Showing posts with label Dany. Show all posts
Showing posts with label Dany. Show all posts

Sunday, September 23, 2012

Dany dan musik yang berhenti di tengah

Aku, Dany dan Igor sedang mendengarkan lagu-lagu di Youtube. Igor yang memegang mouse (= memegang kendali atas computer dan lagu-lagu yang didengarkan) dengan ‘frantic’ membuka youtube dan meng-click lagu yang dia suka sambil promosi untuk mendengarkan lagu itu, ‘Lagu ini bagus, dengarkan ya…’ Di tengah-tengah lagu itu, Igor yang menemukan lagu lain bilang, ‘Lagu ini juga bagus…’ Lalu Igor mulai meng-click lagu yang lain itu. Saat itulah Dany bersuara, ‘Wis to Gor, aja diganti-ganti lagune. Bayangke wae nek kowe lagi tengah-tengah nyanyi kon mandheg terus ganti lagu. Mesthi rak enak.’ (Terjemahan: Sudahlah Gor, jangan diganti-ganti lagunya. Bayangkan kalau kamu lagi tengah-tengah menyanyi terus disuruh berhenti dan ganti lagu. Mesti nggak enak).

Wuaahhh... absurd banget membayangkan live music yg berhenti di tengah-tengah...

Wednesday, September 14, 2011

Kau dan Pohon

Kau berdiri di depanku dan tiba-tiba bilang: “Aku ingin jadi pohon.”

Waktu kutanya kenapa, kau bilang: “Karena pohon memberikan hidupnya pada orang lain tanpa pernah menangisi pengorbanannya.”

Wednesday, September 7, 2011

Dany dan Sepeda

Hal yang pertama kuingat tentang Dany dan impiannya punya sepeda adalah ketika dia bercerita padaku kalau dia mengumpulkan kupon (?) yang didapat dari pembelian cat merek tertentu. Kupon-kupon itu dalam jumlah tertentu (1500??) akan bisa ditukarkan dengan sebuah sepeda (harap dicatat bahwa dia tidak membabi buta membeli untuk kemudian mengkoleksi cat ribuan kaleng tersebut tapi berhubung orang tuanya mempunyai toko material maka dia berhasil mengumpulkan kupon dalam jumlah buuuanyak).
Namun tampaknya usaha dia itu tidak membuahkan hasil karena sebelum jumlah kupon memenuhi persyaratan untuk ditukar dengan sepeda, periode penukaran kupon cat tersebut sudah berakhir. Ugh ... kisah yang berakhir sedih... #menangis

Tapi nampaknya memiliki sepeda sudah menjadi obsesi tersendiri buat Dany karena setelah kisah tragis kupon berhadiah itu, dia masih dengan semangat bercita-cita untuk membeli sepeda.

Sampai dia lulus (dan langsung kerja) dan sampai aku terbang (tanpa sayap) ke pojok belahan bumi bagian selatan ini, Dany belum juga membeli sepeda.

Berita bahagia baru muncul kemudian ketika pertengahan tahun lalu dia akhirnya bisa membeli sepeda yang harganya juta-juta (entah berapa tepatnya tapi yang pasti nol-nya banyak). Lalu setelah itu lagi, dia membeli sepeda dengan nama genit "SELI" ... yang kukira semula adalah nama perempuan centil atau paling tidak nama anjing pudel berpita merah jambu lucu (hubungannya apa coba?)yang aku tidak tahu dia beli dengan berapa nol. Lalu aku dengar lagi dia mau membeli sepeda lain lagi... entah sudah jadi beli entah belum. (ctt. untung setelah itu aku tidak mendengar lagi dia beli sepeda apa lagi dan aku berharap memang dia tidak membeli sepeda lain lagi. Karena kalau dia membeli sepeda lagi, blogku ini pasti akan jadi membosankan karena akan berisi kronologi pembelian sepeda milik Dany... ok??).

Setelah punya sepeda, Dany bergabung dengan komunitas sepeda di Semarang dan dia jadi sering bersepeda kemana-mana mana mana mana mana ... wis pokoknya ke banyak tempat (betisnya jadi gedhe nggak ya??? hehehe... #membayangkanbetisDany ... wkwkwkwkkwk ... tapi aku tak berpikiran kotor lho ya). Sayangnya Dany dan sepedanya hanya ada dalam cerita karena sesungguhnya sampai saat ini aku belum pernah melihat Dany naik sepedanya. Di liburku yang pendek kemarin pun aku tidak sempat melihat dia bersepeda. Mungkin dia tidak mau meminjamkan sepedanya padaku, takut kalau sepedanya ketularan gila-ku.

Anyway... kisah Dany dan sepedanya berakhir dengan bahagia. Terakhir yang membuat aku mengangkat jempol untuk dia adalah ketika dia mengendarai sepedanya dari SOLO-SEMARANG... Solo ke Semarang saudara-saudara, 101 km lebih ... dengan waktu tempuh 10 jam. SIP ... SIP ... SIP ... Aku angkat jempol buat dia karena aku tak akan mau (dan mampu) naik sepeda sejauh itu. Naik sepeda motor pun aku tak mau. Maklum sudah tua, jadi tahu diri. Bisa masuk angin nggak keluar-keluar nantinya.

JADI, moral of the story adalah Jangan pernah berhenti bermimpi dan berjuang untuk meraih mimpi itu karena kalau kamu benar-benar menginginkan sesuatu dan kamu berjuang untuk mendapatkannya, kamu pasti akan berhasil. Seperti Dany yang akhirnya mendapat sepeda yang dia impikan.

SELAMAT ULANG TAHUN DANY-BOY ...
Semoga kamu bisa meraih semua hal yang kamu inginkan. Semoga kamu bisa bersepeda keliling Eropa seperti guru Gis (Mrs Only) yang pada usianya yang ke 60+ menempuh 4300 lebih km...
7 September 2011

Tuesday, January 11, 2011

Aku, Dany dan rencana kami untuk Igor

Pernah dalam satu waktu aku dan Dany lelah melihat ‘kegilaan’ Igor. Karenanya aku dan Dany berencana untuk menabung dan menyewa pesawat ruang angkasa dan mengajak Igor ikut serta. Jadi kalau Igor sudah terlalu banyak ribut dengan kegilaannya, waktu dia tidur, kami berencana untuk membuka pintu palka pesawat ruang angkasa kami dan mendorong dia keluar. Kami akan membiarkannya terapung-apung di luar angkasa dengan kabel yang mengikat kakinya. Jika kami sudah mulai tenang atau kalau kami butuh hiburan, kami akan menarik Igor kembali ke kapal ruang angkasa kami. Dan membiarkan dia chatter ‘happily’ lagi. Waktu kami mengusulkan hal ini ke Igor, dia menerimanya dengan gembira luar biasa karena ‘berarti aku bisa keluar angkasa ya?’

Monday, April 12, 2010

Dia yang 15 tahun lebih muda …

Ini cerita tentang foto Dany-boy. Ketika itu suasana hatiku sedang ‘entahlah …’ jadi aku memutuskan untuk memotret paksa anak2 yang ada di ruangku. Dan dari 3 orang yang berhasil kupaksa untuk jadi modelku, aku mendapatkan sederetan foto Dany yang betul-betul menurutku ‘Best Shots’… bagus semua … dan sangat natural… Saking gembiranya aku … foto-foto itu aku print dan aku pamerkan ke orang-orang. “Baguuuus yaaaaa foto-fotonya ….,” kataku. Pamer foto-foto itu akhirnya sampai juga ke telinga Ibu Dekan. Dan … tahukah apa yang dikatakan Ibu?

‘Hati-hati lho mbak…,’ kata beliau dengan nada serius.

‘Kenapa?’ tanyaku tak mengerti. Lalu kutangkap selintas pandangan khawatir di mata Ibu.

‘Oh oh … nggak lah … dia kan 15 tahun lebih muda dari aku,’ kataku menentramkan Ibu. Aku menyadari bahwa beliau khawatir kalau aku ‘khilaf’ mengingat posisiku yang ‘temporarily single’ karena sedang ditinggal suami studi.

‘Suzanna (alm) dan Cliff Sangra juga bisa…,’ ujar Beliau berkata dengan tenang.

Hmmmmm …. Aku cuma bisa diam dan sejak itu aku berusaha untuk tidak terlalu ‘heboh’ kalau aku bicara soal Dany. Aku tidak siap dihadapkan ke Komisi Etik Universitas gara-gara aku mengagumi foto orang hehhe …

Wednesday, March 17, 2010

Dany-boy …

Dany Sukma Adi Saputra … biasa aku sapa ‘Dany’ kalau ketemu langsung atau ‘Dany-boy’ kalau di tulisan. Selama ini dianggap sebagai my golden-boy (anak emasku…) tapi tidak pernah memanfaatkan aku untuk diperlakukan istimewa. Tingginya average, berkulit terang, senyumnya menyenangkan… Selalu (berusaha) bertanggung jawab terhadap semua tugas yang diberikan ke dia. Anaknya menyenangkan kalau tidak sedang depressi. Dia selalu percaya pada aliens dan akhir dunia tahun 2012. Dia berencana membuat bahtera besar untuk 2012 dan menyeleksi perempuan-perempuan yang boleh ikut bahtera itu. Dia juga pernah berencana untuk membuat pasukan pembela bumi dengan markas besar di ruangku. Keinginan terkuatnya adalah menjadi pohon karena katanya pohon selau mau berkorban tanpa pamrih (gitu ya?).

Dia selau ada kalau aku membutuhkan pertolongan … entah kenapa … co-incidence aja… dia selalu around … contohnya waktu ban motorku bocor malam2 di parkiran bawah fakultas Sastra … aku sendirian waktu itu… dan rasanya haaaahhhhh … putus asa banget karena berarti aku harus mendorong motorku naik ke parkir atas… ke pintu masuk yang lumayan jauh dan nanjak plus plus habis itu harus berjuang cari tambal ban yang entah masih ada yang buka atau nggak soalnya sudah jam 9 malam. Di tengah2 kebingunganku, tiba2 ada anak datang … bukan Dany emang tapi Davis … Nah … berhubung Davis ini kalo sama aku agak takut … begitu tahu kalau ban motorku bocor, bukannya menawarkan untuk langsung nolong tapi dia bilang “ Sebentar mam, tak carikan Dany … dia ada di kampus kok, lagi download …” Dan entah ada di mana, setelah kutunggu beberapa saat, Davis berhasil membawa Dany yang kemudian dengan sigap jongkok di depan motorku dan mencari paku atau apapun benda yang jadi biang bocornya ban motorku… Dia lalu bilang ke aku, “Udah madam sekarang dorong dulu motornya ke pintu keluar, aku keluar cari tambal ban yang masih buka.” Setelah beberapa lama Dany kembali sambil bilang, “Tambal ban yang masih buka ada di dekat terowongan.” Dan dengan sopan bilang ke aku, “ Madam … udah aku aja yang bawa motornya madam… aku kan lebih ringan. Madam naik motorku” (Dia nggak berani ngomong kalau aku lebih gemuk … makasih ya Dan … :D :D)

Kali yang lain…
Waktu itu hujan deras minta ampun dan aku minta tolong Dany buat mbeliin aku kaset untuk merekam dialog mandarin untuk pentas wayang. Dany datang dengan basah kuyup sambil mbawa kaset yang terbungkus plastic rapat. Sudah itu karena script dialog mandarin harus di fotocopy dan tidak mungkin pergi keluar karena hujan deras, Dany yang basah kuyup dengan sukarela memanjat ruang Dekan untuk menfotocopy script itu di mesin scan kantor Dekan (maaf ya Bu Dekan… kantor Ibu pernah dibobol…).

Thursday, March 5, 2009

Alasan kenapa aku suka kalian

Kemarin sore di tengah kekacauan pikiran, perut pun ikut andil menjerit-jerit. Lalu tercetuslah ide untuk beli makan. Entah mengapa...mungkin karena pikiran memang sedang menolak berpikir jernih...usulan untuk membeli mie ayam bakso pun diterima dengan kesadaran penuh bahwa tidak ada alat makan sepotong pun di ruangku. Setelah makanan datang, kenyataan bahwa makan mie ayam bakso dari plastiknya tanpa alat makan adalah hal yang sangat sulit mulai terjadi. Plastik dibuka, jari jemari pun dicelupkan ke dalam mie bercampur kuah, mie mulai diangkat satu2, dan perlahan-lahan dimasukkan ke mulut (kecuali Dany yg sanggup memakan a bunch of noodle). Sungguh, kami berempat mempraktekkan cara terprimitif untuk makan mie ayam. Anita dengan canggihnya memasukkan saos ke plastik dan mengocok-kocok plastik bak tukang sulap. Danty setelah merenung agak panjang sepakat bahwa makan mie ayam tanpa alat makan adalah disaster namun akhirnya berhasil menghabiskan mienya jg. Aku yang sudah bertekad apa pun yg terjadi makan harus tetap jalan. Dan Dany yg ternyata py jurus tersendiri buat makan cepat tanpa tersedak. That is the reason I like u guys...karena kalian 'gila'

Saturday, January 31, 2009

Today's News in Sastra

This morning started with seeing Dany's Gothic face make-up. Koran ternyata sangat efektif untuk menciptakan gothic expression n make-up. Tapi dengan syarat: Hanya Dany yg bisa melakukannya dan dia had no idea how to to do it.
This afternoon ended with watching 'Twilight' yang 'comedy version'. Kalo yang belum pernah nonton yg versi ini, ada di kantorku. Dengan syarat: nontonya sama Dante, Anita, dan Ike.

Ps. Dany slept with a newpaper on his face and he got some words copied on his face in the following morning...