Friday, October 28, 2011

Queen Elizabeth II, SBY, Temanku, dan Pak Nyoman

Tanggal 27 Oktober 2011

Jam 11.00 waktu western australia

Waktu aku melangkahkan kaki lepas tangga melingkar di samping gedung perpustakaan Reid UWA, aku melihat banyak orang berkerumun di depan gedung Fisika.

"Ugh... ada apa ya? OOOooo paling-paling "fire drill" (latihan evakuasi kalau ada kebakaran)," batinku.

Setelah sejenak berhenti dan melihat ke arah kerumunan itu, aku memutuskan untuk meneruskan langkahku ke dalam gedung perpus.

Jam 1.00 siang

Aku bertemu temanku di Cafe perpustakaan Reid.

"Aku tadi lihat ada banyak orang kumpul di depan perpus. Ternyata mereka itu menonton Duke of Edinburgh (Pangeran Philip) yang datang ke UWA. Pantasen banyak orang yang motret-motret," kata temanku.

"Wow! Aku malah nggak tahu kalau pangeran Philip datang," kataku sambil sedikit menyesal kenapa kok tadi sok tidak mau tahu dan malah pikiranku tersesat ke fire drill.

"Buat aku sih Queen itu nggak penting. Siapa juga yang mau jadi negara commonwealth. Queen kan nggak punya peran apa-apa di sini," kata temanku (yang asli orang Australia) ini lagi.

Setelah selesai ketemu temanku itu, aku duduk lagi di meja kerjaku. Tapi kata-katanya tadi terngiang-ngiang di telingaku. Aku membuat kesimpulan sendiri terhadap kata-katanya itu. Intinya temanku mau bilang kalau ada Queen Elizabeth II atau nggak ada Queen, nggak ada efeknya buat orang Australia (secara ekonomi, budaya, dan politik). Jadi temanku itu tidak merasa perlu harus menyambut atau menganggap berlebihan Queen Elizabeth II yang saat ini sedang datang di Perth untuk menghadiri CHOGM (Commonwealth Heads of Government Meeting).

Dan ...

Ingatanku melayang pada pak Nyoman, tukang kebun sebuah hotel di Nusa Dua yang menurut berita yang kubaca "nyelonong" di depan bapak SBY yang sedang menonton lomba layang-layang (?). Mungkin pak Nyoman ini mewakili kata hati orang banyak di Indonesia... dia simply tidak "melihat" bapak SBY... karena tampaknya ada bapak SBY atau tidak ada bapak SBY, tidak berpengaruh terhadap nasib pak Nyoman (dan banyak "pak/bu Nyoman" yang lain di Indonesia).

#hening

No comments: