Saturday, September 10, 2011

Coffee @Perth... tak ada beda kelas sosial

Minum kopi bukan karena pecandu kopi tapi pencandu "break" dari kegiatan menulis thesis yang "membunuhku"... membuatku "terpaku" dan "terpesona" ketika pertama kali minum kopi di cafe Reid Library. Mata ini menatap daftar harga kopi sambil otak sibuk mengkonversi dollar ke rupiah.

Cappuccino 3.80
Latte 3.80
Black Coffee 2.70
Espresso 3.40
Flat White 3.60

Begitulah kira-kira deretan angka yang ada di papan itu.

Aku celingukan ke kanan kiri sambil berpikir, "Apa aku salah masuk apa ya??? Ini kantin perpus kok harga kopinya setara Starbucks gini????" Tapi tak mungkinlah salah. Ini satu-satunya cafe di Reid Library dan melihat pengunjung yang lain ... ya mereka adalah mahasiswa lengkap dengan atribut laptop, textbooks, dan tampang kucel karena beban assignments (atau karena kebanyakan mabok, aku nggak tahu ding). Singkatnya karena sudah kepalang basah berdiri di depan cashier, aku memesan Latte dengan pertimbangan aku tidak doyan black coffee dan espresso, aku masih punya cappuccino instant di rumah, dan aku tidak tahu Flat white itu apa. Perpisahanku dengan uang 3.80 dollar itu serasa menyakitkan... :(.

Tapi benar kata orang, "there is always the first time for everything", so setelah kejadian itu dimana pun aku beli kopi di seputar kampus: di cafe Guild, di University Club, di cafe dekat Winthrop building, aku sudah tidak "sakit hati" dengan harga yang tertera di situ.

Tentu saja hobi menikmati cafe yang menjual kopi ini pada akhirnya menjerit-jerit menuntutku untuk mencoba menikmati cafe di luar kampus. Setiap melewati Tianmo, The Coffee Club, Cino, Dome ... hati ini berteriak untuk singgah. Tapi otak menolak dengan rasionalisasi begini: "Harga kopi di kantin Universitas di Semarang adalah 5000 rupiah, harga kopi di Starbucks adalah sekitar 40000 ribu rupiah. So harga kopi di Starbucks adalah 8 kali lipat harga kopi di kantin Universitas. Nahhh kalau hal yang sama terjadi di Perth, maka untuk secangkir kopi di The Coffee Club (maaf, tidak ada Starbucks di Perth, terlalu Amerika kata orang-orang local) maka aku harus membayar 8 x 3.80 untuk secangkir Latte. Yang sama dengan 30.4 dollar. Yang artinya adalah "ngajak kere" kata orang Jawa (trans. menjadikan orang seperti gelandangan)."

Jadi dan jadi... demi keselamatan kantong... hasrat hati akan kopi bisa ditangguhkan. Kebetulan orang-orang Indonesia yang aku kenal waktu itu bukan penggemar kopi di cafe karena mereka adalah mahasiswa2 yang serius, studious dan tidak hobi nongkrong, jadi aku tidak bisa menanyakan harga kopi di Miss Maud... misalnya begitu.

Namun... hati sungguh bukan hal yang mudah untuk ditaklukkan... karena akhirnya aku mengalah pada hasrat terpendamku itu ... yaaahhhh... kalah terhadap one of the seven deadly sins ... gluttony ... rakus ... hehe

Dan ... dengan mengeraskan hati sekeras baja, aku melangkah ke The Coffee Club...


(sebenarnya waktu itu aku bersama Goen, tapi dia harus ran an errand untuk membeli sebuah barang yang aku lupa apa, jadi dia dengan cueknya menyuruh aku masuk ke The Coffee Club itu dulu).

Untung antrean pesannya cukup panjang, jadi aku bisa punya kesempatan untuk membaca harga kopi di papan (yang aku baca bukan jenis2 kopi lho ya... tapi harga kopi itu... hehehehe).

Aku lihat papan menu dan harganya.

Aku berusaha lagi melihat dengan jelas...

Melihat dengan lebih cermat lagi...

Dan ...
Seketika ...
Aku,
Lega.

PLOOONNNGGGG...

HARGA YANG TERTERA DI PAPAN ITU SAMA DENGAN HARGA KOPI DI KANTIN REID LIBRARY...!!!


Sejak itu aku mencoba ke tempat-tempat lain juga... tidak semua harga kopi sama, tapi setidaknya tidak terpaut jauh berkisar AUD 4. Not bad. Sepertinya ada standarisasi harga kopi.

Sooo entah kamu itu minum kopi di kantin perpustakaan atau kamu minum kopi di The Coffee Club, uang yang keluar tetap sama. Beda dengan di Indonesia, setidaknya di Semarang, dimana kamu bisa membuat dirimu "naik ke kelas sosial yang lebih tinggi" hanya karena segelas stereofoam Starbucks, di Perth ini... kamu tidak akan naik kelas hanya karena kamu minum kopi di sebuah Cafe.

3 comments:

Gloria Putri said...

hmmmmm...
cultural studies nihhhh
wkwkwkwkkwkw

madam sadar gag sadar, aq berasa kuliah looo kadang2 klo baca blognya madam :)
heheehee

betewe, iya sihh...di Semarang, biar diliat "keren" nongkrongnya hrs ke robuchon atau starbuck....ckckckck
pdhl kopine yo podo wae mbe sing di wearungan....cm beda gelas doang

Asop said...

Euh kalo harganya segitu, saya kopi hitam biasa aja deh...

Angelika Riyandari said...

@glo: euuhhh glo ... segitunya deh ... mbok jgn dibilang 'kaya kuliah to...' bilang dong 'madam pemikirannya kritis ...' wkwkwkwkwkkwk...

@asop: hehe ... dl di semarang, langganan beli kopi instan jadi ke bapak admin di fakultas, harganya 1500... trus minumku di atap kampus... murah meriah, pemandangan indah ...