Thursday, April 22, 2021

 Untukmu, hari ini

Thank you for lending me your shoulder

for only a moment

just enough to whisper,

"I am tired."

The words that should not be said aloud

The words that should be kept in silence

Wednesday, December 24, 2014

Setelah kau pergi

Setelah kamu pergi
Aku punya litany baru
“I’ll be ok, I’ll be all right, I’ll be fine”
yang kuucapkan berkali-kali setiap kali aku ingat kalau kau tak ada bersamaku lagi
aku mencoba memahami kepergianmu
aku berusaha menerima ketakmampuanku untuk bersamamu
Every night before sleep I make myself promise not to dream about you.
Every morning right after I wake up I swear to myself not to think about you.
Every day I chant the same affirmation again and again.

But how can I not dream about you when my brain is full with memories of you.
How can I not think about you when every single part of this city reminds me of you
I’ll do whatever it takes to erase you from my mind
If only I have to…

Sunday, November 16, 2014

Aku menanti dirimu

Kalau kau tak bisa menemukanku, aku yang akan mencarimu
Aku ingat kau pernah berkata itu padaku
Kau tak perlu mencariku karena aku selalu ada untukmu
Di tempat yang sama, di waktu yang sama
Duniaku tak mau berubah setelah kau pergi
Musim tak berganti, waktu berhenti
Aku menanti kau kembali

Tuesday, October 28, 2014

Gadis kecil dalam Kristal

Gadis itu tinggal di alam indah dengan dinding-dinding pualam dan langit-langit kristal
Dia tinggal di dalam kristal bening indah yang keras
Dia melihat kotor menerpa kristal itu
Dia menghapusnya dengan air mata
Dia mengunci diri rapat-rapat di dalam kristal itu
Hanya dia yang boleh tinggal di dalamnya
Tidak semua orang boleh mengunjunginya
Dia hanya membuka pintu pada orang-orang yang dia mau
Dia melihat dunia dari balik kristalnya
Dunia yang sama sekali berbeda
Dunia yang keras dan kejam
Dunia yang penuh air mata dan darah
Dia hanya bisa menangis melihat semuanya
Berharap semuanya berubah dengan sendirinya
Supaya pekat yang menyelimuti kristalnya bisa hilang
Awan-awan kelabu itu bisa tersingkir
Dia tak bisa menyentuh
Tapi dia bisa merasakan semua itu dengan hatinya
Dia menghapus penderitaan dengan air mata
Dia memberikan darahnya untuk orang lain
Take everything you want from me
Karena untuk itulah dia hidup
Dia ingin semua orang seperti dirinya
Bahagia, gembira tanpa kesedihan, tanpa kemarahan
Di dalam hatiku lah gadis kecil dalam kristal putih berada
Semakin aku besar, semakin kecil dia
Dia menangis ketika aku sedih
Dia menangis ketika aku marah
Dia menangis ketika aku menderita
Dia diam di sana menjaga nuraniku
Dia tak mengerti dunia, dia tak mengerti apa-apa
Dia tak mengerti kenapa orang berubah
Dia tak mengerti kenapa orang manipulatif
Dia tak mengerti kenapa orang harus saling menyakiti
Dia tak mengerti kenapa orang saling menyalahkan
Dia tak mengerti kenapa orang melupakan yang lain
Dia tak mengerti…

Saturday, September 13, 2014

Site of oppression ... site of resistance ...

‘Site of oppression’ and ‘site of resistance’, dua kata itu membuat aku berefleksi tentang relasi antara mahasiswa dan dosen.
Mahasiswa buat aku adalah ‘a site of oppression’, suatu unit yang bisa aku ‘jajah’. Bisa aku minta berbuat sesuai dengan yang aku inginkan ‘for the sake of’ kurikulum, aturan yang ada, tujuan dan misi Fakultas, idealisme pribadi, dll. Jujur, banyak kali aku sebagai dosen menganggap mahasiswa adalah obyek sekaligus subyek pasif yang kutemui di kelas dan kujejali dengan apa yang tersurat di kurikulum, yang kusampaikan sesuai versi pemahamanku. Dan banyak kali aku bangga dan senang ketika mahasiswa itu mengangguk-angguk setuju. Apalagi waktu mid-term test atau final test dan mereka menjawab sesuai dengan apa yang aku ajarkan. Jawaban benar=nilai bagus=dosen berhasil. Sederhana bukan?
Dalam kegiatan mahasiswa, personally, aku sebagai dosen merasa mempunyai ‘privilege’ untuk memutuskan hal-hal apa saja yang ‘terbaik’ untuk mahasiswa. Aku lebih tua, lebih dewasa, lebih berpengalaman, lebih tahu.

