Showing posts with label Igor. Show all posts
Showing posts with label Igor. Show all posts

Sunday, September 23, 2012

Dany dan musik yang berhenti di tengah

Aku, Dany dan Igor sedang mendengarkan lagu-lagu di Youtube. Igor yang memegang mouse (= memegang kendali atas computer dan lagu-lagu yang didengarkan) dengan ‘frantic’ membuka youtube dan meng-click lagu yang dia suka sambil promosi untuk mendengarkan lagu itu, ‘Lagu ini bagus, dengarkan ya…’ Di tengah-tengah lagu itu, Igor yang menemukan lagu lain bilang, ‘Lagu ini juga bagus…’ Lalu Igor mulai meng-click lagu yang lain itu. Saat itulah Dany bersuara, ‘Wis to Gor, aja diganti-ganti lagune. Bayangke wae nek kowe lagi tengah-tengah nyanyi kon mandheg terus ganti lagu. Mesthi rak enak.’ (Terjemahan: Sudahlah Gor, jangan diganti-ganti lagunya. Bayangkan kalau kamu lagi tengah-tengah menyanyi terus disuruh berhenti dan ganti lagu. Mesti nggak enak).

Wuaahhh... absurd banget membayangkan live music yg berhenti di tengah-tengah...

Saturday, April 28, 2012

A letter for Igor

Dear Kid,

For me, faith, like love, is a gift. It is a matter of heart not mind. One cannot ask to possess it, one cannot get rid of it. It is unknown, undefinable, indescribable, un’mudeng’able. One cannot push beyond one’s limit to understand it.

P. Donny once told me that it is about hope (if I remember it right)t; … Yup…there were times when I reached my limit, when I felt like ‘shit’… and I just need a kind of ‘hope’ in a seemingly long blindly dark tunnel… something that no matter how inhumane, absurd, and irrational is where I can just do, like Anton often says jokingly, ‘sendhekke wae…’

Simply say, in this fast roller-coaster like life, torn between tradition and knowledge, I personally think that I should not stop searching for the way to understand ‘it’… not yet... at least… not at this moment. I do not want to put myself in a category of ‘believer’ or ‘non-believer’ as I trust that I am still not qualified enough to claim myself to be one of it.

I do not want to be a ‘non-believer’ just because I am too lazy or I don’t find praying/going to church fun or I just don’t like people telling me what to do. Also, I do not want to be a ‘believer’ just because it is a must, it is a tradition or I am afraid of what others might think about me. And hey… I go to Church (almost) every Sunday because I want to not because I have to…

Well, there is still a long way for me to go… it’s a kind of challenge for me… even if I find nothing at the end… I enjoy the thrill of this quest… :p



Yours truly,

Just me,
& a cup of smouldering ‘Kapal Api’ coffee,
& Avantasia’s In Quest For…

Ps. If you believe in what you believe in (in your case by not believing it) you also have to respect what others’ believe in. It is so absurd that people can mould it, they can appropriate it in a way they want it to be... Even by saying that they don’t believe it, I am afraid… That is to say that the most devious player of this game of faith is ‘man’ (and woman of course…)… :D…

Friday, February 3, 2012

Ketika Igor Ditolak Cwe

Sebagai teman, paling susah kalau pas Igor ditolak cintanya sama orang yang lagi diincernya. Kaya’ waktu dia suatu hari bilang, ‘Dia (mengacu ke cewek yg lagi dia suka) bilang lebih baik kami berteman aja.’ Atau pas dia kirim sms ‘Aku patah hati. Ternyata dia sudah punya pacar.’ Or sekedar meracau, ‘Aku suka sama dia. Dia tidak pernah nolak aku ajak pergi setelah aku bilang aku suka sama dia. Tapi dia nggak bilang apa-apa.’

Ikut berduka tapi juga bingung gimana cara menghiburnya. Harga dirinya tinggi banget kalau berhubungan dengan hal yang satu ini. Dia tidak mau dikasihani meskipun kasihan juga kalau dengar ceritanya. Tapi dibuat guyon juga nggak bisa karena dia akan tersinggung dan ‘sulking’. Kalau udah tersinggung, dia akan pasang muka ‘gelap’ ke aku. Lucu kan? Yang mbuat patah hati siapa, yang dimarahi siapa. Dia juga model ‘patah tumbuh hilang berganti’. Paling sebentar kemudian dia akan jatuh cinta sama cewek lain. Jadi aku biasanya cuma bisa nyengir dan nggak ngomong apa-apa. Paling banter aku tanya, ‘Kamu nggak apa-apa?’ Yang dijawab dengan, ‘Kalau aku nggak baik-baik saja, aku nggak akan main ke sini hari ini. Diam di rumah.’ Or ‘Yang penting sekarang buat aku adalah selesai kuliah…’

Ya oke lah… whatever you say…

Semoga dengan pacarnya kali ini, yang juga temanku dan temannya (dan yang kurasa emang paling suaaabbbarrr dan cocok buat dia), dia akan awet.

Friday, January 20, 2012

Igor marah padaku

Kadang-kadang aku memang ‘careless’, aku sering tidak mengecek indicator bensin motorku sebelum berangkat kerja, padahal tempat kerjaku jauh dari pompa bensin dan bensin eceran sempat hilang dari pasaran gara-gara issue harga bensin akan naik. Pada saat itulah suatu hari aku yang mendapati indicator bensinku mentok dibawah garis merah minta tolong pada Igor untuk mengikutiku dari belakang sampai ke pom bensin terdekat (di Sampangan) yang nggak bisa dibilang dekat juga. Paling enggak kalau aku kehabisan bensin dan harus mendorong motorku sampai ke pom bensin, aku punya teman.

Setelah sepakat dengan Igor, aku langsung men-start motorku dan langsung keluar Unika ke arah pom bensin. Melewati Untag, aku merasa mesin motorku sudah mulai tersendat-sendat. Kalau sampai mesinnya mati, bisa dipastikan motorku sudah tidak bisa lagi di start dan aku harus mendorongnya. Karena itu aku memutuskan untuk memacu motorku secepat-cepatnya di gigi tinggi dengan pikiran kalau pun aku harus mendorong motorku ke pompa bensin setidaknya tidak terlalu jauh.

Tapi aku lupa beberapa hal. Aku lupa kalau Igor tidak pernah memacu motornya lebih dari 40 km/jam. Dengan konsentrasi ke tujuan memperpendek jarak ke pom bensin, aku juga lupa bahwa aku sempat minta tolong Igor untuk mengikutiku dari belakang.
Maka ketika akhirnya aku sampai ke pom bensin tanpa harus mendorong motorku (dan pas banget karena begitu sampai pom bensin, mesin motorku langsung mati waktu aku kecilkan gasnya), aku langsung mengisi bensin motorku.

Waktu aku keluar dari pom bensin, aku melihat ada motor pelan-pelan berhenti. Motor Igor. Dan aku tiba-tiba ingat bahwa aku minta dia mengikutiku dari belakang. Aku berhenti didekatnya untuk berterima kasih. Tapi belum sempat aku membuka mulutku, Igor bicara dengan nada sedikit marah, ‘Madam gimana sih? Katanya aku disuruh ngikutin. Malah ditinggal!!!’

T.T… wah aku dimarahin anak kecil…

Tuesday, December 13, 2011

Stupid Question

Kadang aku dan Igor pulang pada saat yang sama dan lewat jalan yang sama. Hanya di satu pertigaan Igor akan berbelok sedang aku akan jalan terus (ctt. kami naik sepeda motor). Sebelumnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkan Igor setiap kali dia belok dan aku selalu menjawab, ‘Yoooookkkk….’
Sampai suatu hari aku menangkap bahwa yang diucapkan Igor adalah, ‘Aku belok sini ya?’
Yang kujawab dengan anggukan dan kata yang sama, ‘Yooookkkk…’
Setelah beberapa kali mendapat pertanyaan yang sama setiap kali Igor akan belok, suatu hari ketika kami pulang pada saat yang sama, pertanyaan Igor, ‘Aku belok sini ya?’ kujawab dengan keras, ‘NGGAK BOLEH!!!.’
Jawabanku yang keras dan beda ini mungkin membuat Igor kaget karena dia akhirnya tidak jadi belok dan dia melihatku yang nyengir lebar dengan pandangan jengkel…. Hehehehehe…
Ya… maaf …

Wednesday, November 30, 2011

Pilek

Ini cerita sangat pendek soal igor dan pilek. Karena gaya hidupnya yang habis-habisan, dia rentan sama sakit flu. Pilek terutama dan batuk, tenggorokan kering, panas… ya gitu deh… Persis seperti anak balita. Kalau lagi sehat, munyer wae (bergerak terus); kalau sakit, bruk… gitu, terkapar berat… . Sehat sedikit, udah mulai deh… main lagi sampe habis.

Suatu hari setelah dia sakit dan ‘main’ ke kantorku, dia bilang dengan bangga, “Madam, aku sudah nggak pilek lagi… … … SRROOOTTTTT… hehehe.”

*aku jadi ingat episode ini krn tampaknya aku dan teman di sebelahku persis terserang flu mendadak gara-gara cuaca yg gak jelas gini... dan kami berlomba menghabiskan tissue... srooottt ...

Saturday, October 15, 2011

High and Dry

Aku pernah bilang ke Igor kalau dia itu mirip anak umur 10 or 12 tahun yang terjebak di tubuh usia 23 tahun (waktu itu tahun 2008)… Dia selalu labil, kekanak-kanakan (immature) … dan sampai sekarang masih terus ber’akrobat’ dengan hidupnya… Kalau sedang suka satu hal semangatnya meletup-letup bak jagung pop-corn yang sedang dipanaskan… dan gosong (fotonya dimana ya?). Tapi tidak lama kemudian dia bosan dan sudah… semangatnya hilang.
Lagu yang menurutku cocok buat dia adalah High and Dry –nya Radiohead. Ini lagu pokoknya dia banget:

Two jumps in a week, I bet u think that’s pretty clever don’t u boy
Flying on ur motorcycle, watching all the ground beneath u drop
You’d kill urself for recognition; kill urself to never ever stop
U broke another mirror; you’re turning into something u r not

Aku pernah iseng bertanya ke dia, ‘Apa kamu tuh nggak cape’ toh… kamu tuh kok pinter bener ngehabisin waktu…’
Jawabannya santai, ‘Nggak …’
What can I do then??
Pernah dia bertanya ini ke aku, “What if you are my mother?”.
Jawabku singkat, ‘Ngendhat…mati gasik…’ (Bunuh diri… mati muda)
… yup… yup …
Melihatnya ke sana kemari itu membuatku lelah.

Ini contoh kegiatan hariannya waktu itu dengan asumsi dia bangun jam 09.00 (hasil rekaan berdasarkan observasi isengku dan cerita Igor):

09.00 melek
09.00 – 11.00 Sms or telpon ke cwe2 yang lagi dia suka, ribut mainan komputer, cari makan pagi, ke tukang pijet, siap2 ke WC, siap-siap keramas n sikat gigi (nggak mandi), ngeributin Ibu Ika (ibunya), nyuci mobil kalau habis pake hari sebelumnya, ngerjakan tugas yang harus dikumpul hari itu, nunggu (sambil bengong) motor-nya yang dipakai pak tukang
11.00 – 12.00 Keliling cari teman (kalau bisa cewek) yang bisa diajak makan siang
12.00 makan siang
13.00 ke Sedes untuk nongkrongin gadis2 muda atau ke kampus
13.00 – 16.30 Di kampus, kuliah, nyanyi ngawur, nggitar ngawur, surfing internet, ngobrol, ngopi, makan mie instant buatan pak Kasno
16.30 – 18.00 Ke Sedes untuk mengasisteni tim basket putri, or parkour di kampus, or basket di kampus
18.00 – 21.00 Jalan-jalan ke mall dengan teman sambil cari makan malam, atau nonton bioskop, atau kencan sama Karel atau Anita (yg sekarang jd pacarnya)
21.00 – 02.00 Ke tempat Flx buat main gitar or ke tempat Oq buat ngobrol, nyanyi-nyanyi dan minum or minum sama Karel…
02.00 sneaking masuk rumah via lantai dua
02.00 – 03.30 Ngirim sms iseng ke semua nomor yang dia kenal or main gitar kalau lagi kumat idenya buat mbuat lagu
03.30 tepar

Sunday, September 4, 2011

It's about Choice ...

Dapat text dari Danty bahwa dia sekarang mengajar di suatu tempat dengan bayaran 5000 rupiah per jam (padahal kalau les private biasanya dapat 60000 rupiah satu session), rasanya jadi nggak tega sama dia. Bukannya aku mata duitan atau itungan, aku juga tidak tahu harga pasaran orang yang ngasih kursus berapa, tapi 5000 rupiah? Yang bener aja... apa nggak rugi di ongkos transport ya?

Aku konfirm tentang pilihan kerjanya itu via Twitter dan dia tweet balik:

"ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ tp aku senang kok. Jd ngerasa susah cari duit. Biasanya mudah :D RT @48ikecool: rumah piyik? baguslah, tak tega aku baca text-mu kemrn..."

Ahahahaha ... iya deh ... baguslah kalau dia belajar bahwa cari duit itu susah ... jadi dia tidak akan "taken for granted" kemudahan dan fasilitas yang selama ini dia rasakan. #akubersyukur

EEEEiiiiTTTssss ...bentar... ada sedikit hal yang mengganggu di sini...

Danty bisa dengan gampang, INDAH, dan mengharukan bilang bahwa dia jadi bisa "belajar" kalau cari duit itu susah karena DIA PUNYA PILIHAN. Dia punya pilihan untuk TIDAK bekerja di tempat yang hanya membayarnya 5000 per jam itu.

Pertanyaannya adalah:

"Apakah orang yang tidak punya pilihan dan terpaksa mengambil pekerjaan dengan bayaran 5000 per jam itu juga akan bisa dengan ringan mengatakan bahwa dia jadi bisa "belajar" bahwa cari uang itu susah?"

Aku khawatir kalau orang yang tidak punya pilihan tapi harus menerima bahwa dia dibayar rendah untuk kerjanya itu tidak bisa lagi menikmati kata "belajar bahwa hidup itu susah" karena buat dia hidup itu memang bener-bener susah. Dia tidak akan punya waktu lagi untuk merefleksikan makna "belajar" itu.

Sama waktu Igor pasang status di Facebook, mengeluh kalau selama dia kuliah di Bandung, dia hanya mengkonsumsi mie instant. Masalahnya adalah dia punya PILIHAN (kalau dia mau mengurangi rokok, konsumsi alkohol, nonton bioskop, dan jalan2 yg tidak perlu) untuk meningkatkan gizinya.

Aku membayangkan bahwa orang yang tidak punya pilihan untuk makan yang lain kecuali mie instant pasti tidak akan sempat mengeluh. Mereka tidak punya waktu untuk itu... untuk sekedar mengeluh... karena hidup mereka sudah sulit.

Jadi, berbahagialah orang yang masih bisa "belajar", masih bisa "mengeluh", dan masih bisa "merefleksikan kata2 orang dan menuliskannya" (seperti aku sekarang ini), karena itu berarti hidup orang itu belum benar-benar MENDERITA ... Masih punya WAKTU untuk "MERASAKAN PENDERITAAN" itu merupakan anugerah tersendiri ...

Monday, August 29, 2011

Felix dan Ike tentang sms ke & dari Igor...

Suatu malam yang sudah cukup larut Felix mengirim sms ke aku.

Flx’ received message
Madam, tahu Igor ada dimana? Aku sms dia berkali-kali tapi tdk dijawab.

Ike’s sent message
Aku nggak tahu. Terakhir aku lihat di kampus tadi sore. Ada apa?

Flx’s received message
Penting madam. Masalah hidup dan mati.

Ike’s sent message
Kl kamu 1. tdk berdada montok, 2. tdk berkulit putih, 3. bukan nonik-nonik, 4. tdk berumur di bawah 17, jgn berharap banyak Igor mau membalas sms-mu … :D



Ps. Felix sudah sangat putus asa mencari Igor sampai dia sms aku yang jelas-jelas tidak tahu kemana Igor. Baik aku maupun Felix tidak masuk ke semua kategori yang ada diatas, jadi percuma juga sms Igor dan berharap dia membalas sms kami, ‘Mungkin sebaiknya di badan Igor dipasang GPS tracker, jadi ketahuan dia dimana ya Flx?’

Friday, July 29, 2011

Igor n astrologi

‘Kata ramalan bintangku, minggu ini ada Aries yang jatuh hati sama aku,’ kata Igor tiba-tiba waktu aku, Nana (adik iparku), dan dia sedang makan di pujasera sebuah Mall sambil menunggu pesanan Laptop Nana yang dijanjikan akan datang satu jam lagi.
‘Aku Aries…,’ kata Nana.
‘Berarti mungkin mbak Nana jodohku,’ kata Igor.
‘Wegah… nek karo kowe*,’ kata Nana sambil tertawa. (*Terjemahan: Nggak mau … kalau sama kamu).
‘Pasti seru ya madam, kalau aku main ke rumah madam buat ngapelin mbak Nana,’ kata Igor maksa.
‘Siapa yang bilang kalau aku cocok sama kamu?’ tanya Nana.
‘Lho iya, Sagitarius itu cocok sama Aries. Ada di buku,’ kata Igor.
‘Kamu baca buku karangannya siapa?’ tanya Nana lagi.
‘Karangannya …,’ Igor menyebut nama pengarang buku Astrologi yang aku tak ingat dan tak tahu siapa.
‘Kamu harusnya baca buku karangannya …..,’ Nana juga menyebut nama pengarang yang aku tak ingat dan tak tahu siapa.
‘Ramalan yang ada di bukuku banyak tepatnya,’ kata Igor.
Itulah Igor, entah sudah berapa kali dia bicara soal jodoh yang tepat berdasarkan ramalan bintang. Contohnya waktu dia jatuh cinta sama cewek yang berbintang ‘Leo’, dia akan bilang kalau ‘Sagitarius’ (bintang Igor) cocok dengan ‘Leo’; waktu dia suka sama cewek berbintang ‘Gemini’, dia bilang kalau ‘Sagitarius’ dan ‘Gemini’ compatible… dsb….dsb….
Jadi satu-satunya kalimat yang kuucapkan di sepanjang percakapan itu adalah, ‘Jangan-jangan di bukumu, Sagitarius itu cocok dengan semua bintang?’

Friday, July 1, 2011

Titanic

Aku tidak pernah menonton Titanic secara utuh dengan alasan: a) film itu berakhir sedih. Ngapain bayar mahal-mahal kalau cuma buat sedih; b) terlalu banyak orang mati tragis di film itu; c) setting-nya di laut and/or di kapal yang potensial membuatku mual; d) aku tidak suka dengan jalan ceritanya; e) aku tidak suka actor utamanya…
Igor, sebaliknya, sangat suka film ini. Sebagai bagian dari usahanya untuk meyakinkan aku bahwa dia bukan penggemar film nggak mutu, dia menceritakan bagian yang menarik dari film ini ke aku:
‘Filmnya bagus lho Madam… aku suka bagian waktu cewek dan cowoknya terapung-apung di laut. Ceweknya ada di atas pelampung dan cowoknya di air. Waktu itu cowoknya kedinginan dan mulai tenggelam. Terus sama ceweknya dipanggil-panggil, ‘JOHN…JOHN…’ …
Igor berhenti sejenak.


‘Eh… nama cowoknya bukan John ding… namanya Jack…,’ ralat Igor dengan ekspressi mengingat-ingat.
Aku yang tadinya mendengarkan dengan serius demi menghargai hak bicara dan hak berpendapat Igor, akhirnya ngakak berat…
‘Ya iyalah… pantesan tuh cowok mati… lha wong ceweknya manggilnya salah orang… jelas-jelas yang mau tenggelam Jack kok yang dipanggil-pangil John… ya Jack-nya nggak selamat…,’ kataku.

Ps. Gara-gara Igor cerita adegan ini dan mungkin aku kena kutuk karena ‘make fun of it’, adegan Titanic ini seakan mengikutiku dan mencari waktu yang tepat untuk muncul: 1) di HBO waktu aku lagi di Icos, 2) di TV di rumah, 3) di HBO waktu aku di Tugu Luwak… dan hebatnya kok ya pas adegan si Rose (sekarang aku tahu nama ceweknya) manggil-manggil si John… eh… Jack…

Sunday, May 29, 2011

Percobaan bunuh diri Igor

Ini salah satu cerita yang menggambarkan betapa High and Dry-nya Radiohead adalah soundtrack keseharian Igor.
Hari itu adalah hari biasa dengan pekerjaan biasa dan kejadian-kejadian biasa sampai waktu makan siang. Aku yang lapar memutuskan untuk makan di kantin Thomas Aquinas (TA). Karena hari itu aku malas, aku memutuskan untuk naik motor instead of jalan kaki ke TA. Aku turun ke lantai dasar sambil mengirim dan menerima SMS ke dan dari Ruschka. Waktu aku sampai di halaman parkir, aku dengar ada suara ‘BAAAAMMMM!!!’ dari arah belakangku, suara benda jatuh. Lalu aku dengar suara ‘Aduh… aduh… aduh.’ Waktu aku menengok ke belakang Igor terlihat terbungkuk-bungkuk sambil dua tangannya memegang pinggang, berjalan terpincang-pincang ke arahku.
‘Ternyata jauh juga jarak dari atas ke parkiran. Sampai bawah aku mental. Untung nggak kena mobil,’ kata Igor sambil tetap terbungkuk-bungkuk dan meringis menahan sakit.
‘WHAT???’ batinku.
Aku memandang balkon jurusan Arsitektur dan Design, satu lantai diatas parkiran, lalu aku memandang Igor.
‘ASTAGA IGOR??!! Itu sih bukan loncat parkour… tapi percobaan bunuh diri,’ kataku setelah aku sadar apa yang terjadi….

