Saturday, April 23, 2011

Untukmu, hari ini

Aku tidak mencintaimu, aku hanya sudah terbiasa dengan kehadiranmu...
Aku kehilangan ...

Hujan Deras

Suatu hari pernah hujan sangat deras di Semarang, sangat… sangat deras… sampai banjir dimana-mana termasuk di Tanah Mas. Dan Igor mendapat telpon dari orang tuanya yang menyarankan sebaiknya dia tidak pulang ke rumah karena jalan ke rumah mereka sudah tak tampak. Igor gembira luar biasa. Baru kali ini dia disarankan untuk tidak pulang katanya. Policy orang tuanya selama ini adalah dia tidak boleh menginap di rumah orang (selama masih di Semarang ya mestinya) dan harus selalu pulang ke rumah tidak peduli jam berapa pun itu. Yah harap maklum yang namanya Igor ini jago kabur dari rumah dan anaknya agak ngawur, ada peraturan kaya’ gitu aja dia sering memanjat rumahnya untuk masuk di dini hari apalagi kalau nggak ada aturan gitu.

Aku yang dengar berita tentang dia yang disarankan untuk nggak pulang itu cuma bisa bilang: ‘Kamu yakin orang tuamu emang bener ngomong gitu? Jangan-jangan kalau kamu besok pulang, papa mama dan adikmu udah pindah dari rumah itu dan kamu ditinggal sendiri? Bisa aja kan ini cara halus buat mengusir kamu?’

Karena kalau aku jadi orang tuanya pikiran seperti itu pasti melintas dibenakku…

Thursday, April 21, 2011

Bahagianya ...

Menanggapi pernyataanku, "Ndak libur Bun. Phd student pantang libur. Haram hukumnya."

Danty menjawab, "Aku mau bobo siang deh... I'm bachelor student jd blh bobo siang ohohoho." ...

Aaaahhhh ... bahagianya jadi anak muda.

Sebelumnya Danty kirim text ke aku:

"Aku habis jd juri karaoke, fashion show, sm menghias bolu di tk kak Seto... Hehe dlm rangka hari Kartini xixixi.. Ank kecil lucu2 ya ...oon wkwkwkwkkwk ...

Aaahhhhh... bahagianya jadi anak kecil yang tidak takut untuk terlihat bloon dan bodoh ...

Wednesday, April 20, 2011

Bapak Frank Palmos dan Indonesia

Pertama kali melihat bapak Frank Palmos waktu WAIF (Western Australia-Indonesia Forum), waktu beliau presentasi thesisnya tentang ‘Battle of Surabaya’. Hal yang mampir di pikiranku adalah ‘yaaahhhh…. lagi-lagi another orang bule yang nulis tentang Indonesia. Cape deh …’ Tapi kemudian presentasinya membuktikan bahwa beliau lebih ‘memahami’ Indonesia dibandingkan aku. Kata ‘memahami’ disini maksudnya bukan pengetahuannya tapi lebih ke hatinya. Salah satu kalimat yang diucapkan oleh beliau yang sangat masuk ke hatiku waktu itu adalah: “Indonesia itu luar biasa, meskipun secara geografis sangat terpisah-pisah tapi sampai sekarang masih mampu tetap bersatu.”

Woaaaa… pak… aku adalah generasi yang lahir dan besar dengan indoktrinasi tentang betapa hebatnya negara dan bangsaku. Namun aku juga generasi yang ketika aku dewasa mengalami sediri transisi dari jaman orde baru ke reformasi (dan entah jaman apa lagi) yang dihadapkan pada berbagai persoalan yang membuatku berpikir bahwa semua indoktrinasi yang aku dapat dulu waktu sekolah adalah suatu KEBOHONGAN BESAR !!! Bahwa aku akhirnya merasa bahwa negaraku payaaahhhh dan bangsaku penuh dengan orang-orang brengsek. Jadi kalaupun aku bilang bahwa aku bangga jadi orang Indonesia, itu lebih karena otakku bilang aku harus merasa seperti itu (bukan hatiku) dan karena aku dua kali ini harus hidup jauh dari kehangatan dan kenyamanan fasilitas yang ada rumahku di Indonesia dan hidup di negeri asing. Jadi boleh di bilang kalau rasa banggaku adalah bangga a-la romantisme gitu.

Waktu pak Frank Palmos bilang bahwa Indonesia itu luar biasa, aku jadi mulai berpikir bahwa, “Aheeemmm, benar juga ya. Biar hujan, badai, gempa, tsunami, gunung meletus, bom, terorisme, konflik etnik, kemiskinan, kelaparan, korupsi/manipulasi, kerusakan lingkungan, banjir bandang, kometar-komentar politisi yang benar-benar mabok, dll, dll (silahkan sebutkan yang lain), bangsa ini sepertinya cukup ngeyel juga untuk tetap bersatu.”

Pertemuan kedua dengan Bapak Frank Palmos adalah di Asian Studies seminar di jurusanku. Eh… ternyata bapak Palmos ini kakak kelasku. Tiga atau empat minggu lagi dia akan mengumpulkan thesisnya (iri … pengin cepet selesai juga. Amien.). Beliau membawa print kompas.com tentang Bapak Rosihan Anwar (narasumber) yang hari itu meninggal (tanggal 15 April 2011) padahal Mei rencananya Bapak Frank Palmos akan ke Indonesia untuk membawa naskah tentang ‘Kisah Cinta bapak Rosihan Anwar dan istrinya.’ Membawakan topik yang sama tentang ‘Battle of Surabaya’, beliau menunjukkan foto-foto tentang ‘Battle of Surabaya’ dan rekaman wawancara beliau dengan narasumber di Indonesia: Jendral Suharyo dan Bapak Rosihan Anwar. Salah satu foto itu adalah foto sekumpulan anak muda yang berjuang di Pertempuran Surabaya. Gaya mereka di foto itu sama sekali tidak kelihatan kalau sedang perang. Alih-alih bergaya bak tentara yang sangat kaku dan garang, para anak muda pejuang itu bergaya ala boyband (istilah yang sedikit lebay ya?) dengan wajah cerah dan senyum terkembang (sambil bawa senjata tentunya). Para pejuang itu ada diusia 16 – awal 30-an. Menjawab pertanyaan salah satu peserta seminar tentang apa yang dilakukan oleh para pejuang itu setelah perang selesai, apakah mereka bergabung ke dalam partai atau organisasi politik yang ada, Bapak Frank Palmos berkata kalau para pejuang itu setelah perang kebanyakan ‘KEMBALI KE SEKOLAH’ … Karena, lanjut beliau, tujuan mereka berjuang adalah untuk MERDEKA (to be free), jadi ketika perang selesai dan tujuan mereka tercapai mereka kembali ke kegiatan mereka sebelumnya.

Malu. Kata itu yang melintas di pikiranku dan hatiku. Aku jadi merasa malu karena merasa bangga semu terhadap Indonesia, karena sering merasa jengkel pada negara dan bangsaku sendiri. Malu pada mereka-mereka yang berjuang dan tidak berpamrih apa-apa, malu karena di tengah kejengkelanku dan marahku pada bangsa dan negaraku, aku hanya mampu melihat yang jelek-jelek saja, ya orang-orang yang jelek dan brengsek-brengsek itu, ya Negara yang rasanya salah urus ini, ya segala yang salah dan jelek. Lupa. Ditengah ketidakpuasanku, aku lupa bahwa masih banyak orang disana yang tulus dan tak berpamrih. Orang-orang seperti itulah yang harusnya bisa membuat aku bangga jadi orang Indonesia. Pasti masih banyak orang tulus macam para pejuang itu, buktinya sampai sekarang Indonesia belum runtuh juga, belum bubar jalan seperti Uni Sovyet. Belum ada Kesultanan/Republik Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kesultanan/Republik Aceh atau Republik Papua. Negara ini masih mampu membuatku ingin kembali pulang (pernah naik taksi dengan sopir dari Afghanistan yang bertanya kenapa tidak mendaftar jadi permanent resident di Australia saja seperti dia dan keluarganya, toh kualifikasi pendidikan yang aku dan suamiku punya memungkinkan untuk mendapat pekerjaan yang menghasilkan dollar). Di Negara ini aku yang perempuan ini masih bisa bekerja dan berkarir, masih bisa jalan-jalan dan pulang malam tanpa ditangkap polisi atau di tembak sniper (macam di Irlandia utara), masih boleh nulis nggak karuan kaya ini…

Pertemuan berikutnya dengan bapak Frank Palmos adalah ketika kami sama-sama minum kopi di Uni Club. Aku bilang terima kasih pada beliau karena sudah meneliti dan menyampaikan hasil penelitiannya tentang Pertempuran Surabaya itu dengan sangat menarik (by the way, aku sempat tanya ke beliau juga tentang peran Bung Tomo yang sama sekali tidak disebutkan oleh bapak Palmos, dan aku mendapat jawaban yang mengesankan dan mengejutkan). Kemudian karena beliau harus membantu istinya menunggu toko mereka, beliau pamit duluan. Dari bapak Stephen Dobbs, pengajar di jurusanku, aku mendapat beberapa fakta yang membuatku jadi tambah salut dan hormat pada bapak Frank Palmos.

Bapak Frank Palmos ternyata adalah wartawan Australia pertama yang dikirim ke Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia. Beliau adalah penterjemah dari Presiden Soekarno untuk wartawan-wartawan asing ketika Bung Karno berorasi dan berkeliling dari satu daerah ke daerah lain (kapan persis tahunnya, sayangny aku tidak tahu). Beliau adalah semacam war correspondent dan meliput perang Vietnam (pantesan Beliau menertawakan museum yang ada di Vietnam sekarang. Beliau bilang museum itu menggelikan. Beliau bisa berbahasa Perancis karena itu beliau bisa ‘blend in’ dengan orang-orang di Vietnam Selatan dengan baik). Beliau kehilangan satu matanya di Timor Timur. Beliau pernah tinggal lama di Indonesia.

Singkatnya, yang tidak singkat tentu saja, aku salut sama bapak Frank Palmos. Intinya beliau mengingatkan bahwa masih banyak hal yang bisa dibanggakan tentang Indonesia dan menjadi orang Indonesia. Itu aja.

Dua jempol buat bapak Frank Palmos. Dua jempol buat INDONESIA.

Catatan 1. Note ini tidak bicara tentang ‘Battle of Surabaya’ sama sekali karena bapak Frank Palmos akan menerbitkan thesis-nya sebagai buku dengan style lebih popular dan akan mencari penerjemah dan penerbit di Indonesia. Aku pasti akan beli buku itu. Banyak hal-hal detail yang menarik dan tidak bisa aku ceritakan di note ini karena aku takut akan menyaingi bapak Palmos… :p

Catatan 2. Seminar dan semua percakapan dalam bahasa Inggris dan sudah diterjemahkan sangat bebas.

Catatan 3. Ada hal lain yang membuat seminar bapak Palmos menarik. Anak bapak Palmos (yang membantu mengoperasikan computer) guaaanteeennnggg buuaannggggeetttt bak bintang film…. Wkwkwkwkwkwkwk … lumayan … bening…

Monday, April 18, 2011

Aku, Karel, dan uang 20200 rupiah

Setiap kali aku berkumpul sama mahasiswa dan makan bersama mereka, aku memposisikan diri seperti mereka terutama soal uang. Lepas dari berapa pun jumlah uang tak tunai siap ambil yang ada di rekeningku, aku berpatokan pada uang saku minimal mahasiswa tak berpunya. Suatu hari aku dan mahasiswa Sastra beramai-ramai datang ke pameran Fakultas Sastra di Java Mall. Setelah itu kami makan bersama di Pujasera. Kalau tidak salah ada Dee Dee, Anita, Igor, Karel, Danty, Dany dan aku. Dee Dee mentraktir Anita bakmi, Karel dan Igor memesan makanan untuk mereka sendiri-sendiri (nggak ingat apa), sedang Danty, Dany, dan aku cuma minum ‘Teh Tong Tji’ sambil memakan sedikit bakmi hasil pemberian (dengan penuh belas kasihan) Dee Dee dan Anita.

Bagaimana pun tabahnya kami bertiga yang tidak makan ini, perut kami tak bisa ditipu (setidaknya perutku tidak bisa ditipu). Aku mulai ribut mengumpulkan receh2 di tasku. Dari 5000 yang kupunya, 1500 sudah kepotong buat beli teh. Yang seribu buat bayar parkir. Berarti masih 2500. Aku tanya ke Danty, ‘2500 bisa dapat apa?’ Dan Danty menambah 2000. Jadilah 4500 rupiah.

Keributanku dan Danty membuahkan iba. Karel menyumbang 5000, Igor 5000… 14500… Dany menyumbang 200 perak… (Huh! Pelit) … Sisanya sumbangan Dee Dee dan Anita… Total uang pribadi dan sumbangan adalah 20200. Dengan uang iuran itu, aku dan Danty dengan riang gembira memesan nasi goreng.

Karel (yang belum begitu aku kenal waktu itu) sempat bilang dengan nada prihatin, ‘Eh… mau bayar pake uang-uang receh itu? Sini uangnya tak tukar pake yang utuh dulu.’ Dan dia menukar uang receh kami dengan 20000-an. Kasihan Karel, dia mungkin waktu itu merasa malu bareng-bareng ke Pujasera sama orang-orang ‘kere’. Padahal, ‘it’s not about money, Karel … it’s about confidence…’ hekekekekke…

Tahukah anda kemudian bahwa yang makan paling banyak adalah Dany yang cuma nyumbang 200 rupiah???

