Born naturally (kira2 begitu deh) sebagai orang yang temperamental, aggressive, boyish, rude dan mungkin sedikit anti-sosial, membuatku merasa bahwa motor ini pasti bisa memuaskan nafsuku untuk …apa ya? … naik motor….
Setiap kali aku berkhayal aku bisa naik motor ini, aku membayangkan diriku #cercalahdirikusehabishabisnyatapithisistrue … pake leather jacket, pake leather pants, pake helm yang mahal dan bagus, pake sepatu boots (??), pake sarung tangan…, pokoknya kostum yang kaya pembalap professional gitu. Bukan karena aku kegenitan …, bukan…, tapi aku sayang nyawa …
Dan VRRRRRRRROOOMMMMMMGGGRRRRMMMMM … (begitu kira2 bunyi motorku) siap melaju. Aku selalu menikmati saat-saat aku menarik gas dan mulai memacu motorku … dengan kecepatan semakin tinggi. Aku menikmati saat aku mulai mengganti gigi dari yang rendah ke yang tinggi. Click…. VRRROOMMMMMMMM … Click …. VRRRROOMMMMM … Click ……. VVRRRROOOOMMMMMMMMMMMMMM …. Aku sangat menikmati saat aku bisa melihat jalan dan motor/mobil/sepeda/becak di depanku tanpa berkedip. Jalan itu seperti jalan di video game untukku… dan semua kendaraan yang ada di jalan seperti rintangan2 yang harus aku taklukkan di video game. Aku menikmati saat aku mengedipkan mataku sebentar untuk kemudian mengganti ke gigi yang lebih rendah, menambah power, dan men-take over motor/mobil/truk/bis yang ada didepanku. Aku menikmati pemandangan yang berkelebat di sekelilingku. Saat itulah aku merasa bahwa aku bisa jadi diriku sendiri, di duniaku sendiri dan aku punya kuasa untuk mengendalikan hidup dan duniaku. Tidak boleh melakukan sedikit pun kesalahan… karena nyawa taruhannya (bukan hanya nyawaku sendiri, tapi juga nyawa orang lain).
See??? Aku serius kalau berkhayal kan???
Aku cuma bisa berkhayal karena sampai saat ini aku tidak punya Kawasaki Ninja 250R ini. Harganya mahal ya? Lagian selalu saja ada (banyak ding) orang yang akan mengatakan kalau aku nggak pantas naik motor itu, karena aku … perempuan … sedih ya? Ihikss … #jadinangissendiri … Padahal kemampuanku bawa motor (cukup) bagus… naturally (lagi) aku bisa dengan gampang beradaptasi dengan semua jenis motor. Setiap naik motor apa saja, rasanya udah langsung ‘comfortable’ gitu. Tanpa rasa takut atau apa. Dari motor bagus sampai motor bobrok aku bisa pake (eh … yg ini g ada hubungannya sm Kawasaki Ninja 250R y?). Pokoknya begitulah.
Tapi seperti kata orang, ‘Keep on dreaming… (terusannya lupa … ehe) …”, jadi aku ya keep on dreaming punya Kawasaki Ninja 250R VVRRROOOMMMMMM …
#ngiler ...
PS. Aku nggak pernah ngebut di jalan tapi kalau aku naik motor (kata orang) aku ‘agak terlalu cepat.’ Entah benar entah enggak, tapi yang jelas aku orangnya telatan (habis susah bangun pagi sih) … so upaya memperpendek jarak dan menyingkat waktu ya dengan memutar gas handle agak dalam… (hehe) …
Kenapa Kawasaki Ninja 250R? G tahu ya … Aku lebih suka membayangkan diriku berkawasaki ninja daripada berharley Davidson … buat aku motor ini seksi sekali. Ramping tapi powerful … Kalau Harley Davidson terlalu gemuk buatku… dan njebablah … g seru…
Friday, October 21, 2011
Tuesday, October 18, 2011
Saturday, October 15, 2011
High and Dry
Aku pernah bilang ke Igor kalau dia itu mirip anak umur 10 or 12 tahun yang terjebak di tubuh usia 23 tahun (waktu itu tahun 2008)… Dia selalu labil, kekanak-kanakan (immature) … dan sampai sekarang masih terus ber’akrobat’ dengan hidupnya… Kalau sedang suka satu hal semangatnya meletup-letup bak jagung pop-corn yang sedang dipanaskan… dan gosong (fotonya dimana ya?). Tapi tidak lama kemudian dia bosan dan sudah… semangatnya hilang.
Lagu yang menurutku cocok buat dia adalah High and Dry –nya Radiohead. Ini lagu pokoknya dia banget:
Two jumps in a week, I bet u think that’s pretty clever don’t u boy
Flying on ur motorcycle, watching all the ground beneath u drop
You’d kill urself for recognition; kill urself to never ever stop
U broke another mirror; you’re turning into something u r not
Aku pernah iseng bertanya ke dia, ‘Apa kamu tuh nggak cape’ toh… kamu tuh kok pinter bener ngehabisin waktu…’
Jawabannya santai, ‘Nggak …’
What can I do then??
Pernah dia bertanya ini ke aku, “What if you are my mother?”.
Jawabku singkat, ‘Ngendhat…mati gasik…’ (Bunuh diri… mati muda)
… yup… yup …
Melihatnya ke sana kemari itu membuatku lelah.
Ini contoh kegiatan hariannya waktu itu dengan asumsi dia bangun jam 09.00 (hasil rekaan berdasarkan observasi isengku dan cerita Igor):
09.00 melek
09.00 – 11.00 Sms or telpon ke cwe2 yang lagi dia suka, ribut mainan komputer, cari makan pagi, ke tukang pijet, siap2 ke WC, siap-siap keramas n sikat gigi (nggak mandi), ngeributin Ibu Ika (ibunya), nyuci mobil kalau habis pake hari sebelumnya, ngerjakan tugas yang harus dikumpul hari itu, nunggu (sambil bengong) motor-nya yang dipakai pak tukang
11.00 – 12.00 Keliling cari teman (kalau bisa cewek) yang bisa diajak makan siang
12.00 makan siang
13.00 ke Sedes untuk nongkrongin gadis2 muda atau ke kampus
13.00 – 16.30 Di kampus, kuliah, nyanyi ngawur, nggitar ngawur, surfing internet, ngobrol, ngopi, makan mie instant buatan pak Kasno
16.30 – 18.00 Ke Sedes untuk mengasisteni tim basket putri, or parkour di kampus, or basket di kampus
18.00 – 21.00 Jalan-jalan ke mall dengan teman sambil cari makan malam, atau nonton bioskop, atau kencan sama Karel atau Anita (yg sekarang jd pacarnya)
21.00 – 02.00 Ke tempat Flx buat main gitar or ke tempat Oq buat ngobrol, nyanyi-nyanyi dan minum or minum sama Karel…
02.00 sneaking masuk rumah via lantai dua
02.00 – 03.30 Ngirim sms iseng ke semua nomor yang dia kenal or main gitar kalau lagi kumat idenya buat mbuat lagu
03.30 tepar
Lagu yang menurutku cocok buat dia adalah High and Dry –nya Radiohead. Ini lagu pokoknya dia banget:
Two jumps in a week, I bet u think that’s pretty clever don’t u boy
Flying on ur motorcycle, watching all the ground beneath u drop
You’d kill urself for recognition; kill urself to never ever stop
U broke another mirror; you’re turning into something u r not
Aku pernah iseng bertanya ke dia, ‘Apa kamu tuh nggak cape’ toh… kamu tuh kok pinter bener ngehabisin waktu…’
Jawabannya santai, ‘Nggak …’
What can I do then??
Pernah dia bertanya ini ke aku, “What if you are my mother?”.
Jawabku singkat, ‘Ngendhat…mati gasik…’ (Bunuh diri… mati muda)
… yup… yup …
Melihatnya ke sana kemari itu membuatku lelah.
Ini contoh kegiatan hariannya waktu itu dengan asumsi dia bangun jam 09.00 (hasil rekaan berdasarkan observasi isengku dan cerita Igor):
09.00 melek
09.00 – 11.00 Sms or telpon ke cwe2 yang lagi dia suka, ribut mainan komputer, cari makan pagi, ke tukang pijet, siap2 ke WC, siap-siap keramas n sikat gigi (nggak mandi), ngeributin Ibu Ika (ibunya), nyuci mobil kalau habis pake hari sebelumnya, ngerjakan tugas yang harus dikumpul hari itu, nunggu (sambil bengong) motor-nya yang dipakai pak tukang
11.00 – 12.00 Keliling cari teman (kalau bisa cewek) yang bisa diajak makan siang
12.00 makan siang
13.00 ke Sedes untuk nongkrongin gadis2 muda atau ke kampus
13.00 – 16.30 Di kampus, kuliah, nyanyi ngawur, nggitar ngawur, surfing internet, ngobrol, ngopi, makan mie instant buatan pak Kasno
16.30 – 18.00 Ke Sedes untuk mengasisteni tim basket putri, or parkour di kampus, or basket di kampus
18.00 – 21.00 Jalan-jalan ke mall dengan teman sambil cari makan malam, atau nonton bioskop, atau kencan sama Karel atau Anita (yg sekarang jd pacarnya)
21.00 – 02.00 Ke tempat Flx buat main gitar or ke tempat Oq buat ngobrol, nyanyi-nyanyi dan minum or minum sama Karel…
02.00 sneaking masuk rumah via lantai dua
02.00 – 03.30 Ngirim sms iseng ke semua nomor yang dia kenal or main gitar kalau lagi kumat idenya buat mbuat lagu
03.30 tepar
Wednesday, October 12, 2011
Gini ini deh susahnya nggak tahu bahasa Jawa
Java Mall di Jumat sore.
Parkiran semi-illegal di depan Java Mall sudah sangat penuh.
Aku yang membonceng Yamaha Mio Oki lewat di depan parkiran itu. Para tukang parkir (semi-illegal) melambaikan tangan menawarkan tempat. Oki menggeleng-geleng dan terus berkendara pelan-pelan menuju parkir legal Java Mall.
“Mas, tulung mas, mandeg,” teriak seorang tukang parkir sambil berusaha mencegat motor Oki. (terj. Mas, tolong mas, berhenti).
Oki menggelengkan kepala sambil terus pelan-pelan menembus macet.
“MAS!!! Mbak-e iki kunci Mio-ne ilang. Nyilih kuncine. Yak’e padha. MAS!” teriak tukang parkir itu lebih keras sambil agak mengejar motor kami yang agak menjauh. (terj. Mas!!! Kunci Mio mbak-nya ini hilang. Pinjam kuncinya. Siapa tahu sama. Mas!).
Aku melihat dua perempuan dan satu tukang parkir lagi kebingungan di depan sebuah Mio merah. Aku mencolek Oki dari belakang. Namun Oki tetap menggeleng kepala dan melaju terus.
“WO… DIJALUKI TULUNG WAE KOK RAK GELEM!!!,” teriak tukang parkir sambil setengah mengumpat dan berekspressi marah. (terj. Wo… dimintai tolong aja kok nggak mau).
Aku yang duduk di belakang hanya bisa memasang ekspressi sepolos mungkin dan berusaha memaksakan sekilas senyum minta maaf ke tukang parkir itu.
…
Setelah selesai memarkir motor dan berjalan menuju pintu masuk Java Mall, aku bertanya ke Oki, “Mas-nya tadi minta tolong, kok kamu nggak berhenti?”
Oki menjawab dengan tegas, “Dia minta aku parkir di depan Mall. Aku nggak mau. Nggak aman.”
Aku seketika terdiam. Oki adalah anak kelahiran Jakarta, besar di Jakarta, berbahasa ibu Bahasa Indonesia, tinggal di lingkungan berbahasa Indonesia, selama di kuliah di Sastra tidak pernah aku dengar dia pakai bahasa Jawa (bahkan waktu mengumpatpun bahasanya Jakarta sekali).
‘Ngggggggggg ….,’ batinku, ‘Gini ini deh susahnya kalau nggak tahu bahasa Jawa.’
Parkiran semi-illegal di depan Java Mall sudah sangat penuh.
Aku yang membonceng Yamaha Mio Oki lewat di depan parkiran itu. Para tukang parkir (semi-illegal) melambaikan tangan menawarkan tempat. Oki menggeleng-geleng dan terus berkendara pelan-pelan menuju parkir legal Java Mall.
“Mas, tulung mas, mandeg,” teriak seorang tukang parkir sambil berusaha mencegat motor Oki. (terj. Mas, tolong mas, berhenti).
Oki menggelengkan kepala sambil terus pelan-pelan menembus macet.
“MAS!!! Mbak-e iki kunci Mio-ne ilang. Nyilih kuncine. Yak’e padha. MAS!” teriak tukang parkir itu lebih keras sambil agak mengejar motor kami yang agak menjauh. (terj. Mas!!! Kunci Mio mbak-nya ini hilang. Pinjam kuncinya. Siapa tahu sama. Mas!).
Aku melihat dua perempuan dan satu tukang parkir lagi kebingungan di depan sebuah Mio merah. Aku mencolek Oki dari belakang. Namun Oki tetap menggeleng kepala dan melaju terus.
“WO… DIJALUKI TULUNG WAE KOK RAK GELEM!!!,” teriak tukang parkir sambil setengah mengumpat dan berekspressi marah. (terj. Wo… dimintai tolong aja kok nggak mau).
Aku yang duduk di belakang hanya bisa memasang ekspressi sepolos mungkin dan berusaha memaksakan sekilas senyum minta maaf ke tukang parkir itu.
…
Setelah selesai memarkir motor dan berjalan menuju pintu masuk Java Mall, aku bertanya ke Oki, “Mas-nya tadi minta tolong, kok kamu nggak berhenti?”
Oki menjawab dengan tegas, “Dia minta aku parkir di depan Mall. Aku nggak mau. Nggak aman.”
Aku seketika terdiam. Oki adalah anak kelahiran Jakarta, besar di Jakarta, berbahasa ibu Bahasa Indonesia, tinggal di lingkungan berbahasa Indonesia, selama di kuliah di Sastra tidak pernah aku dengar dia pakai bahasa Jawa (bahkan waktu mengumpatpun bahasanya Jakarta sekali).
‘Ngggggggggg ….,’ batinku, ‘Gini ini deh susahnya kalau nggak tahu bahasa Jawa.’
Saturday, October 8, 2011
You and I
Nay!
We’re not lovers
We’re not sweethearts
Yet
We like the same song
‘When I first kissed you, that’s when I knew, I was in love.’
Nope!
We never kissed
We never fell in love
Still
We believe that love should be done not said
‘More than words is all you have to do to make it real.’
Yup!
I’m gonna miss you
Yeah!
I hope to see you again
We’re not lovers
We’re not sweethearts
Yet
We like the same song
‘When I first kissed you, that’s when I knew, I was in love.’
Nope!
We never kissed
We never fell in love
Still
We believe that love should be done not said
‘More than words is all you have to do to make it real.’
Yup!
I’m gonna miss you
Yeah!
I hope to see you again
Wednesday, October 5, 2011
Teroris perempuan ...
Senin pagi …
‘Terorise ana sing wedhok,’ Goen berkomentar dengan suara cukup keras untuk kudengar. Dia sedang membaca berita tentang teroris di Kompas.com. (terj. 'terorisnya ada yang perempuan').
‘Sure…pancen ana sing wedhok…,’ jawabku tanpa berpikir panjang sambil berlari membawa buku ke toilet untuk menunaikan ‘nature’s call’. (terj. 'pasti, memang ada yang perempuan').
Sambil duduk di toilet, aku meletakkan buku di pangkuanku dan mengingat jawabanku ke Goen tentang teroris perempuan. I wonder, kenapa aku menjawab dengan nada ‘sok tahu’ seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang semua orang sudah tahu dan Goen is the only one who is blind to that fact.
Aku jadi ingat dalam suatu diskusi PSW/PSG tentang 12 area kritis perempuan, salah satunya adalah tentang perempuan (dan anak) dalam perang. Dalam salah satu sharing, ada yang bercerita kalau meskipun perempuan dianggap ‘vulnerable’ dan dilindungi dalam perang, ada perempuan yang menjadi kurir pengirim berita ke daerah lawan atau ‘observer’ di daerah lawan ketika perang karena mereka adalah ‘the least suspected ones.’ Aku juga ingat cerita bu dhe-ku yang ketika perang kemerdekaan dijadikan kurir dari satu pos pejuang ke pos yang lain karena dia adalah anak perempuan kecil, anak desa lokal yang tidak akan menimbulkan kecurigaan ketika mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain di desa itu.
Komentar Goen tentang teroris perempuan membuatku berpikir tentang beberapa hal,
1. perempuan ternyata masih juga stereotypically dianggap tidak ‘capable of doing things in war’ (terorisme dan ‘perjuangan’-nya adalah ‘perang’ juga dalam arti lain).
2. Bahwa ‘perang’ adalah hal ‘masculine’ sehingga perempuan seharusnya tidak ada di dalamnya.
3. Apa perempuan-perempuan yang terlibat dalam ‘perang’ itu ‘dipaksa’, ‘terpaksa’, atau ‘dengan kesadaran penuh’ terlibat dalam ‘perjuangan’ itu. Kalau ‘dipaksa’ berarti perempuan sekali lagi menjadi korban dan dikorbankan (‘is a victim and victimized’); kalau ‘terpaksa’ berarti dia diposisikan untuk tidak punya pilihan lain (‘no other choice’) sehingga meskipun dia setuju untuk terlibat/melibatkan diri dalam ‘perjuangan’ itu, dia lebih melihatnya sebagai ‘kewajiban’ sama seperti ketika dia melakukan tugas-tugas domestiknya atau ketika dia harus ‘bertanggung jawab’ to take care of her children; kalau dengan kesadaran penuh? Berarti itu memang pilihan dan anggapan bahwa perang adalah ‘masculine’ dan medan perang adalah daerah laki-laki harus dipikirkan ulang.
4. No wonder kalau laki-laki selalu menjadi the first ones who claim for the prize ketika ‘menang perang’, lha perempuan sudah sejak awal dianggap ‘not part of the game’ ketika berhubungan dengan ‘perebutan kekuasaan’. Perang disini menjadi lebar artinya ketika aku hubungkan dengan ekonomi, politik dan pemerintahan.
Pikiran-pikiran itu terhenti ketika Yogis mengetuk pintu dan bertanya, ‘Mom, are you okaaayyyy???’
Wow… aku sudah terlalu lama ‘menguasai’ toilet ternyata…
‘Terorise ana sing wedhok,’ Goen berkomentar dengan suara cukup keras untuk kudengar. Dia sedang membaca berita tentang teroris di Kompas.com. (terj. 'terorisnya ada yang perempuan').
‘Sure…pancen ana sing wedhok…,’ jawabku tanpa berpikir panjang sambil berlari membawa buku ke toilet untuk menunaikan ‘nature’s call’. (terj. 'pasti, memang ada yang perempuan').
Sambil duduk di toilet, aku meletakkan buku di pangkuanku dan mengingat jawabanku ke Goen tentang teroris perempuan. I wonder, kenapa aku menjawab dengan nada ‘sok tahu’ seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang semua orang sudah tahu dan Goen is the only one who is blind to that fact.
Aku jadi ingat dalam suatu diskusi PSW/PSG tentang 12 area kritis perempuan, salah satunya adalah tentang perempuan (dan anak) dalam perang. Dalam salah satu sharing, ada yang bercerita kalau meskipun perempuan dianggap ‘vulnerable’ dan dilindungi dalam perang, ada perempuan yang menjadi kurir pengirim berita ke daerah lawan atau ‘observer’ di daerah lawan ketika perang karena mereka adalah ‘the least suspected ones.’ Aku juga ingat cerita bu dhe-ku yang ketika perang kemerdekaan dijadikan kurir dari satu pos pejuang ke pos yang lain karena dia adalah anak perempuan kecil, anak desa lokal yang tidak akan menimbulkan kecurigaan ketika mondar-mandir dari satu tempat ke tempat lain di desa itu.
Komentar Goen tentang teroris perempuan membuatku berpikir tentang beberapa hal,
1. perempuan ternyata masih juga stereotypically dianggap tidak ‘capable of doing things in war’ (terorisme dan ‘perjuangan’-nya adalah ‘perang’ juga dalam arti lain).
2. Bahwa ‘perang’ adalah hal ‘masculine’ sehingga perempuan seharusnya tidak ada di dalamnya.
3. Apa perempuan-perempuan yang terlibat dalam ‘perang’ itu ‘dipaksa’, ‘terpaksa’, atau ‘dengan kesadaran penuh’ terlibat dalam ‘perjuangan’ itu. Kalau ‘dipaksa’ berarti perempuan sekali lagi menjadi korban dan dikorbankan (‘is a victim and victimized’); kalau ‘terpaksa’ berarti dia diposisikan untuk tidak punya pilihan lain (‘no other choice’) sehingga meskipun dia setuju untuk terlibat/melibatkan diri dalam ‘perjuangan’ itu, dia lebih melihatnya sebagai ‘kewajiban’ sama seperti ketika dia melakukan tugas-tugas domestiknya atau ketika dia harus ‘bertanggung jawab’ to take care of her children; kalau dengan kesadaran penuh? Berarti itu memang pilihan dan anggapan bahwa perang adalah ‘masculine’ dan medan perang adalah daerah laki-laki harus dipikirkan ulang.
4. No wonder kalau laki-laki selalu menjadi the first ones who claim for the prize ketika ‘menang perang’, lha perempuan sudah sejak awal dianggap ‘not part of the game’ ketika berhubungan dengan ‘perebutan kekuasaan’. Perang disini menjadi lebar artinya ketika aku hubungkan dengan ekonomi, politik dan pemerintahan.
Pikiran-pikiran itu terhenti ketika Yogis mengetuk pintu dan bertanya, ‘Mom, are you okaaayyyy???’
Wow… aku sudah terlalu lama ‘menguasai’ toilet ternyata…
Monday, October 3, 2011
Untukmu, hari ini
Lama aku tidak menulis untukmu ...
Kau mungkin berpikir bahwa aku lupa ...
bukan, bukan itu alasannya ...
I surgically cut you off my line ...
Marah?
Kau tidak pernah berpikir bahwa aku marah padamu kan? ...
Karena aku memang tidak marah padamu...
Ngambeg?
Kau tahu aku tidak pernah ngambeg karena urusan hati ...
Lagi pula aku juga sedang tidak ngambeg ...
Kecewa?
Kau pasti bingung mencari alasan kenapa aku kecewa ...
Percuma mencari alasan itu, aku tidak sedang kecewa ...
Entahlah ...
aku sedang nyaman di duniaku sendiri ...
aku sedang menikmati kesendirianku ...
aku sekedar tak ingin menyapamu ...
Aku sekedar tak ingin menegurmu ...
Kejam?
Dari dulu pun kau berpikir bahwa aku tak bisa dimengerti ...
Dan kini pun aku tak ingin untuk kau pahami ...
Aku cuma mau mengutip lirik lagu Brian May: "TOO MUCH LOVE WILL KILL YOU"
Maksudku adalah kau hidup dikelilingi banyak orang yang mencintaimu (no matter how f***ingmotherf***er you are), jadi kehilangan satu cinta dariku mungkin akan menyelamatkan hidupmu ...
mungkin ...
semoga ...
Kau mungkin berpikir bahwa aku lupa ...
bukan, bukan itu alasannya ...
I surgically cut you off my line ...
Marah?
Kau tidak pernah berpikir bahwa aku marah padamu kan? ...
Karena aku memang tidak marah padamu...
Ngambeg?
Kau tahu aku tidak pernah ngambeg karena urusan hati ...
Lagi pula aku juga sedang tidak ngambeg ...
Kecewa?
Kau pasti bingung mencari alasan kenapa aku kecewa ...
Percuma mencari alasan itu, aku tidak sedang kecewa ...
Entahlah ...
aku sedang nyaman di duniaku sendiri ...
aku sedang menikmati kesendirianku ...
aku sekedar tak ingin menyapamu ...
Aku sekedar tak ingin menegurmu ...
Kejam?
Dari dulu pun kau berpikir bahwa aku tak bisa dimengerti ...
Dan kini pun aku tak ingin untuk kau pahami ...
Aku cuma mau mengutip lirik lagu Brian May: "TOO MUCH LOVE WILL KILL YOU"
Maksudku adalah kau hidup dikelilingi banyak orang yang mencintaimu (no matter how f***ingmotherf***er you are), jadi kehilangan satu cinta dariku mungkin akan menyelamatkan hidupmu ...
mungkin ...
semoga ...
Subscribe to:
Posts (Atom)