Ps. Saat itu igor sedang hobby parkour…

Saturday, April 23, 2011

Hujan Deras

Suatu hari pernah hujan sangat deras di Semarang, sangat… sangat deras… sampai banjir dimana-mana termasuk di Tanah Mas. Dan Igor mendapat telpon dari orang tuanya yang menyarankan sebaiknya dia tidak pulang ke rumah karena jalan ke rumah mereka sudah tak tampak. Igor gembira luar biasa. Baru kali ini dia disarankan untuk tidak pulang katanya. Policy orang tuanya selama ini adalah dia tidak boleh menginap di rumah orang (selama masih di Semarang ya mestinya) dan harus selalu pulang ke rumah tidak peduli jam berapa pun itu. Yah harap maklum yang namanya Igor ini jago kabur dari rumah dan anaknya agak ngawur, ada peraturan kaya’ gitu aja dia sering memanjat rumahnya untuk masuk di dini hari apalagi kalau nggak ada aturan gitu.

Aku yang dengar berita tentang dia yang disarankan untuk nggak pulang itu cuma bisa bilang: ‘Kamu yakin orang tuamu emang bener ngomong gitu? Jangan-jangan kalau kamu besok pulang, papa mama dan adikmu udah pindah dari rumah itu dan kamu ditinggal sendiri? Bisa aja kan ini cara halus buat mengusir kamu?’

Karena kalau aku jadi orang tuanya pikiran seperti itu pasti melintas dibenakku…

Wednesday, March 9, 2011

300 rupiah?

Hari itu aku dan Igor sama-sama ke gedung Mikael (Rektorat). Aku ke Lemlit di lantai IV untuk laporan tentang penelitianku, Igor ke BAAK di lantai II untuk mendaftar wisuda. Waktu aku sudah selesai dengan laporanku, aku turun untuk pulang. Aku melihat Igor masih di depan counter antara BAAK dan BAK, sibuk mencari-cari sesuatu di kantongnya.

Aku dekati dia dan bertanya, ‘Sudah selesai daftar? Kamu cari apa?’

Dia menjawab, ‘Ini mau ngambil formulir wisuda. Kata Mas-nya harus bayar 300. Aku cuma punya 200.’ Dia memperlihatkan koinnya padaku.

‘Bayar 300 untuk formulir wisuda? Apa iya Universitas semiskin itu dan se-matre itu sampai formulir wisuda saja harus bayar?’ pikirku.

Aku diam sebentar. Tiba-tiba aku mendapat pencerahan.

‘Igor, 300 itu bukan untuk beli formulir wisuda. Mas-nya bilang 300 itu maksudnya 300 ribu untuk bayar wisuda,’ kataku.

Aku menduga kemungkinan besar percakapan yang terjadi adalah seperti ini:

Igor: Mas, mau daftar wisuda.
BAAK: Formulirnya ada disana (sambil mungkin menunjukkan kotak di pojok counter.)
Igor: Bayarnya berapa mas? (merujuk pada formulir)
BAAK: 300. (merujuk pada biaya wisuda)

Sunday, February 6, 2011

Spoiled bastard

Mie instant dan igor adalah dua sejoli yang tak mungkin terpisahkan. Hubungan yang mengerikan mengingat bahan makanan inilah yang menurutku membuat igor kurus kering dan terlihat seperti ‘drug addict’ … tapi…NO… dia cuma ‘mie instant addict’… .

Episode igor dan mie instant yang paling keterlaluan terjadi waktu live-in Fakultas Sastra I tahun 2008 di Kulon Progo. Saat konsep live-in adalah berusaha hidup membaur dengan masyarakat, igor yang menjadi panitia malah tampil bak ‘Tuan Muda’…

Dia datang dengan koper untuk travel-nya (harap dicatat: k.o.p.e.r. … sangat beradab bukan?) dan sekardus mie instant (catat juga: s.e.k.a.r.d.u.s. …. yang mereknya sangat terkenal dari Sangir sampai ke Talaud) untuk live-in yang hanya 3 (t.i.g.a.) hari.

Hal yang sangat mengusik hati nuraniku. Sangat. Buat aku itu adalah gambaran ketidakmauan dan ketidakpedulian. Apa pentingnya live-in kalau tidak untuk belajar hidup yang berbeda. Bahwa hidup ‘enak’ yang dirasakan orang-orang ‘kota’ harusnya disyukuri dan tidak ‘taken for granted’ karena masih banyak orang yang tidak seberuntung ‘kita’. Mana igor panitianya lagi. Huh! Harusnya dia lebih tahu.

Dan bukan igor kalau tidak membuat things more annoying…

Mengingat live-in-nya di desa, kompor yang dipakai adalah kompor minyak tanah. Igor yang nampaknya tak terbiasa dengan kompor minyak tanah sangat … sangat … sangat ribut setiap kali dia akan menyalakan kompor untuk memasak mie instant-nya. Dia berusaha mencari orang yang bersedia membantu dia memasak atau tepatnya memasak untuk dia dengan iming-iming mie instant. Somehow, dia selalu berhasil ‘membujuk’ seseorang untuk memasak mie itu untuk dia.

Jadi, kalau tadinya aku cuma merasa ‘terusik’ … ujung-ujungnya aku merasa ‘jengkel’… Ingin rasanya aku memukul dia pakai sapu dan berteriak, ‘YOU!!!! SPOILED BASTARD!!!!!!’

Untung aku pulang lebih awal jadi tidak ada tragedi pemukulan yang terjadi.


Ps. Karena aku tidak pernah membantu igor, aku juga tidak pernah mendapat bagian mie instant itu… betul kan?

Tuesday, January 11, 2011

Aku, Dany dan rencana kami untuk Igor

Pernah dalam satu waktu aku dan Dany lelah melihat ‘kegilaan’ Igor. Karenanya aku dan Dany berencana untuk menabung dan menyewa pesawat ruang angkasa dan mengajak Igor ikut serta. Jadi kalau Igor sudah terlalu banyak ribut dengan kegilaannya, waktu dia tidur, kami berencana untuk membuka pintu palka pesawat ruang angkasa kami dan mendorong dia keluar. Kami akan membiarkannya terapung-apung di luar angkasa dengan kabel yang mengikat kakinya. Jika kami sudah mulai tenang atau kalau kami butuh hiburan, kami akan menarik Igor kembali ke kapal ruang angkasa kami. Dan membiarkan dia chatter ‘happily’ lagi. Waktu kami mengusulkan hal ini ke Igor, dia menerimanya dengan gembira luar biasa karena ‘berarti aku bisa keluar angkasa ya?’

Monday, December 6, 2010

Betapa selfishnya Igor …

Hari Rabu, ada pertandingan futsal dan latihan dalang untuk pementasan wayang 5 bahasa. Aku yang memanageri tim futsal Sastra sudah ‘emosi tinggi’ karena beberapa pemain datang terlambat. Sempat berteriak marah di telpon ke salah satu pemain (maaf ya Leo…) … sampai ada sms masuk dari Igor:

Message received
‘Madam… hari ini aku nggak bisa latihan dalang.’

Sungguh sms yang datang pada saat yang salah…

Message sent
‘Kenapa?’

Message received
‘Aku mau jalan-jalan sama teman2 basket.’

DOOONNNGGGGG  wrong answer!!!

Aku langsung menelpon dan dengan usaha keras ngomong sesopan mungkin dengan menekan kemarahan sedalam mungkin…

‘Usahakan bisa datang sebentar sekalipun terlambat…’

“Ya…,” jawaban dari ujung lain

Lalu ada sms masuk beberapa lama kemudian:

Message received
‘Maaf madam… aku bener2 nggak bisa datang.’

That’s it … batinku … aku nggak mau memperpanjang emosiku … bisa mati muda aku ngurusin mahasiswa2 yang ‘tidak bertanggung jawab’…jadi aku biarkan saja sms itu tidak terjawab …

Keesokan harinya Igor datang ke pertandingan futsal. Aku yang masih emosi malas menyapa soalnya aku tahu kalau aku kelepasan omong sama aja aku cari musuh …
Sampai tiba2 dia berdiri di depanku dan bilang:

‘Madam, untung lho madam masih bisa ketemu aku hari ini… kemarin aku hampir mati.’

Aku memandang dia dengan takjub dan dalam hati aku bicara: “Astaga… anak ini … dimana-mana juga kalau ada orang nyaris mati tapi masih diberi kesempatan lagi buat ketemu teman2nya pasti akan bilang “Untung aku masih bisa ketemu kalian hari ini” bukannya “Untung kalian masih bisa ketemu aku” …gitu … emang kamu pikir penting ya ketemu kamu? Who cares?”

Aku nggak sanggup ngomong… aku memilih berlari ke pinggir lapangan futsal dan berteriak-teriak menyemangati tim Sastra…

Monday, November 15, 2010

Igor dan Komputer di ruangku

Igor adalah salah satu ‘pelanggan’ komputer berinternet gratis di ruangku. Dia bisa sangat ‘jinak’ kalau di depan computer, bisa berjam-jam tanpa bicara. Kesetiaannya pada komputer di ruangku pernah menerbitkan kesimpulan dibenakku yang tak pernah kuungkapkan karena aku tidak siap dengan jawaban ‘gila’-nya: “Coba ya … kid … kalau kesetiaanmu sama cewek2mu itu sama dengan kesetiaanmu sama computer ini, pasti kamu nggak akan kesulitan dapat cewek impianmu…”
Saking jinaknya dia kalau di depan komputer, aku selalu merasa nyaman2 saja kalau dia ada di ruangku. Tidak ada kewajiban untuk menyapa atau ngajak ngomong. Tidak juga untuk menawari makanan karena dia ‘picky’ kalau soal makan… kemungkinan besar dia lebih suka menyan daripada makanan (ini juga aku nggak tanya…). So … aku bisa bekerja dengan tenang (meskipun sering aku pasang headset untuk menghindari mendengar suara ‘cempreng’-nya waktu dia tiba2 kumat nyanyi2 “STAN BAK MI …”).

Sunday, October 31, 2010

Kalau aku tahu yang Igor pikirkan …

Ada kalanya Igor pintar juga…

Sore itu aku agak ‘high temper’ karena harus koreksi draft skripsi mahasiswa yang bahasa Inggrisnya bikin EmU (emotionally unstable…). Emosi yang terpendam ini serasa mendapat penyaluran waktu Igor muncul dan melakukan hal-hal yang nggak mutu seperti main gitar ngawur, nyanyi ngawur keras-keras, ngegodain cewek-cewek sampai mereka menjerit-jerit… dan ini yang penting… draft skripsinya belum menunjukkan progress apa-apa… Jadilah aku ‘terpanggil’ untuk secara panjang lebar menasehati dia. Aku sudah nggak ingat detailnya apa saja yang aku ngomongkan karena itu nggak penting… yang penting adalah emosi tersalurkan… dan dia juga dipastikan tidak ingat apa yang aku bilang karena dia pasti tidak mendengarkan… Yang sangat aku ingat hanya kalimat terakhirku yang aku ucapkan dengan nada kesal, ‘Aku nggak ngerti apa yang kamu pikirkan!!!
Dan dijawab Igor dengan kalem dan polos, ‘Kalau madam tahu apa yang aku pikirkan pasti madam nggak mau… pikiranku isinya cewek-cewek… …

You’ve got the point kid… you’ve got the point!!!

Thursday, September 16, 2010

Perempuan itu tak mengerti…

Pernah aku dan Igor makan di sebuah tempat yang mahal untuk ukuran Semarang. Kami duduk di bagian ‘Smoking area’, ada dua meja di sana… satu meja kami… satu meja lagi ada orang Jepang (expatriate) yang ditemani seorang perempuan Indonesia (escort? Nggak tahu ya… waktu itu lagi nggak mau mikir…).

Sambil menunggu makanan datang Igor yang waktu itu sedang kesengsem berat sama Monhal (Monika Halim) bercerita soal sms antara gadis itu dan dia. Setelah bosan cerita tentang sms-sms itu, kami berdua lalu meracau mencoba menterjemahkan ‘bebas’ bahasa Jepang di TV NHK yang ada di rumah makan itu ke bahasa Indonesia. ‘Terjemahan bebas’ kami ternyata menarik perhatian orang Jepang di meja sebelah yang kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya ditayangkan di TV itu … hehehe… ya maap pak… saya ndak paham…

Waktu kami bicara dengan bapak dari Jepang itu dan mulai makan setelah pesanan kami datang, perempuan yang bersama orang Jepang itu kulihat beberapa kali mencuri-curi lihat kearah kami dengan pandangan curiga. Sepertinya dia mencoba untuk menebak-nebak hubunganku dengan Igor. Aku jelas terlihat jauh lebih tua dari Igor yang 14 tahun lebih muda. Aku dan Igor mungkin bisa masuk kategori ‘tante girang dan brondongnya’; hanya pakaian, jaket, tas ransel, mukaku yang apa adanya, dan topik obrolan kami yang super ngaco… tidak memungkinkan kami masuk kategori ini. Tapi ‘possibility’ itu masih ada...

So…
hal yang paling aku nikmati dari episode makan ini adalah kebingungan dan ketidakmengertian di wajah perempuan itu ketika ternyata kemudian Igor yang mengeluarkan dompet dan yang membayar makanan yang kami makan.

wkwkwkwkwkwk… what a life…

Ps
Aku juga tidak tahu kenapa kami makan di sana karena tadinya Igor bilang mau mentraktir aku minum kopi. Tapi berhubung aku kenal sifat Igor yang ‘go with the flow’ alias pergi kemana ‘angin berhembus’ ya aku nurut-nurut aja, lagian siapa juga orang waras yang nolak ditraktir di rumah makan itu *matre mode :on*.