Sunday, March 6, 2011

Aku, Wayang, dan NIKIMUZIEKU

Terlibat pementasan wayang selama 3 kali berturut-turut dalam kurun waktu 2 tahun (2008-2009) meskipun dengan kru amatir Fakultas Sastra Unika Soegijapranata, NIKIMUZIEKU, sudah menjadi suatu prestasi tersendiri untuk aku yang sesungguhnya ignorant dan tanpa ‘sense of arts’ sama sekali. Dua kali terlibat sebagai ‘penyanyi’ bersama (nggak berani bilang ‘sinden’), dan sekali sebagai ‘pemukul gamelan’ (belum berani bilang ‘niyaga’ juga) membuatku ‘cinta’ sama wayang. Tapi cintaku pada wayang ini bukan ‘love at the first sight’ maupun ‘tresna marga saka kulina’ tapi lebih ke ‘Tresna Marga Saka ‘Kepeksa’’.

Cerita dibalik partisipasiku adalah sebagai berikut:

Di suatu sore, masih di gedung Albertus ketika itu, aku bekerja sampai sore. Sendiri. Lepas jam kantor. Ketika waktu semakin sore, aku memutuskan untuk ke lapangan futsal untuk melihat pertandingan antar angkatan dan kemudian pulang. Aku mengunci ruanganku dan pintu masuk ke Fakultas Sastra. Ketika aku akan menutup dan mengunci pintu masuk utama, aku melihat pak Jati (Psikologi) berjalan ke arahku.
‘Halo pak…,’ sapaku.
‘Hai… halo… hari ini katanya mau latihan nembang ya? Saya diminta mengajar tembangnya ke anak-anak Sastra. Bu Ike ikut latihan?’ kata Pak Jati menjawab sapaanku.
Untung pak Jati bukan orang yang bisa membaca hati dan jalan pikiran orang, andai si Bapak tahu apa yang ada di hati dan pikiranku saat itu, aduuuhhhh….
Isi hati dan pikiranku adalah, ‘ZZZZZ@@@@@???????#%^&*^#*!(*)!#*)@&^$!%*&#%^&**(@^!$!##!^!U’
Sebenarnya aku bingung berat, meski secara tegas dan jelas jawabanku atas ‘tuduhan’ pak Jati waktu itu adalah,
‘Iya pak. Saya ikut. Tapi ini anak-anak belum datang.’
Aku mengatakan hal itu sambil pelan-pelan melangkah mundur, membuka kembali pintu-pintu yang tadi aku kunci dibelakangku seakan-akan aku tadi baru datang dan membuka ruangan, bukannya mau pulang dan mengunci ruangan.
Aku mulai membuka pintu-pintu itu lagi sambil berpikir, ‘Ini yang mau latihan siapa ya? Kok nggak ada manusia lain sepotong pun…’
Aku mengajak pak Jati mengobrol ngalor ngidul sambil berharap adanya pencerahan tentang siapa saja manusia yang harusnya hadir sore itu dan berharap mereka segera muncul.
Kebingunganku terhenti setelah beberapa lama kemudian Ruschka muncul mengaku sebagai coordinator teman-teman yang akan terlibat pertunjukkan dan memberi alasan bahwa karena teman-teman yang harusnya latihan hari itu terlambat karena ada pertandingan futsal antar angkatan.

Maka terjadilah, sudah terlanjur ‘mengaku’, aku akhirnya terlibat dalam pentas wayang di Sastra, aku jatuh cinta pada wayang, dan hari ini aku kangen pengin bisa terlibat pementasan wayang Nikimuzieku lagi…

No comments: