Wednesday, April 20, 2011

Bapak Frank Palmos dan Indonesia

Pertama kali melihat bapak Frank Palmos waktu WAIF (Western Australia-Indonesia Forum), waktu beliau presentasi thesisnya tentang ‘Battle of Surabaya’. Hal yang mampir di pikiranku adalah ‘yaaahhhh…. lagi-lagi another orang bule yang nulis tentang Indonesia. Cape deh …’ Tapi kemudian presentasinya membuktikan bahwa beliau lebih ‘memahami’ Indonesia dibandingkan aku. Kata ‘memahami’ disini maksudnya bukan pengetahuannya tapi lebih ke hatinya. Salah satu kalimat yang diucapkan oleh beliau yang sangat masuk ke hatiku waktu itu adalah: “Indonesia itu luar biasa, meskipun secara geografis sangat terpisah-pisah tapi sampai sekarang masih mampu tetap bersatu.”

Woaaaa… pak… aku adalah generasi yang lahir dan besar dengan indoktrinasi tentang betapa hebatnya negara dan bangsaku. Namun aku juga generasi yang ketika aku dewasa mengalami sediri transisi dari jaman orde baru ke reformasi (dan entah jaman apa lagi) yang dihadapkan pada berbagai persoalan yang membuatku berpikir bahwa semua indoktrinasi yang aku dapat dulu waktu sekolah adalah suatu KEBOHONGAN BESAR !!! Bahwa aku akhirnya merasa bahwa negaraku payaaahhhh dan bangsaku penuh dengan orang-orang brengsek. Jadi kalaupun aku bilang bahwa aku bangga jadi orang Indonesia, itu lebih karena otakku bilang aku harus merasa seperti itu (bukan hatiku) dan karena aku dua kali ini harus hidup jauh dari kehangatan dan kenyamanan fasilitas yang ada rumahku di Indonesia dan hidup di negeri asing. Jadi boleh di bilang kalau rasa banggaku adalah bangga a-la romantisme gitu.

Waktu pak Frank Palmos bilang bahwa Indonesia itu luar biasa, aku jadi mulai berpikir bahwa, “Aheeemmm, benar juga ya. Biar hujan, badai, gempa, tsunami, gunung meletus, bom, terorisme, konflik etnik, kemiskinan, kelaparan, korupsi/manipulasi, kerusakan lingkungan, banjir bandang, kometar-komentar politisi yang benar-benar mabok, dll, dll (silahkan sebutkan yang lain), bangsa ini sepertinya cukup ngeyel juga untuk tetap bersatu.”

Pertemuan kedua dengan Bapak Frank Palmos adalah di Asian Studies seminar di jurusanku. Eh… ternyata bapak Palmos ini kakak kelasku. Tiga atau empat minggu lagi dia akan mengumpulkan thesisnya (iri … pengin cepet selesai juga. Amien.). Beliau membawa print kompas.com tentang Bapak Rosihan Anwar (narasumber) yang hari itu meninggal (tanggal 15 April 2011) padahal Mei rencananya Bapak Frank Palmos akan ke Indonesia untuk membawa naskah tentang ‘Kisah Cinta bapak Rosihan Anwar dan istrinya.’ Membawakan topik yang sama tentang ‘Battle of Surabaya’, beliau menunjukkan foto-foto tentang ‘Battle of Surabaya’ dan rekaman wawancara beliau dengan narasumber di Indonesia: Jendral Suharyo dan Bapak Rosihan Anwar. Salah satu foto itu adalah foto sekumpulan anak muda yang berjuang di Pertempuran Surabaya. Gaya mereka di foto itu sama sekali tidak kelihatan kalau sedang perang. Alih-alih bergaya bak tentara yang sangat kaku dan garang, para anak muda pejuang itu bergaya ala boyband (istilah yang sedikit lebay ya?) dengan wajah cerah dan senyum terkembang (sambil bawa senjata tentunya). Para pejuang itu ada diusia 16 – awal 30-an. Menjawab pertanyaan salah satu peserta seminar tentang apa yang dilakukan oleh para pejuang itu setelah perang selesai, apakah mereka bergabung ke dalam partai atau organisasi politik yang ada, Bapak Frank Palmos berkata kalau para pejuang itu setelah perang kebanyakan ‘KEMBALI KE SEKOLAH’ … Karena, lanjut beliau, tujuan mereka berjuang adalah untuk MERDEKA (to be free), jadi ketika perang selesai dan tujuan mereka tercapai mereka kembali ke kegiatan mereka sebelumnya.

Malu. Kata itu yang melintas di pikiranku dan hatiku. Aku jadi merasa malu karena merasa bangga semu terhadap Indonesia, karena sering merasa jengkel pada negara dan bangsaku sendiri. Malu pada mereka-mereka yang berjuang dan tidak berpamrih apa-apa, malu karena di tengah kejengkelanku dan marahku pada bangsa dan negaraku, aku hanya mampu melihat yang jelek-jelek saja, ya orang-orang yang jelek dan brengsek-brengsek itu, ya Negara yang rasanya salah urus ini, ya segala yang salah dan jelek. Lupa. Ditengah ketidakpuasanku, aku lupa bahwa masih banyak orang disana yang tulus dan tak berpamrih. Orang-orang seperti itulah yang harusnya bisa membuat aku bangga jadi orang Indonesia. Pasti masih banyak orang tulus macam para pejuang itu, buktinya sampai sekarang Indonesia belum runtuh juga, belum bubar jalan seperti Uni Sovyet. Belum ada Kesultanan/Republik Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kesultanan/Republik Aceh atau Republik Papua. Negara ini masih mampu membuatku ingin kembali pulang (pernah naik taksi dengan sopir dari Afghanistan yang bertanya kenapa tidak mendaftar jadi permanent resident di Australia saja seperti dia dan keluarganya, toh kualifikasi pendidikan yang aku dan suamiku punya memungkinkan untuk mendapat pekerjaan yang menghasilkan dollar). Di Negara ini aku yang perempuan ini masih bisa bekerja dan berkarir, masih bisa jalan-jalan dan pulang malam tanpa ditangkap polisi atau di tembak sniper (macam di Irlandia utara), masih boleh nulis nggak karuan kaya ini…

Pertemuan berikutnya dengan bapak Frank Palmos adalah ketika kami sama-sama minum kopi di Uni Club. Aku bilang terima kasih pada beliau karena sudah meneliti dan menyampaikan hasil penelitiannya tentang Pertempuran Surabaya itu dengan sangat menarik (by the way, aku sempat tanya ke beliau juga tentang peran Bung Tomo yang sama sekali tidak disebutkan oleh bapak Palmos, dan aku mendapat jawaban yang mengesankan dan mengejutkan). Kemudian karena beliau harus membantu istinya menunggu toko mereka, beliau pamit duluan. Dari bapak Stephen Dobbs, pengajar di jurusanku, aku mendapat beberapa fakta yang membuatku jadi tambah salut dan hormat pada bapak Frank Palmos.

Bapak Frank Palmos ternyata adalah wartawan Australia pertama yang dikirim ke Indonesia untuk belajar bahasa Indonesia. Beliau adalah penterjemah dari Presiden Soekarno untuk wartawan-wartawan asing ketika Bung Karno berorasi dan berkeliling dari satu daerah ke daerah lain (kapan persis tahunnya, sayangny aku tidak tahu). Beliau adalah semacam war correspondent dan meliput perang Vietnam (pantesan Beliau menertawakan museum yang ada di Vietnam sekarang. Beliau bilang museum itu menggelikan. Beliau bisa berbahasa Perancis karena itu beliau bisa ‘blend in’ dengan orang-orang di Vietnam Selatan dengan baik). Beliau kehilangan satu matanya di Timor Timur. Beliau pernah tinggal lama di Indonesia.

Singkatnya, yang tidak singkat tentu saja, aku salut sama bapak Frank Palmos. Intinya beliau mengingatkan bahwa masih banyak hal yang bisa dibanggakan tentang Indonesia dan menjadi orang Indonesia. Itu aja.

Dua jempol buat bapak Frank Palmos. Dua jempol buat INDONESIA.

Catatan 1. Note ini tidak bicara tentang ‘Battle of Surabaya’ sama sekali karena bapak Frank Palmos akan menerbitkan thesis-nya sebagai buku dengan style lebih popular dan akan mencari penerjemah dan penerbit di Indonesia. Aku pasti akan beli buku itu. Banyak hal-hal detail yang menarik dan tidak bisa aku ceritakan di note ini karena aku takut akan menyaingi bapak Palmos… :p

Catatan 2. Seminar dan semua percakapan dalam bahasa Inggris dan sudah diterjemahkan sangat bebas.

Catatan 3. Ada hal lain yang membuat seminar bapak Palmos menarik. Anak bapak Palmos (yang membantu mengoperasikan computer) guaaanteeennnggg buuaannggggeetttt bak bintang film…. Wkwkwkwkwkwkwk … lumayan … bening…

No comments: