nana yang dijanjikan akan datang satu jam lagi.
‘Aku Aries…,’ kata Nana.
‘Berarti mungkin mbak Nana jodohku,’ kata Igor.
‘Wegah… nek karo kowe*,’ kata Nana sambil tertawa. (*Terjemahan: Nggak mau … kalau sama kamu).
‘Pasti seru ya madam, kalau aku main ke rumah madam buat ngapelin mbak Nana,’ kata Igor maksa.
‘Siapa yang bilang kalau aku cocok sama kamu?’ tanya Nana.
‘Lho iya, Sagitarius itu cocok sama Aries. Ada di buku,’ kata Igor.
‘Kamu baca buku karangannya siapa?’ tanya Nana lagi.
‘Karangannya …,’ Igor menyebut nama pengarang buku Astrologi yang aku tak ingat dan tak tahu siapa.
‘Kamu harusnya baca buku karangannya …..,’ Nana juga menyebut nama pengarang yang aku tak ingat dan tak tahu siapa.
‘Ramalan yang ada di bukuku banyak tepatnya,’ kata Igor.
Itulah Igor, entah sudah berapa kali dia bicara soal jodoh yang tepat berdasarkan ramalan bintang. Contohnya waktu dia jatuh cinta sama cewek yang berbintang ‘Leo’, dia akan bilang kalau ‘Sagitarius’ (bintang Igor) cocok dengan ‘Leo’; waktu dia suka sama cewek berbintang ‘Gemini’, dia bilang kalau ‘Sagitarius’ dan ‘Gemini’ compatible… dsb….dsb….
Jadi satu-satunya kalimat yang kuucapkan di sepanjang percakapan itu adalah, ‘Jangan-jangan di bukumu, Sagitarius itu cocok dengan semua bintang?’