Tapi pada saat yang sama sebenarnya aku ingin mahasiswa jadi ‘a site of resistance’, sebuah unit yang terus menerus melakukan ‘perlawanan.’ Di kelas, aku ingin mereka punya pemikiran kritis terhadap apa yang mereka terima. Bukan ungkapan seperti ‘dosennya mbuat ngantuk’, atau ‘kuliahnya mboseni’ seperti yang sering tertulis dalam unek2 mahasiswa (Lha kalau gitu aku juga bisa bilang ‘apa kamu pikir saya juga nggak enek ngeliat anda2 yang sering2nya cuma ngah-ngoh di kelas?’ :p…). Tapi lebih ke ‘Saya pikir teori yang ibu pakai itu sudah tidak cocok untuk situasi kami sekarang ini’ atau ‘Kenapa kita harus belajar ‘present tense’ dulu baru ‘past tense’? Bukannya kita lebih banyak pakai ‘past tense’ dalam percakapan sehari-hari?’
Di kegiatan mahasiswa, aku juga ingin dengar argument2 yang masuk akal tentang apa yang ingin mahasiswa kerjakan. Karena orang yang dianggap ‘smart’ adalah mereka yang mau dan mampu ‘Learn, Plan, Solve Problem’. Aku beberapa kali dilanda perasaan ‘tidak puas’ ketika mahasiswa yang mau berkegiatan hanya bilang ‘yes mam’ atau ‘kami menunggu ibu saja.’ Kok nurut banget ya? Kok nggak ada perlawanan? Ini sebenarnya ‘nurut’ apa ‘rusa buta’? (blind deer = no eye deer = no idea). Apa ini upaya menghindar dari tanggung jawab kalau ada apa-apa?

Memang tidak gampang buat aku yang dosen ini untuk duduk diam dan ‘patiently’ mendengarkan apa keinginan mahasiswa dan apa yang mereka rasakan. Sering kali waktu aku mendengar ‘unek-unek atau usulan mahasiswa’ yang ada dalam hatiku adalah ‘Halah! Kaya ngerti2o dhewe’ or ‘Kuwi maneh kuwi maneh… bosen ah’ or ‘Kowe ki ngerti apa?’ or ‘Kok mung ngono ya? Rak mutu babar blas.’ Aku sering lupa kalau aku dulu pernah juga (dan masih) pada posisi ‘goblok’, ‘bodoh’, ‘sok tau’, ‘ora mutu’; dan itu merupakan prosesku untuk jadi dewasa. Stage itu nggak bisa dilompati tapi harus dijalani. Saat ini aku sering mengingatkan diriku sendiri bahwa mahasiswa bukan obyek yang bisa aku suruh-suruh, aku perintah-perintah, aku manipulasi, aku tekak tekuk seenak udelku tetapi mereka juga HARUS ‘didengarkan’ dan diajak berembug. Karena dengan berkomunikasi inilah aku dan para mahasiswa ini bisa saling belajar untuk menerima perbedaan dan mencari penyelesaian dalam konflik sehingga kami bisa menjadi ‘dewasa’ bersama.


Nb. Aku meng-‘ignore’ fact that kedua kata ini dipakai dalam konteks dominant vs minoritas di dalam teori-teori seperti cultural studies, postcolonialm, feminism, karena aku merasa ragu untuk mengklaim bahwa dosen adalah ‘dominant’ sedang mahasiswa adalah ‘minority’ dalam konteks umum (diluar pengalaman pribadiku).

Saturday, August 9, 2014

not today

I love you always
But not today
Today I wanna break
From the things I know
From the things I do

Monday, June 23, 2014

Aku tak pulang untukmu

Aku adalah burung yang sudah terbang jauh dari sarangku.
Dan sarang yang dulu bukan lagi sarang yang aku kenal.
Sekalipun aku singgah ke sarang itu ditengah terbang panjangku,
Tempat itu tak lagi punya arti sama di hatiku,
Sama seperti kita berdua yang sudah menjadi orang-orang yang berbeda dengan berjalannya waktu…
Aku tahu kamu ingin aku pulang.
Aku pun ingin pulang.
Namun aku ingin kamu tahu satu hal.
Kalaupun aku pulang, aku tak pulang untukmu.
Aku pulang hanya untuk singgah sebentar untuk kemudian pergi lagi.
Singkatnya waktu singgahku tak memungkinkanku bersamamu.
Aku tak berani membuat janji.
Aku takut mengecewakanmu.
Aku takut membuatmu sedih.

Sunday, May 18, 2014

Flirting in FB

Flirting sama orang yang baru kenal di FB? Haha… nggak tahu ya. I am not a flirt, I am a serious person. Tapi kalau kepala lagi pusing dan otak sudah nggak sanggup merangkai kata lebih dari 5 kata berturut-turut, chatting yang nggak jelas sering terjadi. Meski most of the time I have my on-line chat off, ada aja yang sempat ‘menangkapku’ saat on-line chatku on. Biasanya melibatkan anak (ANAK) ingusan yang entah kenapa selalu tak pernah mengecek info FB-ku lebih dulu sebelum ngajak ‘chat’ atau mungkin mereka tak percaya sama info2 di FB yang sering menyesatkan. Check them out:
@-ike, FNG (fvking new guy)

1.
FNG - Thanx udh di-add
@ - sama-sama
FNG - Masih sekolah apa kerja?
@ - kerja
FNG - Dimana?
@- di semarang. Ngajar bahasa Inggris.
FNG - Pinter bahasa Inggris dong.
@ - ya gitu deh
FNG - Aku pengin belajar bahasa inggris
@ - bayar! :D
FNG - nggak gratis?
@ - tekor kl semua minta gratis.
FNG - Cuma buat aku
@ - business is business
FNG - Hahahahaha matre ternyata
@ - biar! :p

etc., etc….

2.
FNG – Hai
@ - Hai juga
FNG – rumahmu Manyaran?
@ - iya
FNG – rumahku juga di Manyaran.
@ - O ya?
FNG – main ke rumah boleh?
@ - aku sdg nggak di semarang
FNG – dimana?
@ - western Australia, sekolah
FNG – masak?
@ - eh bener ya. Dapat beasiswa.
FNG – kuliah?
@ - iya S3
FNG – udah tante2 ya ternyata
@ - jadi ibumu juga pantas :p
FNG – umurmu berapa?
@ - baca info dong. Infoku valid.
FNG – 20 apa 30-an?
@ - Lahir 1971
FNG – 30-an berarti ya?
@ - matematikamu pasti jelek ya :p
FNG – Pengin main ke Australia
@ - Ayok aja
FNG – Nggak punya uang

etc. … etc. …

3.
FNG – malam2 kok masih ol
@ - kamu juga ol
FNG – lagi apa?
@ - belajar
FNG – hahahahaha
@ - kok ketawa?
FNG – knp enggak?
@ - lg pusing kok diketawain 
FNG – terus harus apa?
@ - ya dihibur gitu
FNG – ya udah, diulang
@ - ak lagi pusing belajar 
FNG – belajar yang rajin biar nilainya bagus.
@ - yaaahhhh… gariinggg… :p

etc. etc…

Monday, April 21, 2014

Serpihan jiwa

Aku menawarkan padamu apa yang tak bisa kulakukan
Ketika tiba waktunya kau datang untuk menagih janjiku

Aku tak sanggup melihatmu
Tanpa melihatmu pun aku tahu apa yang kau lakukan
Kau berlutut dengan dua tangan terbuka didepan dada
Dua tangan dengan hatimu diatasnya
Memintaku untuk menerima hati itu

Bayangan rantai, pisau cukur, dan besi panas berkelebat di depanku
Aku bisa merasakan dinginnya rantai itu
Bahkan sebelum rantai itu mengikat tanganku
Aku bisa merasakan pedihnya kulit kepalaku
Bahkan sebelum rambut di kepala ini dicukur paksa
Aku bisa merasakan sakitnya luka bakar
Bahkan sebelum besi panas membara itu dicapkan di dada kiriku

Tidak…
Aku tak mau sakit
Tidak…
Aku tak mau menderita
Tidak…
Aku tak mau disalahkan

