Saturday, September 3, 2011

Welcome back jadi orang Jawa ...

Nge-blog aja deh, biar agak tenang jadi habis itu bisa kerja lagi or tidur nyenyak. Begini ceritanya. Tadi sudah siap kerja tiba-tiba dapat sms dari Goen. Masalah keluarga. Bukan keluarga inti tapi keluarga extended. Masih inner circle. Goen bercerita dan minta pendapat karena dia bingung tentang how to deal with that family matters.

Aku cuma menjawab dengan, "Welcome back jadi orang Jawa ..."

Bukan nggak mau ngaku jadi orang Jawa, bukan. Bukan pula nggak bangga jadi orang Jawa, bukan. Tapi emang jadi orang Jawa itu ribet. Serba nggak jelas. Ketika ada disagreement, wajah tetap tersenyum mulut tetap berbicara manis. Baruuu setelah tidak di depan mata alias di belakang, muncul masalah.

Heyyyyy... what's up man???

Buat aku yang berhati tumpul ini... aku tidak bisa mengerti. Lahir di Jawa, besar di Jawa, dengan orang tua Jawa, tidak juga bisa membuatku memahami cara komunikasi orang Jawa.

Secara singkat aku cuma bilang, aku bodoh when it comes to main tebak-tebakan maksud hati seseorang. I call a spade a spade. A ya A buat aku. Kalau tidak setuju bilang, ayo berantem, aku bisa menangis, aku bisa mengamuk, aku bisa tersinggung, tapi urusannya jelas. Sudah ya sudah semua jelas. Kalau aku salah ya aku terima malu. Kalau aku benar ya jelas posisiku.

Salah satu usulku tadi adalah mengumpulkan semua orang yang berkepentingan terus di klarifikasi dengan jelas siapa yang ngomong apa dan apa maksudnya, dengan tunjuk hidung, nama dan identitas (kalau perlu pake tes darah or tes DNA sekalian). Lalu jelaskan posisi dan keputusan kami. Sudah. Urusan selesai. It might hurt, tapi no hard feeling.

Tapi berhubung kami orang Jawa pasti tidak bisa begitu.

Dan gara-gara hal tadi, Goen berpikir mau apply permanent resident di Australia aja sekalian... yaaaahhhh ...

4 comments:

Gloria Putri said...

eh madam, aq juga org jawa, dan aq jg benci jd org jawa klo masalah kayak gt keluar...
di depan "inggih" di blkng bs beda
aq jg heran itu budaya knp bs mendarah daging gt ya?
kayaknya susah sembuhnya dehhh

Febriasop said...

Yah itulah keragaman orang Indonesia.. beda suku beda tabiat dan sifatnya.
Barangkali orang jawa emang begitu. Maksud hati gak ingin menyakiti hati si A, di depan si A mereka gak menampakkan ketidaksukaan. Tapi tenryata tanpa sepengetahuan si A, mereka membicarakan si A. Yah, ngegosip. :D

Angelika Riyandari said...

@Glo: iya Glo ... itu salah satu yg aku tulis di tulisan bahasa Jawaku yg kamu bilang g mudeng. Aku sering dituduh tidak Jawa karena aku terlalu bodoh untuk memahami orang. But I can't help myself. I just can't understand... piye jal?

@Asop: hai hai ... benar... memang beda suku beda tabiat y... aku py kebiasaan kl bicara sama orang, aku lihat matanya. Aku merasa lebih nyaman kl bisa melihat mata lawan bicara jadi bisa tahu mereka bohong apa tidak. Dan aku selalu dibilang "kurang ajar"... hehehe ...

Gloria Putri said...

yauwes, jd diri sendiri, bsk aq punya anak gag aku didik pola seperti itu oq...hehehhehee...