Thursday, April 14, 2011

Eternal Silence

Status pendek untuk Danty

"Sebentar," katamu. "Aku pergi dulu. Aku ada rapat."

Aku tersenyum mendengarnya.

"Sayangku," kataku dalam hati. "Ketika kau sudah selesai dengan urusanmu, aku tak akan ada lagi di sini menunggumu. Aku akan pergi ke tempat dimana bumi bertemu langit... arrivederci..."

Wednesday, April 13, 2011

Love - Def Leppard

Love, love look what you've done to my heart
Oh I should've known from the start
That, you'd go and tear it apart
Oh and now you've deserved me

You never lose, you never fail
You always live to tell the tale
You take me up, you bring me down
Without a touch, without a sound

Love, love why do I keep searching high and low?
You take me in your arms and let me go

Oh how long must it be until you, come run back to me cant you see
I got no release from the pain just to see you again

You never lose, you never fail
You always live to tell the tale
You take me up, you bring me down
Without a touch, without a sound

Love, love why do I keep searching high and low?
You take me in your arms and let me go

Love, love, let me go

[Guitar Solo]

When will love set me free?
When will you come back to me?

Oh love, love why do I keep searching high and low?
You take me in your arms and let me go

Oh love

Lyric taken from:

http://www.lyricstime.com/def-leppard-love-lyrics.html

Monday, April 11, 2011

Haruskah aku minta maaf?

Aku menghargai keputusanmu untuk meninggalkanku. Aku tak akan memaksamu untuk tinggal, untuk mencintaiku selamanya.

Tapi haruskah aku minta maaf padamu kalau aku tetap mencintaimu?

Haruskah aku minta maaf padamu kalau aku masih tetap setia menunggumu di tempat yang sama?

Haruskah aku minta maaf padamu kalau aku masih tetap memesan makanan favoritmu setiap aku makan hanya untuk dapat merasakan kehadiranmu di sana?

Haruskah aku minta maaf padamu kalau aku masih tetap mendengarkan lagu-lagu kesayangan kita berdua?

Haruskah aku minta maaf padamu kalau aku masih menyimpan barang-barang milikmu?

Haruskah aku minta maaf padamu kalau aku masih mempertahankan semua kenangan bersamamu di dalam hatiku?

Aku hanya akan minta maaf padamu tentang satu hal …

Maafkan aku karena aku tak mungkin berhenti mencintaimu …

Friday, April 8, 2011

Pekerjaanku atau kamu?

Semalam aku mimpi melihatmu duduk jongkok bersandar tembok di tepi deretan kasir sebuah Mall besar di Semarang, dikelilingi banyak koper2 besar kecil untuk perjalanan jauh. Tiba-tiba aku melihat seorang yang juga aku kenal menghampirimu dan draaaaaattttt …. Tiba-tiba orang itu menembakkan sumpitnya kepadamu.

Aku berlari menghampirimu dan menolongmu berdiri. Aku memapahmu berlari dari orang yang mencelakakanmu.

Kita sampai di sebuah tangga spiral ketika tiba-tiba laptop yang aku bawa jatuh ke lantai dasar. Dengan panik, aku bergegas meninggalkanmu. Berlari turun menuju laptopku. Kau yang terluka kutinggalkan begitu saja di lantai atas. Ehhhmmm, bukan … kau kutitipkan pada dua gadis yang kebetulan ada di sana.

Sampai di lantai dasar, aku segera memungut laptopku. Berusaha menghidupkan laptop itu dan memperbaiki kerusakannya. Aku dengar namaku dipanggil-panggil oleh gadis-gadis yang menjagamu, dan aku hanya mengatakan, “Sebentar, laptopku sedang trouble.”

Aku terbangun setelah itu.

Yaaahhh, itulah aku. Aku temanmu, aku selalu ingin menolongmu, aku selalu berusaha untuk memperhatikanmu. Namun, ketika tiba saatnya dimana aku harus memilih antara pekerjaanku atau kamu. Aku akan memilih pekerjaanku…

Tuesday, April 5, 2011

Tangan-tangan kecil

Akan selalu kuingat tangan-tangan kecil yang berebut memelukku
Dan bisikan di telingaku: “Mama, you’re beautiful.”

Juga kecupan ringan di pipi dan bibirku
Dengan ucapan: “I love you, Mama.”

“I love you boys. Akankan kalian tetap mencintaiku ketika kalian menemukan ‘cinta’ yang lain?”