Aku tak mau melihatmu
Aku tak bisa menerima pemberianmu
Aku berdiri kaku kelu melantunkan kata ‘tidak’ dan ‘maaf’ ribuan kali
Aku membutakan mataku menulikan telingaku menumpulkan rasaku

Tapi aku tak mampu meninggalkanmu

Aku biarkan tubuh ini terkoyak perlahan
Hancur menjadi serpihan-serpihan kecil dan halus
Tak bernama tak berbekas
Ringan melayang tertiup angin
Terbang menjauh darimu dan hatimu

Kadang angin membawa sisa serpihanku di dekatmu
Aku bisa melihatmu
Aku bisa menyentuhmu
Aku bisa mendengar tawamu
Aku bisa merasakan airmatamu

Ada saatnya kau menyebut namaku
Ada saatnya kau memanggilku
Ada saatnya kau mengoyak hatimu
Hati yang tak pernah lagi kau simpan dengan baik
Hati yang kau biarkan liar menghancurkan banyak hati lain

Bahkan dalam bentuk serpihan pun aku harus membayar hutangku
Hutang yang tak pernah mau kubayar, hutang yang selamanya tak bisa kubayar

Aku tak punya mulut lagi untuk meminta maaf padamu
Aku tak punya mata lagi untuk menangis untukmu
Aku tak punya tangan lagi untuk memelukmu
Aku tak punya bibir lagi untuk mengecupmu
Aku tak punya hati lagi untuk mencintaimu

Aku merasa akulah yang salah
Aku merasa aku meninggalkanmu
Aku merasa aku menghancurkanmu

Kalaupun aku tetap harus membayar kesalahanku
Aku tak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan
Serpihanku bukan abu burung phoenix yang membakar diri
Yang bisa menjelma kembali menjadi burung muda nan indah
Serpihanku adalah debu yang tak mungkin disatukan lagi

Belum cukupkan aku membayar kesalahanku dengan hancurnya diriku?
Kenapa kau masih menuntutku untuk bertanggung jawab terhadap hidupmu?

Friday, April 4, 2014

For myself and my freedom ...

Forgive me for ignoring both of you ...

For putting both of you in the bottom of my to-do list ...

For placing both of you in the furthest corner of my heart ...

I hope it is temporary ...

Although I know it is scary ... please stay there and wait for me to come back...

Always trust that I won't lose both of you: 'myself and my freedom' in the way ...


Miss you much ...

Tuesday, March 18, 2014

Why do we ‘hate’ our rivers?

This Friday’s seminar is Stephen Dobb’s study on the river (or creek as he calls it.. :D…) of Singapore. He explained the functions of this river in Singapore with all the historical backgrounds around it. He described that many cafés, business and entertainment areas and amusement parks are built along this river which make it alive and look prosperous. Off course his point is not to promote Singapore and its river but all the difficulties related to freedom of press, speech and academic in Singapore when he did his study about the river.
All and all but it is the functions of that river which really struck me. I’ve never been to Singapore (one day I’ll go there) but I’ve seen other place where rivers are really developed nicely. 150 m from my now so called home, there is a beautiful playground where you can find a place to let your children roam free and free of charge. 50 m from that ground, there is a bird sanctuary and 100 m ahead there are two small jetties where the children and adults can simply enjoy; one small coffeeshop for a glass of hot chocolate or coffee; and many benches where people can sit down and enjoy the view.
Stephen’s story about the river made me think back about our river(s). A couple of years back then (thanks to PMLP), I joined a river cruise/excursion. We had two boats cruised along Banjir Kanal Barat river. A great experience but with very sad feeling at heart. To be honest, and it was true that the river was so dirty, full of trashes. The river smelled terriblly. It was so muddy. From the river, it was not beautiful view but ‘disgusting’ view of the city. Only on the way back when I faced the sea, I could enjoy the view of afternoon horizon.
I know that it is not fair to compare the river I enjoy in Crawley with the river I (did not) enjoy in Semarang. But I want to point put that it is our attitude toward the river(s) which matters. Somehow I feel that we do not love our rivers. It is not only the matter of throwing and dumping garbages and trashes to the river but the fact that we do not “LOVE” it. We only use it. It is there for us to take for granted. We never take our time to enjoy and love them. We do not treat them as something to enjoy but something to use and abuse. And it’s bad and sad.
While many houses along the Swan Rivers here are built deliberately to face the river (they are called Riverside houses; and they are expensive to rent and to buy), many houses along our rivers are built with their ‘back’ facing the river (as I also saw in Lasem). For me, it is as if we turn our back on the rivers, our rivers. Do we hate or do we feel ashamed to see our own rivers? Or else? I wonder why.


Ps. Thames river in London is a very busy, and highly polluted (I think) river surrounded mostly with working-class neighbourhood; added with a very gloomy atmosphere of London at winter certainly did not promise anything beautiful to see. Yet when I happened to pass it by, it was beautifully dark and gloomy with yellowish reflection of streetlamps. Meaning that it was enjoyable in its own sense. Lasem river was also enjoyable. I cruised along the river with pak TR and pak Adhy, some spots offered gorgeous views look like European-style playgrounds (some photos can be seen in the Java Institute website).

Wednesday, February 19, 2014

Time

Time passes by … without saying hello, without saying good bye… why don’t you stop by so we can talk about things you and I have been through… and just wait for me to come with you… I know I’ll go if you want me to… visiting places, visiting people…but now I just want you to stay … to stand still…

Monday, January 20, 2014

A poem for those involve in helping disaster's victims

Nature dances in its own beats
Singing songs of rage and fury
Infuse darkness and despair into feeble flesh

Hope sparks where no light could break in
The torch of eternal compassions
From hearts of those who care

When tears could not be blinked back
Let them roll for they will be wiped tenderly
When screams could not be muffled
Let them voiced for they will be soothed gently
When fears could not be veiled
Let them show for they will be eased lovingly
When hearts could not be mended
Let them break for they will be tended affectionately

For life is the most precious gift
And good deeds keep it going…

*For those involving in helping victims of disasters*

Sunday, December 15, 2013

Lagu Cinta Iwan Fals

Bosan mendengar lagu cinta yang mendayu-dayu dan ‘biru’ dan pake bahasa Inggris, aku ‘roamed’ lagu Indonesia. Dapat lagu2nya Iwan Fals. Di tengah ungkapan ‘Sialan!’ yang sempat terlontar waktu mendengarkan lagu-lagu cintanya, aku merasa ada nuansa maskulinitas yang kental di situ. Jujur aku berpikir bahwa mungkin memang kata-kata itu yang ada di benak laki-laki dan diucapkan oleh mereka; bukan hal-hal dan kata-kata romantis seperti yang didambakan oleh para gadis.

Contohnya di lagu Aku Sayang Kamu. Cara Iwan Fals menyanyi sih lempenggggg aja. Liriknya sungguh juga lempeenggg… tapi jujurrrrr booo… Ada rasa gemas di situ tapi manis… Check this part:

“Gampang naik darah. Omong tak mau kalah …. kalau datang senang nona cukup ramah. Bila engkau bicara …persetan logika… sedikit keras kepala. ah dasar betina…

Ku suka kamu sungguh suka kamu…

Langsat kuning cina warna kulit nona bibir merah muda lesung pipitpun ada
Wajah cukup lumayan dapat point 6 … kalau nona berjalan rembulan pun padam.” (Aku Sayang Kamu)

Point 6??? Mmmmm… fair enough… tapi ‘rembulan padam?’ haha … pujian yang menyenangkan…. Kalau ada cowok yang ngomong gitu ke aku, aku yang lagi pms-pun akan tersenyum dalam hati dan ‘luluh’ hatiku.

Lagu lainnya Mata Indah Bola Ping Pong. Nuansanya sama dengan lagu Aku Sayang Kamu. Sangat MENGGODAAA… jadi kalau ada cewek itu digoda, yang salah cewek itu sendiri ya??

“Jangan marah kalau kugoda sebab pantas kau digoda… salah sendiri kau manis punya wajah teramat manis. Wajar saja kalau kuganggu sampai kapan pun kurindu. Lepaskan tawamu nona agar tak murung dunia…

Engkau baik, engkau cantik. Kau wanita aku cinta. Aku puja kau betina. Bukan gombal hehehe… aku yang gila…Wajar saja kalau kuganggu biar mampus aku rindu….” (Mata Indah Bola Ping Pong)

Bukan bermaksud mengkhianati semangat ‘feminisme’-ku sendiri. Tapi lepas dari kata “Kurang ajar!’ yang sempat lepas dari bibirku, kata-kata yang ada di lagu2 Iwan Fals ini membuatku tersenyum… ‘naughty…naughty”…

Kalau lagu ini?

“Seperti biasa aku diam tak bicara hanya mampu pandangi bibir tipismu yang menarik. Seperti biasa aku tak sanggup berjanji hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini… entah esok hari … entah lusa nanti… entah…

Sungguh mati perempuanku… aku tak mampu beri sayang yang cantik seperti kisah cinta di dalam komik. Sungguh mati perempuanku … buang saja angan-angan itu lalu cepat peluk aku.” (Entah)

Wkwkwkwkwkwkwk… cowok banget… ngomongnya nggak jelas, orientasinya nyata … masak nggak bisa menjanjikan apa2 tapi yang dilihat ‘bibir cwe-nya’ … membuatku teringat pada salah satu kejadian waktu aku ‘kalap’ dan ‘meracau’ tak tentu didepan seorang cowok hanya untuk dapat komentar ‘bibirmu bagus’ … EH? Astaga??? Mana tatapan matanya seperti orang nggak sadar lagi, … jadilah aku balik kanan maju jalan … kabuuurrr...
N … referensi komikku adalah Kung Fu Boy … so … kisah cinta-nya seperti apa ya?
Nggak pentiiingggg…. Yang penting dipeluk … ooo… dipeluk … hohoho…

Coba check youtube deh kalo pengin denger lagu2nya.

Thursday, November 14, 2013

When Ike Wrote about Love

inilah hasilnya:


Kau belahan jiwaku
(meski aku lebih suka)
belahan dadamu
belahan pantatmu


Kau adalah diriku yang tak pernah kupunya
Kau adalah separuh jiwaku,
Kau adalah separuh nafasku,
No wonder I feel choked and strangled …
Because what I have left is just half of myself…
(translation: Pantas aku merasa sesak nafas dan tercekik … lha yang aku punya cuma separuh jiwa dan separuh nafas… kurang oksigen… ibarat game… kekuatannya cuma 50%)….


Kuberikan seluruh hatiku untukmu
Dan jangan salahkan aku kalau aku jadi kejam dan dingin
Aku sudah tak punya hati lagi


You’ll always be in my heart
Berdesak-desakan dengan semua orang lain yang sudah ada dihatiku…
Aduh … aduh …


I am sorry that I was a coward
For putting you into such a trouble
Never been able to say that I care

I just dropped these words
to let you know
‘I miss you’
And those words make me understand why I give you trouble and I can’t say that I care…
Because I ‘miss’ you terus… piye to?
(miss = kangen, miss = meleset, kelewatan, ketinggalan)


Kau pernah bertanya padaku apa jadinya aku kalau kau pergi
Aku jawab waktu itu bahwa aku akan merasa seperti kehilangan satu keping puzzle di hidupku
Aku akan sedih dan marah
Aku tak akan mau lagi dan mungkin tak mampu lagi merangkai 1000 keping puzzle itu menjadi gambar yang utuh
Pusing … tahu nggak? Kecil-kecil, bentuknya sama lagi… Mana pekerjaan lain masih banyak… Halah…kok pake ilang segala… … nyebelin…


I can never be a love fighter like you want me to
for I just wanna be a freedom fighter because it sounds lebih gahar….


Kau beri aku cinta
Kau beri aku makan
Kau beri aku minum
Kau beri aku baju
Kau orang Samaria yang baik hati … dan aku cewek matre

...
Cinta ini hanya kusimpan untukmu
The problem is: aku orangnya pelupa… dulu aku simpan dimana ya???


I love you
I SWEAR
F***, S***, D*****, S** of a B****, M*****f*****, %@&#)()$*&#^&@^^@
(swear = berjanji, swear = misuh, memaki)

….

Ternyata susah untukku yang ‘ndas sempal’ begini untuk mengekspressikan ‘hati’-ku yang sensitive dan romantis … dadadadada…. :D :D :D

Wednesday, October 9, 2013

Masihkan Kau Benci Selasa

Kau bilang kau benci hari Selasa.
Aku pikir itu lucu…
Kenapa Selasa? Kenapa tidak hari-hari yang lain?
Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, Senin?
Kenapa harus Selasa?
Apa karena di hari itu kau merasa harus bekerja lebih keras dari hari-hari lain?
Benarkah itu?
Bukankah setiap hari, apapun itu, membawa makna dan beban tersendiri buat hidup kita?
Aku ingin bilang padamu: ‘Aku sudah tak peduli pada hari-hari itu’

‘Have you ever measured your life with your heartbeats instead of clock?’*

Aku membiarkan hari-hari bernama itu lepas bebas
Aku membiarkan hari-hari bernama itu tanpa makna
Aku tak terikat hari… aku tak terikat waktu…
Aku memaknai hidup di setiap denyut jantungku dan di setiap tarikan nafasku…


Thanks 2 Oddy for the inspiration of ‘I hate Tuesday’ and Adimas K. for the phrase*…

Thursday, October 3, 2013

… eh ayamnya…

Buat orang-orang yang beragama Katolik (tak peduli yang bener2 taat or yang cuma ngaku2 karena nggak berani ngaku atheis karena masih takut dihujat orang or masih khawatir kalau ternyata neraka benar2 ada), pasti akrab dengan yang namanya ‘Pasio’ yang itu lho… bagian Injil yang biasanya dinyanyikan waktu minggu Palma dan Jumat Agung. Nah … ada cerita begini… di suatu Paroki (demi alasan etis, tidak aku sebutkan namanya) … ketika ‘Pasio’ pas di bagian Narrator menyanyikan ‘ayam berkokok’ , narrator itu keliru bernyanyi ‘Petrus berkokok’. Sebenarnya karena seluruh umat sedang serius dan karena pasio itu hal yang sudah diluar kepala selama bertahun-tahun, umat nggak terlalu memperhatikan. Cuma mungkin si narrator itu gugup karena tahu dia salah dia lalu meralatnya … so dia jadi melantunkan gini: ‘Petrus berkokok… (diam sejenak krn sadar kalau salah)…eh…ayamnya’ (coba aja dicoba dilantunkan pakai gaya Pasio) … Jadilah umat malah sadar kalau dia salah dan banyak yang ketawa….

Monday, September 30, 2013

Bed Of Roses

Songwriters: Bongiovi, Jon;

Sitting here wasted and wounded at this old piano
Trying hard to capture the moment this morning I don't know
'Cause a bottle of vodka is still lodged in my head
And some blond gave me nightmares, think that she's still in my bed
As I dream about movies
They won't make of me when I'm dead

With an ironclad fist I wake up and french kiss the morning
While some marching band keeps it's own beat in my head
While we're talking
About all of the things that I long to believe
About love, the truth, what you mean to me and the truth is
Baby you're all that I need

I wanna lay you down in a bed of roses
For tonight I'll sleep on a bed of nails
I wanna be just as close as your Holy Ghost is
And lay you down on a bed of roses

Well I'm so far away the step that I take's on my way home
A king's ransom in dimes I'd give each night
To see through this pay phone
Still I run out of time or it's hard to get through
Till the bird on the wire flies me back to
You I'll just close my eyes, whisper baby blind love is true

I wanna lay you down in a bed of roses
For tonight I'll sleep on a bed of nails
I wanna be just as close as your Holy Ghost is
And lay you down on a bed of roses

Well this hotel bar's hangover whiskey's gone dry
The barkeeper's wig's crooked
And she's giving me the eye
Well I might have said yeah
But I laughed so hard I think I died
Ooh yeah

Now as you close your eyes
Know I'll be thinking about you
While my mistress she calls me to stand in her spotlight again
Tonight I won't be alone
But you know that don't mean I'm not lonely
I've got nothing to prove for it's you that I'd die to defend

I wanna lay you down in a bed of roses
For tonight I'll sleep on a bed of nails
I wanna be just as close as your Holy Ghost is
And lay you down

I wanna lay you down in a bed of roses
For tonight I'll sleep on a bed of nails
I wanna be just as close as your Holy Ghost is
And lay you down on a bed of roses

http://www.elyrics.net/

Friday, September 20, 2013

Pintu Kaca

Kita bertemu hari itu setelah lama kau menghilang,
‘Dia sibuk show dengan band-nya.’
Kudengar teman-teman kita bicara tentangmu.
Waktu aku melihatmu hari itu kau nampak biasa saja, bercelana jeans lusuh dan baju biru muda yang selalu tampak kebesaran untukmu.
‘Ayo ikut aku,’ ajakmu.
‘Kemana?’ tanyaku ragu.
Sudah lama kita tidak bertemu dan tiba-tiba kau mengajakku pergi, aku tak tahu apa aku akan nyaman untuk pergi bersamamu.
‘Beli ‘pick’ gitar,’ jawabmu.
‘Mmm… oke,’ kataku setuju.
Membeli ‘pick’ gitar bukan kegiatan yang akan membuatku terjebak dalam pembicaraan basa-basi dan panjang lebar tentang kita atau orang-orang sekitar kita yang sedang tak ingin kubicarakan denganmu. Karena itu aku mau pergi bersamamu.
Kau sudah selesai membeli ‘pick’ gitar ketika tiba-tiba kau berjalan menuju ke grand piano yang sedang dipajang di toko alat musik itu.
Aku mengikutimu dengan bodoh.
Kau duduk di bangku piano dan kau melihat ke arahku.
Tatapanmu membuat aku menghentikan langkahku, tepat di sisi depan grand piano itu.

Dan kau memainkan ‘Bed of Roses’*…

Aku tidak ingat apa yang kurasakan waktu itu.
Aku tidak ingat apa yang kulakukan waktu itu.
Waktu seakan berhenti … semua tampak kabur…

Hal pertama yang kurasa setelah kau selesai dengan lagu itu adalah pipiku hangat.
Aku melihatmu, melihatmu tersenyum, melihat matamu berbinar indah.
‘Ayo,’ katamu menyadarkanku.
Kau berdiri dan menunjuk pintu dengan kepalamu.
Tiba-tiba kau berlari ke arah pintu…
‘AYO!’ katamu lagi.
Aku berlari cepat menyusulmu.
Kita sampai ke pintu kaca pada saat yang sama, aku mendorong pintu yang sebelah kiri dan kamu mendorong pintu yang kanan.
Kita tertawa saat kita mendorong pintu itu bersamaan, berlari keluar dan melepaskan pintu itu pada saat yang sama.
Senyap sejenak mencekam kita saat kita berhenti berlari dan menengok ke belakang, melihat dua pintu itu menutup cepat…
Kita diam tak berkata-kata.
Aku tahu kekhawatiranmu sama seperti kau tahu kekhawatiranku.

‘Kau takut kedua pintu kaca itu akan saling berbenturan dan pecah bukan?’

Kita berdua kembali tertawa keras dan meneruskan lari ke tempat motor kita di parkir setelah pintu kaca itu menutup dengan tepat, tanpa pecah…

= Sadarkah kau bahwa dulu kita seperti kedua pintu kaca itu? Kita bersama, bersebelahan, dan ada untuk yang lain… tapi kita rapuh dan beresiko untuk pecah jika kita berbenturan?=

* Bed of Roses adalah lagu grup Bon Jovi di album Keep the Faith.

Tuesday, September 10, 2013

Mencuri masa lalu

Lucu,

Hujan dan suara piano yang memainkan lagu yang tidak jelas itu tiba-tiba membuatku teringat padamu. Pada lagu yang pernah kau mainkan dengan grand piano di sebuah toko musik lebih dari 17 tahun yang lalu.
Waktu mungkin sudah mengikis ingatanmu tentang hari itu dan tentang aku tapi tiba-tiba… peristiwa itu segar di ingatanku.
Dan aku merindukanmu…
Karena itu kuijinkan diriku mencuri sedikit waktu di sela bebanku untuk sekedar mencari tahu tentangmu hari ini.
Membaca info tentangmu, melihat fotomu, melihat videomu, membuatku tahu bahwa kita tidak hanya terpisah jarak begitu jauh, tapi juga terpisah waktu dan peristiwa.
Namun masa itu… ketika kita masih muda dan ‘gila’ … pernah kita lalui bersama. Ada saat dimana kita saling memahami dan saling membutuhkan. Ada saat dimana kita berseberangan dan saling menyakiti. Mungkin itu memang tahapan hidup yang harus kita lalui.
Kau pergi ketika aku sudah tak begitu tahu lagi tentangmu. Kita masing-masing telah memilih jalan yang kita inginkan. Pilihan hidupmu dulu sempat mengejutkanku tapi aku yakin bahwa apapun yang terjadi kau pasti bertanggung jawab atas pilihanmu. Dan tampaknya itu yang terjadi. Aku lebih bisa memahamimu dan pilihanmu kini.
Meski aku masih merindukanmu namun sudah saatnya aku harus membiarkan waktu kembali bergulir ke masa kini dan terus bergerak….

May your day be a good day…